Miris! Ruangan Kelas Sebesar Ini Hanya Diisi Satu Orang Siswa

366
Pesona Indonesia
Ruang kelas VII pada SMP Miftahuttaqwa di Jalan Muchan Ali, Gg Attarbiyah Sampit, hanya dihuni satu siswa dan satu guru. (Foto: Radar Sampit)
Ruang kelas VII pada SMP Miftahuttaqwa di Jalan Muchan Ali, Gg Attarbiyah Sampit, hanya dihuni satu siswa dan satu guru. (Foto: Radar Sampit)

batampos.co.id – Ketimpangan jumlah murid yang sangat jauh terjadi akibat persaingan tidak sehat antara sekolah swasta dan negeri di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Di saat sekolah negeri dibanjiri anak didik, tak demikian halnya dengan sekolah swasta. Beberapa sekolah swasta mengaku mengalami penurunan peminat siswa baru.

Bahkan, ada di antaranya yang hanya mampu menjaring satu siswa baru. Itu terjadi di SMP Miftahuttaqwa di Jalan Muchan Ali, Gg Attarbiyah Sampit.

Saat Radar Sampit (JPNN Group) mendatangi SMP itu, Selasa (26/7) kemarin, fakta memilukan terlihat. Ruangan yang cukup besar hanya ada satu siswa dan satu guru. Hal itu seakan tak mencerminkan suasana ruang belajar.

Meski begitu, hal tersebut tak memengaruhi proses belajar mengajar. Guru perempuan berjilbab itu tetap menjalankan tugasnya mentrasfer ilmu kepada satu-satunya peserta didik di sekolah tersebut.

Salah seorang staff di sekolah tersebut yang enggan di korankan namanya mengaku penurunan peminat siswa baru sudah beberapa tahun terjadi. Terutama sejak sekolah negeri melakukan permintaan penambahan kuota. Seperti yang terjadi pada penerimaan siswa baru tahun ini.

“Penambahan kuota di sekolah negeri berimbas ke sekolah kami. Masyarakat pasti lebih memilih sekolah yang lebih bagus terlebih dahulu, jadi kami cuma dapat sisanya,” ucapnya.

Kondisi serupa juga terjadi di MTs Swasta Nurul Ummah Jalan Suprapto Sampit. Sekolah tersebut mendapat jatah dua rombongan belajar (rombel) atau setara dengan 72 siswa.

Tapi jumlah siswa baru yang didapatkan hanya sepuluh orang. Padahal bangunan dan fasilitas di sekolah tersebut cukup memadai. Apalagi dengan akreditasi B yang mereka terima seharusnya sudah cukup untuk memenuhi standarisasi sekolah yang baik.

”Kami sudah berusaha untuk mempromosikan sekolah ini melalui media sosial, pembagian angket ke sekolah dasar dan di lampu merah,” kata Wakil Kepala di MTs Nurul Ummah, Siti Khadijah. (ang/vit/ton/jos/jpnn)

Respon Anda?

komentar