Memperkuat Jangkauan si Merah di Natuna, Menjaga NKRI

2427
Pesona Indonesia
Presiden Joko Widodo saat meninjau perairan natuna menggunakan KRI Imam Bonjol, Kamis (23/6/2016). Sumber Foto: AFP/istana presiden
Presiden Joko Widodo saat meninjau perairan natuna menggunakan KRI Imam Bonjol, Kamis (23/6/2016). Sumber Foto: istana presiden

“Natuna adalah bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jangan biarkan negara asing mencaploknya, walau hanya sejengkal. Semua pihak harus fokus ke Natuna. Natuna harus cepat dikembangkan sesuai dengan potensinya…” Presiden Jokowi.

MUHAMMAD NUR-AULIA RAHMAN, Natuna

“Cepatlah bangun, presiden mau datang.” Suara seorang ibu terdengar dari sebuah rumah tak jauh dari Dermaga Penangi di Kelurahan Penangi, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Kamis 23 Juni 2016 lalu. Jarum jam saat itu baru menunjukkan pukul 06.15 WIB.

“Kejap lagi lah mak, dingin, ujan,” jawab seorang bocah perempuan. Logat Melayu anak dan ibu ini terdengar masih kental.

“Halah…, kejap-kejap, mane boleh macam tuh, nanti tak bise selfi sama presiden, rugi,” jawab sang ibu lagi.

“Iyelah mak…,” jawab bocah perempuan ini.

Setengah jam kemudian, keluar seorang perempuan mengenakan baju merah bersama buah hati perempuannya yang mengenakan baju pink.

“Mudah-mudahan bisa foto sama presiden,” ujar wanita ini sambil menuntun anak perempuanya yang usianya kurang lebih 5 tahun. Ia menuju Dermaga Penangi, tempat presiden akan disambut. Tangan kirinya menggenggam smartphone.

Wanita itu kemudian bergabung dengan warga lainnya yang juga menanti kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu. Mereka memadati kawasan dermaga itu.

Mereka bercengkrama satu sama lainnya sembari menanti sang presiden datang di tegah gerimis yang masih membasahi bumi Penangi.

Malam hari sebelum Jokowi datang, Natuna memang diguyur hujan lebat diikuti angin kencang. Tapi semua itu tak menyurutkan semangat warga untuk menyambut kedatangan Presiden.

Tampak juga petugas keamanan dari kepolisian dan TNI berjaga-jaga, baik di darat maupun di laut.

Ya, Jokowi hari itu mamang punya agenda untuk bertemu warga sembari membagikan sembako, buku tulis, dan bantuan lainnya.

Agenda utamanya meninjau perairan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan, sekaligus menggelar rapat terbatas di atas kapal perang milik Indonesia yang berjaga di perbatasan tersebut.

Sekitar pukul 10.00 WIB, presiden tiba di badara Ranai, Kabupaten Natuna. Ia didampingi Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kepala Polri yang saat itu masih dijabat Jenderal Badrodin Haiti, dan tiga kepala staf TNI.

Tampak Gubernur Kepri Nurdin Basirun menjemput Jokowi, Bupati Natuna Hamid Rizal dan pejabat Kepri lainnya.

Dari Bandara, rombongan Jokowi langsung bergerak ke Pelabuhan Angkatan Laut di Ranai. Di sana Kapal Perang Indonesia (KRI) Imam Bonjol-383 menanti.

Setelah meninjau perairan Natuna dan rapat di KRI Imam Bonjol, Jokowi kembali ke darat dan menyempatkan salat zuhur di Masjid Agung Natuna. Jokowi dan rombongan juga menyapa warga Penangi sekaligus memberikan bantuan sembako, buku tulis dan lainnya.

Nah, tampak perempuan berbaju merah bersama anak perempuannya yang berbaju pink berhasil foto bareng dengan Jokowi. Wajahnya berbinar.

Begitupun warga lainnya yang berebut selfie dengan Jokowi yang memang baru kali pertama berkunjung ke Natuna.

Warga berebut foto bareng dengan Jokowi saat mengunjungi Natuna, Kamis (23/6/2016). Foto: istimewa
Warga berebut foto bareng dengan Jokowi saat mengunjungi Natuna, Kamis (23/6/2016). Foto: istimewa

***

Natuna belakangan ini memang menjadi sorotan setelah serangkaian penangkapan nelayan asing oleh TNI AL, Polair, maupun Satgas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang kedapatan mencuri ikan di Zone Ekonomi Eksklusive (ZEE) Natuna yang berbatasan langsung dengan laut Cina Selatan. Baik itu nelayan asal Thailand, Vietnam, Malaysia, Cina, dan negara-negara yang berbatasan langsung dengan Natuna.

Sudah puluhan kapal asing pencuri ikan di wilayah NKRI itu ditangkap kemudian ditenggelamkan dengan cara diledakkan sebagai wujud langkah tegas pemerintah menjaga kedaulatan dan kekayaan alam Indonesia di Natuna.

Puncaknya ketika insiden penangkapan nelayan Cina di ZEE yang diklaim Cina sebagai wilayah penangkapan ikan tradisional mereka. Meski sempat terjadi ketenganan antara TNI AL dengan penjaga pantai Cina, namun tidak sampai terjadi kontak senjata. Hanya beberapa tembakan peringatan yang dilontarkan TNI AL saat menghentikan nelayan-nelayan mereka yang lari setelah kepergok mencuri ikan di wilayah NKRI di Natuna itu.

Natuna tidak hanya kaya ikan dan aneka ragam hayati di lautnya (termasuk ikan mahal seperti ikan Napoleon), tapi juga kaya minyak dan gas. Data kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)di perairan Natuna saat ini ada 16 blok migas. Lima blok sudah berproduksi, sementara 11 blok masih proses eksplorasi.

Tak hanya itu, cadangan gas untuk Blok D-Alpha saja mencapai 222 trillion cubic feet (TCF) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCF.  Blok tersebut disebut-sebut sebagai cadangan migas terbesar di Asia.

Potensi wisatanya juga tak kalah besarnya dari Bali maupun destinasi wisata lainnya di tanah air maupun mancanegara. Data Pemerintah Kabupaten Natuna menyebutkan, Kabupaten Natuna memiliki luas wilayah 264.198,37 kilo meter persegi dengan luas daratan 2.001,30 kilometer peresgi dan lautan 262.197,07 kilometer persegi dengan Ibukota Ranai.

Secara geografis, posisi Natuna juga terbilang strategis karena berbatasan langsung dengan beberapa negara. Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan. Sebelah selatan dengan Kabupaten Bintan. Sebelah barat dengan Semenanjung Malaysia, dan Sebelah timur dengan Laut Cina Selatan.

Dari luasan tersebut, Natuna memiliki 154 pulau, dengan 27 pulau (17,53 persen) berpenghuni. Sisanya 127 pulau tak berpenghuni. Semuanya tersebar di 12 kecamatan. Mulai dari Kecamatan Midai, Bunguran Barat, Bunguran Utara, Pulau Laut, Pulau Tiga, Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, Bunguran Tengah, Bunguran Selatan, Serasan, Subi, hingga Serasan Timur.

Dari jumlah pulau itu, hanya ada dua pulau berukuran besar, yakni Pulau Bunguran dan Pulau Serasan. Pemkab Natuna mengelompokkan pulau-pulau tersebut dalam dua gugusan pulau, yakni Gugusan Pulau Natuna yang terdiri dari pulau-pulau di Bunguran, Sedanau, Midai, Pulau Laut, dan Pulau Tiga.

Kemudian gugusan Pulau Serasan yang terdiri dari pulau-pulau di Serasan, Subi Besar, dan Subi Kecil.

“Hampir semua pulau-pulau di Natuna dikelilingi pantai yang indah dengan pasir putih, terumbu karang dengan aneka ragam hayati masih alami, lautnya jernih dan bersih,” ujar Hamid Rizal, Bupati Natuna, Senin (25/7/2016) di Ranai.

Hamid menyebut beberapa objek wisata yang bisa memanjakan para wisatawan antara lain: Pantai Sisi yang air lautnya biru dengan hamparan pantai pasir putih sejauh mata memandang, Tanjung Senubing yang disebut sebagai ‘The Most Exotic Stone’, Pantai Sengiap di Bunguran Timur juga dengan pantai yang bersih dan air laut yang jernih, Pantai Sahi di Bunguran Timur Laut yang menghadap Laut Cina Selatan, Alif Stone Park, Pantai Batu Kasah atu disebut juga Pantai Cemaga di Bunguran Selatan, Pulau Senua dengan wisata bahari yang benar-benar eksotis, Pantai dengan bebatuan indah di Batu Sindu, dan masih banyak lagi.

“Semua pulau di Natuna indah nan eksotis. Banyak yang menyebut ‘sepotong surga’ yang jatuh di Natuna,” ujar Hamid Rizal.

Dengan potensi hasil laut yang melimpah, migas yang melimpah, dan alam yang indah, Natuna memang diicar banyak negara. Apalagi Migas masih menjadi andalan sumber energi primer di dunia.

***

Bupati Natuna, Hamid Rizal. foto:aulia rahman/batampos
Bupati Natuna, Hamid Rizal. foto:aulia rahman/batampos

Hamid Rizal mengakui menjaga kekayaan dan kedaulatan NKRI di Natuna memang membutuhkan kerja keras. Wilayah Natuna yang luas dan didominasi laut membuat TNI AL, Polair, tim Bakorkamla, Satgas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) harus bekerja keras untuk mengamankan kekayaan alam Natuna tersebut. Butuh armada yang banyak, biaya yang besar, dan personel yang banyak.

Kerja keras itu banyak membuahkan hasil, namun ada saja celah bagi nelayan-nelayan asing untuk mencuri kekayaan laut Natuna. Termasuk di ZEE wilayah Timur, Timur Laut, dan Selatan Natuna yang sebagian dimasukkan Cina sebagai wilayah tangkapan ikan tradisional mereka– yang ditandai dengan garis-garis putus di peta negara mereka. Dikenal juga dengan nama nine dash line (sembilan garis putus-putus/demarkasi) yang salah satunya masuk ZEE Natuna. Nine Dash Line ini juga membelah ZEE negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Brunei.

Secara hukum laut Internasional, garis-garis putus yang mengambil sebagian ZEE Natuna diakui sebagai wilayah ZEE Natuna. Namun karena Cina merasa memiliki wilayah itu sejak 1940-an seperti yang tertuang dalam buku putih mereka soal Laut Cina Selatan, nelayan Cina kerap masuk ke zona itu menangkap ikan.

Saat dilakukan penegakan hukum oleh TNI AL, Polair maupun kesatuan lainnya, di sanalah sering bersinggungan dengan Coast Guard Cina yang terkesan melindungi nelayan-nelayan mereka.

Hamid Rizal menilai, peran serta masyarakat yang tersebar di pulau-pulau, khususnya nelayan sangat penting dalam mejaga kekayaan alam dan wilayah NKRI di Natuna dari gangguan asing. Nelayan adalah mata telinga bagi pemerintah. “Mereka radar hidup untuk menjaga NKRI,” ujar Hamid Rizal.

Ia mengakui kesadaran masyarakat untuk melaporkan berbagai pelanggaran di laut oleh nelayan asing maupun kapal asing sudah cukup baik. Meski masih mengandalkan bantuan radio yang kemampuan atau jangkauan radio nelayan satu dengan nelayan lainnya berbeda-beda. Hanya beberapa dari 5.775 nelayan yang dilengkapi radio dengan jaungkauan luas. Itupun hanya berupa voice.

Hal ini dibenarkan Danlanal Ranai, Kolonel Laut (P) Arif Badrudin. Dalam beberapa kasus pencurian ikan maupun penerobosan wilayah NKRI di Natuna, hasil laporan nelayan. “Iya, banyak kasus illegal fishing yang kami tangani berkat laporan nelayan menggunakan radio,” kata Danlana, Selasa (26/7/2016) di Ranai, Natuna.

Bagaimana dengan operator seluler? Khususnya Telkomsel yang memiliki tagline: Paling Indonesia dan Paling Luas Jangkauannya? Hamid Rizal membeberkan, beberapa operator besar sudah menancapkan towernya di daratan Natuna. Khususnya di ibukota Natuna, Ranai, dan ibu kota masing-masing kecamatan.

Keberadaan operator selular itu diakui Hamid Rizal sangat membantu komunikasi masyarakat dari satu pulau ke pulau lainnya di Natuna, maupun ke kota lain di Indonesia, hingga mancanegara. Termasuk dengan jajaran pemerintahan di Natuna. Warga di pulau-pulau terjauh bisa melaporkan perkembangan di daerahnya, maupun persoalan yang membutuhkan peran Pemda Natuna.

“Apalagi Telkomsel saya akui paling dominan, paling banyak towernya, paling luas jangkauannya di Natuna. Bahkan ada towernya di beberapa pulau terluar,” kata Hamid Rizal.

Persoalannya di Natuna, rata-rata operator masih menggunakan teknologi satelit yang rentan cuaca, sehingga kadang kala sinyal kurang bersahabat disaat cuaca buruk.

Selain itu, operator selular belum menjangkau seluruh Natuna, khususnya di perbatasan atau ZEE Indonesia di Natuna.

“Telkomsel memang masih yang paling luas jangkauannya dari operator lain, saya akui itu. Tapi belum sampai ke ZEE,” kata Hamid.

Jika seluruh wilayah perbatasan atau ZEE Indonesia di Natuna terjangkau sinyal operator selular, apalagi jika terjangkau layanan 3G atau 4G, Hamid mengatakan dengan mudah nelayan memberikan informasi apapun terkait pelanggaran kedaulatan negara oleh orang asing atau nelayan asing kepada pihak kepolisian (Polair), TNI AL, dan satuan tugas pengamanan laut lainnya.

“Tak hanya voice, tapi juga data (gambar, video, red),” ujarnya. Ia mengaku itu impian masyarakat Natuna ke depan, khususnya yang beraktivitas mencari ikan mendekati wilayah perbatasan atau di atas 10 mil laut.

“Kalau itu terkabul, mata dan telinga atau yang saya sebut tadi radar hidup itu makin tajam. NKRI makin terjaga,” katanya.

Hamid Rizal menambahkan, satu hal yang tak ternilai jika seluruh wilayah Natuna terjangkau layanan operator seluar hingga ke ZEE adalah, menambah rasa percaya diri nelayan melaut maupun pelaut Indonesia. Mereka mengetahui dengan pasti laut yang mereka layari masih kadaulatan negara Indonesia. Sekaligus menjadi petunjuk kalau mereka tak masuk wilayah kedaulatan negara lain.

“Bisa buka peta secara online dan aplikasi lainnya yang berguna bagi nelayan. Lagian saat kita buka ponsel atau smartphone sinyalnya masih ada dari operator negara kita, bangga kita, sayang kita dengan negeri ini,” kata Rizal.

Begitupun sebaliknya, nelayan asing dan kapal asing lainnya yang melintas di perairan Indonesia di Natuna, bisa dengan cepat mengetahui kalau mereka memasuki wilayah Indonesia. Sehingga otomatis menjadi alarm bagi mereka kalau mereka telah melanggan wilayah NKRI.

“Kan terkejut juga warga asing atau nelayan asing (tak punya izin, red) kalau buka handphone ternyata masuk pesan dari operator selular dari negara kita: welcome to Indonesia atau welcome to Natuna dan di atas tertera operator Telkomsel. Terasa lebih Indonesianya,” ujar Hamid sambil tersenyum.

Tak hanya itu, keindahan Natuna juga bisa dieksplor warga untuk menarik wisatawan berkunjung ke Natuna. Bahkan tak hanya berkunjung, akan banyak investor yang bakal tertarik berinvestasi membangun resort atau pulau private seperti yang sudah ada di beberapa pulau di Natuna saat ini.

“Wonderful Natuna kalau viral dengan cepat mendunia, makin maju Natuna,” katanya.

Ketua DPRD Natuna Yusripandi juga mengakui keberadaan operator seluler di Natuna sangat membantu. Khususnya Telkomsel yang jangkauannya lebih luas sehingga tidak hanya komunikasi voice, data juga sudah bisa.

Namun Yusripandi juga menyebutkan hingga saat ini masih ada titik blank spot atau tak ada sinyal sehingga komunikasi voice apalagi data masih terkendala. Khususnya beberapa mil laut dari pantai hingga ke perbatasan atau ZEE Indonesia di Natuna.

“Kalau bisa layanan 3G Telkomsel dioptimalkan, sekalian 4G-nya, kami juga mau. Apalagi pembangunan Natuna ke depan pesat. Kami berharap towernya diperbanyak,” pinta Yusripandi, Senin (25/7/2016) di Ranai.

Danlanal sependapat dengan Bupati dan Ketua DPRD Natuna. “Akan lebih hebat kalau operator selular sinyalnya bisa menjangkau ZEE Indonesia di Natuna. Informasi akan lebih cepat dan lebih akurat dari warga khususnya nelayan selaku mata telinga pemerintah. Nelayan, pemerintah, dan kami sangat terbantu,” kata Danlanal.

Yanto, nelayan tradisional di Ranai, juga mengakui Telkomsel menjadi operator seluler andalan bagi nelayan saat melaut di perairan Natuna. Apalagi jika melaut mencari ikan masih di wilayah di bawah 10 mil laut.

“Kalau musim ombak besar itu kan mengerikan. Keluarga jadi tak tenang, kalau masih di wilayah yang ada sinyal, kami masih bisa berkomunikasi, mengabarkan kondisi kami supaya keluarga tenang. Juga bisa mengabarkan ke toke (bos) kami hasil tangkapan kami,” kata Yanto, Selasa (26/7/2016).

Namun, disaat melaut lebih dari 10 mil laut, sinyal operator terbaik dari Telkomsel pun sudah hilang timbul. Semakin jauh ke wilayah perbatasan  semakin hilang.

Sementara, wilayah di atas 10 mil itulah, nelayan-nelayan asing beroperasi di Natuna dan sering dijumpai oleh nelayan. “Memang beberapa dari kami punya radio, itupun jangkauannya kadang terbatas,” katanya.

Komunikasi dengan radio juga terbatas pihak yang bisa dihubungi. Hanya terhubung dengan sesama nelayan yang memiliki radio dan TNI AL atau Polair yang juga memiliki radio. Sementara dengan keluarga tidak, karena rata-rata keluarga nelayan di rumahnya tak memiliki radio, hanya ada di kapal-kapal nelayan.

“Kalau sinyal operator selular menjangkau wilayah perbatasan atau di atas 10 mil laut, nyaman sekali kita melaporkan kalau ada nelayan asing yang mencuri ikan. Tinggal kita foto, kirim ke petugas (TNI AL, Polair), langsung ketahuan kapalnya, posisinya. Begitupun kalau kita ada masalah di laut,” ujar Yanto.

Bambang, nelayan asal Pulau Laut, Natuna, juga mengatakan betapa pentingnya komunikasi bagi nelayan, khususnya bagi nelayan di Pulau Laut yang memang terpisah jauh dari pusat pemerintahan Natuna. Pulau laut berbatasan langsung dengan Vietnam.

“Di Pulau Laut cuma ada Telkomsel, kami memang cukup terbantu, tapi melaut hingga ke laut lepas sinyal terbatas,” kata Bambang, Rabu (26/7/2016) saat berada di Ranai.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Natuna, Zainuddin, juga mengakui betapa pentingnya perangkat komunikasi bagi nelayan. Selama ini, nelayan memang masih mengandalkan radio antar penduduk Indonesia (RAPI).

“Ada juga Marine Radio. Kemampuan dan jangkauannya beda-beda, ada yang luas ada yang terbatas,” katanya, Rabu (27/7/2016).

Namun, sehebat apapun perangkat radio nelayan, hanya berupa percakapan (voice) yang bisa dilakukan. “Senang sekali kalau sinyal operator selular  itu kuat, menjangkau seluruh Natuna hingga ke perbatasan negara tetangga. Itu harapan kami dari dulu,” ujarnya.

Zainuddin mengakui, anggotanya yang berjumlah 5.775 nelayan itu kerap berhadapan dengan cuaca buruk saat melaut dan nelayan asing yang mencuri ikan di perairan Natuna, khususnya di ZEE di wilayah Timur Laut hingga Selatan Natuna.

Kapal nelayan asing itu rata-rata berbobot besar dengan kapasitas di atas 150 GT. Bahkan ada yang sampai 300 GT. Sementara nelayan tradisional Natuna masih di bawah 10 GT. Alat tangkap nelayan asing juga jauh lebih modern dan berpotensi merusak lingkungan.

Bayangkan jika 5.775 nelayan Natuna ditambah nanti 6.000-an nelayan dari Pantai Utara Pulau Jawa yang akan dikirim pemerintah menangkap ikan di perairan Nartuna, maka mata telinga pemerintah untuk menjaga NKRI semakin tajam dan kuat.

“Kami nelayan ini kan CCTV terapung di laut. Kalau operator selular bisa menjangkau semua wilayah Natuna hingga ZEE, betapa terbantunya pemerintah menjaga kekayaan dan kedaulatan NKRI di Natuna. Dengan cepat kami bisa melaporkan berbagai hal di laut ke TNI AL atau pemerintah,” kata Zainuddin.

Tak hanya dari aspek kecepatan informasi menyangkut kedaulatan NKRI di Natuna, Zainuddin menilai jika operator selular menjangkau seluruh wilayah Natuna hingga ke perbatasan (ZEE), maka ekonomi nelayan juga bisa terangkat dengan cepat.

Ia mencohkan jika tangkapan nelayan tiba-tiba banyak, tinggal menghubungi kapal pengumpul ikan untuk menjemput tangkapan mereka untuk dibawa ke pelabuhan perikanan.

Begitupun saat nelayan kehabisan es, logistik, atau terjadi kerusakan mesin. Nelayan tidak perlu menghabiskan bahan bakar minyak (BBM), tenaga, hingga waktu untuk bolak balik.

Apalagi, saat ini di Selat Lampa Pulau Tiga, sedang dibangun Pelabuhan Perikanan Terpadu tipe A atau tipe Samudera yang dilengkapi tempat penyimpanan ikan berkapasitas besar.

“Itu usulan kami HNSI waktu jaman Pak SBY jadi presiden. Alhamdulillah diwujudkan pak Jokowi. Sekarang sudah mulai dibangun,” ujarnya.

Tak hanya itu, jika operator selular menjangkau ZEE Natuna, transaksi bisa dilakukan dengan cepat karena bisa mengirimkan gambar atau video hasil tangkapan, sehingga pembeli bisa menaksir harga yang pantas. Hitung-hitungan keuntungan pun bisa ditaksir. Terlebih saat ini, banyak aplikasi menarik untuk para nelayan.

Zainuddin juga menyebutkan, pihaknya juga telah mengusulkan kepada pemerintah agar ada penambahan 80 kapal berkapasitas besar namun ramah lingkungan. Bantuan-bantuan kapal itu nantinya dilengkapi sarana komunikasi yang jauh lebih baik dari teknologi radio yang dipakai saat ini.

“Impian kita tetap besar pada operator selular. Jangan berhenti di daratan atau kabupaten hingga kecamatan saja, jangkau jugalah laut luas Natuna ini, biar seluruh nelayan bisa merasakan manfaatnya,” pintanya.

Zainuddin yakin, setelah kunjungan Jokowi dan sejumlah menteri Kabinet Kerja pada 23 Juni 2016 lalu, Natuna bakal berkembang pesat. Apalagi beberapa petinggi kementerian, sudah beberapa kali datang ke Natuna menindaklanjuti hasil kunjungan presiden Jokowi.

Gubernur Kepri, Nurdin Basirun dalam beberapa kali pertemuan dengan HNSI menyatakan pemerintah Jokowi-JK punya komitmen mempercepat pembangunan Natuna, khususnya sektor perikanan, migas, pertahanan, dan pariwisata.

“Kami optimis industri perikanan Natuna akan maju. Pelabuhan besarnya sudah mulai dibangun,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Kepri Nurdin Basirun yang ditemui setelah Jokowi dan rombongan kembali ke Jakarta usai berkunjung ke Natuna 23 Juni lalu membenarkan kalau ia dan Pemkab Natuna diminta fokus pada pembangunan Natuna, khususnya sektor kelautan.

“Semua sektor nanti akan tumbuh,” kata Nurdin.

Ia juga meminta seluruh warga Natuna, khususnya di pulau terluar dan nelayan membantu pemerintah menjaga kedaulatan NKRI di Natuna. Caranya, memberikan informasi dengan cepat apapun yang mengancam kedaulatan NKRI.

“Natuna adalah bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jangan biarkan negara asing mencaploknya, walau hanya sejengkal. Semua pihak harus fokus ke Natuna. Natuna harus cepat dikembangkan sesuai dengan potensinya…,” ujar Nurdin, menirukan pesan Presiden Jokowi.

***

Executive VP Telkomsel Sumatera Area Bambang Supriogo (tengah), Manager Network Telkomsel Batam Andreas S Saing (kanan), General Manager Sales Regional Sumatera Bagian Tengah, M. Syawaluddin (dua dari kiri), dan jajaran Telkomsel saat memberikan keterangan terkait mudik lebaran dan kondisi Telkosmel terkini, Sabtu (2/7/2016) di grhaPARI Telkomsel Batam Centre. Foto: yusuf hidayat/batampos
Executive VP Telkomsel Sumatera Area Bambang Supriogo (tengah), Manager Network Telkomsel Batam Andreas S Saing (kanan), General Manager Sales Regional Sumatera Bagian Tengah, M. Syawaluddin (dua dari kiri), dan jajaran Telkomsel saat memberikan keterangan terkait mudik lebaran dan kondisi Telkosmel terkini, Sabtu (2/7/2016) di grhaPARI Telkomsel Batam Centre. Foto: yusuf hidayat/batampos

Di kesempatan berbeda, operator selular terbesar di Indonesia, Telkomsel, membeberkan sudah melakukan berbagai upaya untuk menguatkan jangkauan sinyal Telkomsel di seluruh Natuna. Jauh sebelum muncul persoalan nelayan asing di Natuna, Telkomsel sudah hadir memberi solusi kemudahan berkomunikasi.

“Jujur saja, kami lebih baik dari kompetitor yang ada di sana,” ujar Andreas S Saing, Manager Network Telkomsel Batam yang wilayah kerjanya juga sampai ke Natuna dan Anambas, serta wilayah lainnya di Kepri, Sabtu (2/7/2016) di Gedung grhaPARI Telkomsel Batam Centre.

Andreas mengungkakan, Telkomsel bahkan berani berinvestasi dengan membangun tower-tower di pulau terluar, demi untuk memudahkan masyarakat berkomunikasi. Bahkan, dalam beberapa kali ujicoba signal, Telkomsel jauh lebih unggul, baik voice maupun data. Termasuk dalam hal kapasitas dan kualitas layanan komunikasi voice dan data.

“Kami hadir di semua ibukota kabupaten hingga kecamatan-kecamatan, bahkan pulau terluar yang penduduknya sedikit,” kata Andreas.

General Manager Sales Regional Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng), M. Syawaluddin, di tempat yang sama juga membenarkan Andreas.

“Secara bisnis kami rugi ratusan juta per bulan karena kita pakai satelit. Itu lebih mahal. Tapi demi melayani masyarakat hingga pulau terluar Natuna, demi NKRI, kami tetap investasi dan terus memperbaiki layanan,” ujar Syawal.

Meski Telkomsel masih menjadi yang terbaik dan terbesar serta terluas di Indonesia termasuk di Natuna, Syawal maupun Andreas mengakui masih ada beberapa titik yang sinyalnya kurang kuat, dan  belum menjangkau hingga ke ZEE Natuna.

Persoalannya, bukan terletak pada keenganan Telkomsel memperluas jangkauan hingga ke ZEE, namun keterbatasan infrastruktur pedukung lainnya. Terutama akses fiber optik. Padahal fiber optik (FO) yang jauh lebih baik dari satelit.

“Satelit itu memang rentan, tapi apa boleh buat, itulah teknologi terbaik saat ini yang bisa kita gunakan di Natuna, meski berbiaya mahal,” kata Syawal.

Akses fiber optik, sebenarnya ada di Natuna. Milik Sacova dari negara tetangga Malaysia. Kabel fiber optik itu membentang dari Mersing, Johor, melintasi Pulau Jemaja-Pulau Siantan-Natuna, dan berakhir di Kampung Buntal, Kuching.

Untuk bisa mengunakan kabel FO itu, Andreas menyampaikan butuh kebijakan pemerintah pusat dan prosesnya tidak mudah. “Kalau kami operator siapa kapapun kalau memang secara regulasi bisa diakses dan segala sesuatunya bisa disepakati, kami sangat siap,” ujar Andreas lagi, yang diamini Executive Vice President Telkomsel Sumatera Area, Bambang Supriogo.

Jika sudah menggunakan FO, Bambang Supriogo menjamin, jangkauan layanan komunikasi Telkomsel bisa menembus hingga perbatasan, termasuk ZEE.

“Prinsipnya, kami di Telkomsel akan terus berbuat yang terbaik untuk masyarakat dimanapun itu, termasuk Natuna,” tegasnya.

Peta Proyek Palap Ring Kementeria Kominfo. Sumber: Kominfo
Peta Proyek Palap Ring Kementeria Kominfo. Sumber: Kominfo

Namun Bambang meyakinkan masih ada harapan besar untuk membenahi sistem komunikasi di Natuna menjadi lebih baik melalui akses serat optik bawah laut dan darat yang akan mulai dibangun Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) melalui proyek besarnya bernama Palapa Ring.

Karena proyek itu milik Pemerintah Indonesia, maka operator selular seperti si merah Telkomsel yang juga mayoritas sahamnya milik merah putih (Indonesia), akan lebih mudah mengaksesnya. Prosesnya tak akan serumit jika menggunakan FO milik negara lain.

Apalagi tujuan proyek besar broadband Kominfo itu memang untuk mempercepat akses komunikasi seluruh wilayah di Indonesia. Khususnya wilayah-wilayah yang akses komunikasinya masih tidak sehebat kota-kota besar. “Kami akan memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Proyek Palapa Ring Kominfo untuk wilayah Riau dan Kepri termasuk Natuna masuk wilayah Barat. Data kementrian Kominfo menyebutkan, total panjang kabel serat optik sekitar 2.000 km. Pengerjaan proyek ini memakan biaya kurang lebih US$ 40,39 juta.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Perhubungan dan Kominfo Pemkab Natuna M Amin mengatakan proyek Palapa Ring Kementerian Kominfo untuk Natuna mulai dilaksanakan Agustus 2016 mendatang.

Pemkab Natuna sudah berkoordinasi dengan kementerian dan menetapkan lokasi landing point untuk dibangun infrastruktur di Penarik, Kecamatan Bunguran Selatan. Jaraknya sekitar 500 meter dari base kabel optik milik Sacova Malaysia.

“Lahan untuk landing point kabel bawal laut sudah kita bebaskan, mudah-mudahan Agustus nanti mulai dibangun,” kata Amin, Jumat (17/6/2016).***

Respon Anda?

komentar