WakJek dan Telkomsel Kenalkan Dunia Digital Pada Para Pengemudi

WENNY C PRIHANDINA, Batam

1564
Pesona Indonesia
Ratusan Wak Jek siap mengantar penumpang saat launchingnya di Anggrek Mas 2, Batamcentre, Senin (18/7). F. Dalil Harahap/Batam Pos
Ratusan Wak Jek siap mengantar penumpang saat launchingnya di Anggrek Mas 2, Batamcentre, Senin (18/7). F. Dalil Harahap/Batam Pos

Jamsit berulang kali mengecek gawai baru di tangannya. Ia mengusap-usap, mengetuk-ngetuk, lalu geleng-geleng kepala. Kacamata kecil yang duduk di hidungnya sudah berembun.

Ia lalu menyerahkan gawai itu ke anaknya yang masih duduk di bangku SD kelas IV. “Ini bagaimana cara ambil orderannya, Dek?” tanya Jamsit pada anaknya.

Anaknya mengambil gawai itu dan menengok isi di dalamnya. Aplikasi berjudul Driver WakJek itu dibuka-bukanya dan dicoba-coba satu demi satu. Lalu gawai itu berbunyi.

Tring…

Jamsit menengok gawainya. Ada orang memesan ojek. Namun, ia masih belum tahu cara menggunakan aplikasi itu. Alhasil ia meminta anaknya mengambil orderan.

“Ambil aja, Dek!” perintahnya.

Ia lalu mempersiapkan jaket dan mengenakan sepatu. Tak lupa menenteng dua helm oranye bertuliskan WakJek. Ia melajukan sepeda motornya ke alamat yang tertera di aplikasi untuk menjemput pemesan.

Pria yang memiliki nama jalan Jams itu meminta bantuan anaknya untuk menerima orderan hingga tiga hari ke depan. Ia juga terus bertandang ke ruang IT WakJek untuk bertemu Junaidi – Petugas Aktivasi Driver WakJek, bertanya ini itu tentang aplikasi dan gawainya. Ia pun tak segan bertanya pada CEO WakJek Burhanuddin Nur.

Kini, setelah dua minggu aktif menggunakan aplikasi dan gawai itu, ia tak lagi minta bantuan anaknya. Ia tak lagi tinggal di rumah. Ia memilih mangkal di Markas WakJek di Ruko Anggrek Mas II, Batamcentre.

Ketika gawainya berbunyi, tangannya yang besar dan berkulit tebal cekatan membuka pengunci gawai. Ia lalu membuka aplikasi WakJek-nya dan mengambil pesanan.

“Wah, sekarang yang muda saja sudah kalah cepat sama dia,” kata Petugas Aktivasi Driver WakJek, Junaidi.

***

Jamsit bergabung dengan WakJek sejak perusahaan itu muncul, Juni lalu. Ketika tengah mencari lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan di kawasan indsutri Kabil – Nongsa, ia menemukan spanduk besar milik WakJek di Bundaran Kabil. Ia langsung mencatat alamat kantor WakJek dan nomor teleponnya.

“Saya bilang saya mau datang sore hari. Saya memang datang sore itu ke kantornya- waktu itu masih di Komplek Ruko Greenland,” ujar pria bernama lengkap Jamsit Sitorus itu.

Jamsit langsung mengajukan surat lamaran dan memenuhi syarat-syaratnya. Ia tahu pekerjaan itu membutuhkan keahlian mengoperasikan gawai dan aplikasi. Sementara ia tak memiliki kemampuan untuk itu.

“Saya ini, seratus persen gaptek (gagap teknologi),” katanya.

Pria yang lahir 25 November 1967 ini mengaku sengaja menghindari internet. Ia masih setia dengan ponsel monoponik, atau yang kini lebih akrab dijuluki ‘ponsel senter’. Sebab, ia sadar dengan dampak buruk yang muncul hanya karena internet. Ia tak ingin beradu mulut dengan istri hanya karena masalah mengirim foto di media sosial.

Namun demikian, ia membekali kedua anaknya dengan ponsel pintar. Istrinya pun telah menggunakan ponsel yang terhubung dengan internet. Jamsit ingin anaknya lebih pintar darinya.

“Tapi kalau ini sudah tuntutan kerjaan harus berhubungan dengan internet ya saya pasti akan belajar. Saya yakin semuanya akan bisa kalau dipelajari,” tutur Mantan Senior Supervisor PT Livatex ini.

Jamsit mulai lancar menggunakan aplikasi itu setelah tiga hari pemakaian. Hal yang sama juga dialami Yusuf. Pemegang nomor keanggotaan WakJek 00006 itu juga baru bisa menguasai aplikasi setelah tiga hari belajar.

“Seumur-umur, ini pertama kalinya saya pegang hape begini,” katanya sambil menunjukkan sebuah gawai putih dengan layar sebesar 4,5 inci di genggamannya.

Pria yang juga berdagang sayur di Pasar Tos 3000 itu tampak mulai menyukai gawainya. Ia sering memainkannya. Ia mengambil gambar sayuran-sayuran di lapaknya. Ia lalu mengunggah gambar itu ke grup obrolan WakJekers – panggilan keren pengemudi WakJek.

Aksi itu berbuah omelan dari rekan-rekannya. Pasalnya, mereka telah sepakat tidak mengunggah gambar dalam grup obrolan itu. Tujuannya supaya kuota data mereka tidak tersedot saat harus mengunduh untuk melihat gambar itu. Mereka harus berhemat kuota data.

Yusuf tertawa menanggapi omelan itu. Ia beralasan untuk promosi. “Di tempat manapun yang banyak orangnya, kita harus bisa promosi bukan? Kan di grup ini banyak orangnya,” kilahnya.

***

WakJek merupakan perusahaan penyedia aplikasi layanan antar berbasis online di Batam. Konsep kerjanya seperti GoJek dan GrabBike. Ia bermitra dengan para pengemudi ojek.

Dirilis 18 Juli lalu, WakJek kini telah bermitra dengan 101 lebih pengojek. Usia pengojek berkisar antara 17 tahun hingga 55 tahun. Itu pun dengan latar belakang yang berbeda-beda.

WakJek masih terus menerima lamaran pendaftaran anggota. Pelatihan digelar tiga hari sekali. Pelatihan itu berlangsung selama satu hari penuh. Isinya, pengenalan perusahaan, etika dan sikap, serta, yang paling utama, pengenalan aplikasi.

WakJek memiliki aplikasi khusus. CEO WakJek Burhanuddin Nur memesannya langsung di Bali. Aplikasi itu dibagi menjadi dua jenis. Aplikasi untuk user atau pengguna WakJek dan aplikasi untuk driver atau pengemudi WakJek. Sejauh ini, aplikasi itu hanya bisa digunakan di gawai berbasis android.

“Untuk iPhone, sedang dalam proses. IPhone itu rumitnya di pengkodean (coding). Makanya lama,” ujar Petugas Aktivasi Driver WakJek, Junaidi.

Aplikasi WakJek untuk user bisa diunduh secara bebas di Google Play Store. Sementara aplikasi WakJek untuk driver hanya bisa masuk ke gawai dengan cara instalasi. Pria yang akrab disapa Jun itulah yang bertugas meng-instal aplikasi WakJek Driver ke setiap gawai pengemudi.

Seperti layaknya aplikasi user, aplikasi driver juga memiliki kunci berupa nama dan sandi. Nama dan sandi itu hanya berlaku satu kali dan tidak bisa diganti sesuka hati. Sebab, nama dan sandi itu telah terkoneksi ke dalam server WakJek.

“Kalau nanti ada pesanan masuk dan dia (pengemudi) ambil pesanan itu, nama dia akan tertera di sistem ini,” jelas Jun.

Jun harus memastikan aplikasi itu dapat dipakai. Dengan demikian, para pengemudi bisa dapat langsung menggunakannya. Tapi toh, tidak semua pengemudi bisa langsung menggunakannya.

Sebagian besar pengemudi masih belum menguasai gawai. Mereka mengaku tidak pernah menggunakannya. Mereka tidak terbiasa.

“Tapi di sinilah peran kami memperkenalkan teknologi ke mereka (para pengemudi),” kata CEO WakJek, Burhanuddin Nur.

WakJek, melalui Koperasi WakJek, menyediakan fasilitas kredit gawai untuk para pengemudi yang belum memilikinya. Mereka bekerja-sama dengan Huawei. Perusahaan telekomunikasi asal Tiongkok itu bersedia menyuplai perangkat gawai dalam jumlah banyak yang dibayar secara cicilan.

WakJek tidak mengambil untung. Harga beli kredit sama dengan harga beli tunai. Para pengemudi boleh mencicil sebanyak 25 kali. Cicilan dibayarkan setiap minggu sebesar Rp 40 ribu.

Selain itu, WakJek juga menyediakan fasilitas pascabayar data internet. WakJek bekerjasama dengan Telkomsel dalam hal ini. Mereka menggunakan fasilitas internet dengan Kartu Halo.

“Kami memilih kartu Halo karena kualitasnya lebih baik dan juga mendapat prioritas,” ujarnya.

Prioritas, bagi pria yang akrab disapa Burhan itu, penting. Sebab, pekerjaan ini sangat membutuhkan koneksi sinyal yang baik. Ketika jaringan sedang ramai digunakan, pengguna Kartu Halo akan mendapat prioritas untuk menggunakannya. Lagipula, jaringan Telkomsel telah menjangkau seluruh wilayah Batam saat ini.

“Pelayanannya bagus karena mereka (Telkomsel) menyediakan kami satu account manager. Dia-lah yang mengurus kebutuhan dan masalah internet kami,” ujarnya.

WakJek sepakat menggunakan fasilitas Halo Hybrid seharga Rp 60 ribu per bulan (Rp 66 ribu setelah ditambah PPn). Fasilitas ini memungkinkan para pengemudi WakJek mendapatkan kuota data sebesar 2,5 gigabyte. Mereka juga mendapatkan 60 menit bebas telepon dan 100 sms gratis.

Kuota itu harus habis dalam waktu satu bulan. Jika tidak, hangus. Jika habis sebelum satu bulan, mereka harus bersabar menunggu hingga bulan depan.

“Bisa saja kalau mau menambah kuota di tengah bulan. Tapi perlu dicek satu-satu nomornya di sana (di Kantor Telkomsel). Ribet,” kata Burhan.

Corporate Account Manager Telkomsel Batam, Rimas Deniardi Prasetyo, mengatakan, hingga saat ini, sudah ada seratus Kartu Halo yang digunakan WakJek. Jumlah ini boleh bertambah kapan pun WakJek membutuhkan.

“Kami siap mendukung WakJek sepenuhnya. Kalau WakJek butuh 200, kami akan antar 200 kartu,” ungkap Rimas.

WakJek menjadi satu-satunya perusahaan start-up yang bekerja-sama dengan Telkomsel. Telkomsel mau bekerja-sama karena WakJek perusahaan start-up baru di Batam.

“Kami sudah bergerak ke arah digital. Dengan ini, kami ingin membuka jaringan baru di Batam,” katanya.

***

Ratnawati mengeluarkan gawai putihnya dari dalam tas. Nafasnya masih ngos-ngosan. Ia baru saja menjemput saudaranya dari Bandara Hang Nadim di wilayah Nongsa dan mengantarnya ke Bengkong. Jaraknya hampir 20 kilometer.

“Sudah narik berapa hari ini Bu Ratna?” sapa CEO WakJek, Burhanuddin Nur, saat melihatnya memasuki ruang IT di lantai II Markas WakJek.

“Belum ada, Pak. Handphone saya sepertinya error deh, Pak,” ujar pengemudi perempuan pertama WakJek itu sambil menyerahkan gawai putih tersebut ke Burhanuddin.

Pria yang akrab disapa Burhan itu mengambil dan mengeceknya. Mulai dari sinyal, GPS, lalu aplikasi. Ia lalu meminta seorang staf untuk mengirim pesanan dan mencoba mengambilnya melalui aplikasi dalam ponsel tersebut. Dan bisa.

“Ini, Bu. Baik-baik saja handphone ibu. Tadi sudah saya coba ambil pesanan dan bisa,” kata Burhan sambil menyerahkan gawai itu tak lama kemudian.

Ratna mengambil kembali gawainya. Ibu rumah tangga itu mengecek aplikasinya. Ia mengaku tidak terlalu sulit mengoperasikan gawai tersebut. Ia sudah terbiasa bermain Facebook. Namun, ia sadar, ia tidak bisa bermain Facebook dengan gawai itu.

“Kalau kuotanya habis bagaimana? Kami tidak bisa terima orderan dong?” katanya.

Burhan memang telah menyampaikan pesan kepada setiap calon pengemudi untuk menghemat kuota. Yakni, dengan tidak menggunakan aplikasi lain di gawai tersebut. Khususnya, yang memungkinkan adanya pertukaran gambar.

“Kami menghitung, kalau hanya penggunaan aplikasi WakJek, tidak sampai 2,5Gb itu habis dalam satu bulan,” ujar Corporate Account Manager Telkomsel Batam, Rimas Deniardi Prasetyo.

“Kalau mereka menggunakan Facebook, Whatsapp, Path, sudah pasti (kuota 2,5Gb itu) habis,” timpal Burhan.

Hampir semua pengemudi WakJek yang menggunakan gawai dan paket internet Kartu Halo Telkomsel hanya menggunakan aplikasi driver WakJek dan Whatsapp. Aplikasi WakJek untuk menerima pesanan. Sedang aplikasi Whatsapp untuk mengobrol dengan sesama rekan WakJek.

Mereka belum menggunakan aplikasi lainnya. Namun, setidaknya, mereka mengaku menjadi tahu bahwa internet bukan hanya untuk main-main saja. Tetapi juga untuk bekerja dan menghasilkan uang.

“Ini sudah menjadi sawah-ladang saya sekarang,” kata Yusuf, Pengemudi WakJek, sambil mengacungkan gawainya.

Yusuf pernah menghasilkan Rp 400 ribu dalam satu hari. Ia aktif mulai pukul 00.00 WIB hingga 19.00 WIB. Pesanan datang pukul 01.00 WIB pun ia ambil.

“Yang jelas, siap isya saya harus tidur. Tapi nanti saya bangun lagi pukul 00.00 WIB,” katanya.

Jamsit Sitorus juga enggan menggunakan gawainya untuk aplikasi yang lain. Ia lebih sering membuka aplikasi Google Map untuk mengecek peta. Keberadaan peta sangat penting bagi pekerjaannya.

Sayang, peta Google untuk Batam masih belum lengkap. Ini sedikit menghambat performa WakJek. Burhan mengaku sudah mengajukan permohonan ke Google untuk peta versi lengkap. Namun, pihak Google menyatakan belum memiliki peta lengkap Batam.

“Tapi yang jelas, karena bergabung dengan WakJek ini saya jadi tidak gaptek lagi. Ya, setidaknya, ada kemajuan lah,” tutur Jamsit. ***