Keluarga Bayi Meninggal di RS Berencana Lapor ke Polisi

369
Pesona Indonesia
Relawan Komunitas Peduli Generasi menghantarkan jenazah Mustofa dari RSUDAM ke rumah duka. Foto: Komunitas Peduli Generasi/Facebook for Radar Lampung
Relawan Komunitas Peduli Generasi menghantarkan jenazah Mustofa dari RSUDAM ke rumah duka. Foto: Komunitas Peduli Generasi/Facebook for Radar Lampung

batampos.co.id – Devi Maela Suri, 39, ibu Mustofa, bayi 2 tahun 10 bulan yang meninggal dunia karena diduga salah obat mengaku kecewa terhadap pelayanan di RSUD Abdul Moeloek.

Salah satu pelayanan yang bikin kecewa adalah ketika si anak kritis, tidak segera dibawa ke ruang ICU (intensive care unit). Padahal warga Tanjungraya RT 06, Kedamaian, Bandarlampung yang sempat dirawat selama tiga hari itu didiagnosa sesak nafas dan demam tinggi hingga 40 derajat celcius.

Selain itu, tidak ada sungkup untuk membantu pernafasan anaknya sampai-sampai suaminya, Sugeng, harus mencari ke apotek-apotek yang tutup karena masih pagi.

“Jadi mereka sigapnya pas Subuh sebelum anak saya meninggal. Mereka bagging (memberi oksigen tambahan karena penderita tidak dapat bernafas secara spontan). Pihak dokter juga memompa dada. Setelah itu keluar darah hitam. Tak lama saya dikabari anak saya meninggal,” lirihnya seperti diberitakan Radar Lampung (Jawa Pos Group) hari ini (27/7).

Dia menyayangkan mengapa di rumah sakit terbesar di Provinsi Lampung itu tidak ada sungkup. Harusnya siap, bahkan klinik pun ada yang buka untuk keadaan darurat. Bila memang nggak ada, jangan orang tuanya yang cari, tim medisnya dong. Saya berharap ke depan petugas medis di ruang Alamanda siap,” kesalnya.

Sugeng, ayah bayi itu membenarkan dirinya pergi mencari ke apotek-apotek. Namun karena masih pagi, banyak yang masih tutup. “Saya dikabari istri untuk mencari sungkup. Memang Mustofa ini sempat kejang juga Mas,” tutur Sugeng.

Bungsu dari empat bersaudara itu pun menurut dia memiliki ketahanan tubuh yang lemah. Sejauh ini sudah tiga kali ia rawat jalan di RSUDAM. “Pernah Mas panas badan anak saya sampai 40 derajat. Memang dia sering panas,” ungkapnya.

Sugeng mengaku sudah pasrah atas apa yang dialami putra bungsunya ini. “Saya nggak nyalahin sapapun Mas. Nggak mau nyalahin A atau B. Kalau memang ini sudah jalan Mustofa ya, saya mengikhlaskan saja,” imbuhnya.

Dia melihat pihak RSUDAM sudah bekerja keras menangani Mustofa. “Jadi pas di masa kritis saya lihat tim dokter sudah berusaha keras menyelamatkan nyawa anak saya,” tuturnya.

Terpisah, Humas RSUDAM Achmad Sapri saat dikonfirmasi via telepon mengatakan untuk kasus pasien Mustofa ini sebenernya alat bantu selang oksigen saja sudah cukup. Tidak perlu sungkup. Namun demikian, ia mengaku belum mendapat laporan dari petugas ruang Alamanda. “Nanti akan saya cek dulu,” singkatnya. (jpg)

Respon Anda?

komentar