Muncul Benjolan di Tubuh? Waspada Gangguan Kelenjar Getah Bening

492
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Munculnya benjolan secara mendadak di tubuh memang membuat tak nyaman, apalagi jika ada rasa nyeri menyertainya.

Sebaiknya, hal itu jangan dianggap sepele, karena bisa jadi itu pertanda adanya gangguan kelenjar getah bening atau kelenjar limfe.

”Ada ratusan kelenjar getah bening di seluruh tubuh,” ujar dokter spesialis telinga hidung tenggorok RSUD dr Soetomo, dr Achmad C. Romdhoni SpTHT-KL(K).

Beberapa lokasi tersebut, di antaranya, leher, ketiak, dan selangkangan. Keluhan yang sering disampaikan saat pasien datang ke rumah sakit adalah gangguan leher.

Pasien biasanya datang karena merasakan benjolan di area tersebut. Kondisi itu menandakan terjadinya pembengkakan di kelenjar getah bening. Bengkak terjadi karena kelenjar melawan infeksi yang masuk.
Sebab, fungsinya memang untuk pertahanan tubuh. Beberapa pemicu infeksi itu bersumber dari sakit gigi, sariawan, amandel, sampai tumor.

Benjolan di leher tersebut saat dipegang terasa sakit. Meski tidak disentuh, menggerakkan area sekitarnya juga terasa nyeri. Saat itu kelenjar getah bening bekerja melokalisasi infeksi supaya tidak menyebar ke bagian tubuh bawah.

”Dia kerja keras, mengorbankan diri sampai bengkak,” ucap Romdoni.

Alumnus FK Unair itu mengungkapkan, benjolan yang disebabkan virus sebenarnya bisa sembuh sendiri. Beda lagi yang disebabkan bakteri, harus diberi antibiotik. Untuk membedakannya, bisa dilihat dari gejalanya.

Kalau keluhan panas hanya satu sampai tiga hari, bisa jadi kondisi itu disebabkan virus. Namun, jika timbul panas sampai menggigil lebih dari tiga hari, sebaiknya periksa lebih lanjut. Sebab, benjolan karena bakteri yang dibiarkan akan terus membesar. ‘
‘Lama-lama menjadi abses yang berisi nanah,” tegasnya.

Menurut dokter berusia 40 tahun itu, nanah tersebut harus dikeluarkan. Solusinya melakukan operasi. Karena itu, Romdoni menyebut sebaiknya tidak membiarkan gangguan kelenjar getah bening semakin parah.

Caranya bisa dengan memperhatikan gejalanya. Misalnya, meraba adanya benjolan. Apalagi kalau diikuti rasa nyeri. Selain itu, muncul kemerahan di area yang sakit. Badan pun ikut panas dan terjadi penurunan fungsi. Misalnya, saat leher benjol, ketika membuka mulut pun terasa sakit. Akibatnya, fungsi rongga mulut sebagai organ pencernaan dan bicara terganggu.

Jika gejala tersebut tidak membaik, sebaiknya melakukan pemeriksaan. Selain mencegah gangguan kelenjar getah bening semakin parah, langkah itu bermanfaat bagi pasien yang mencurigai benjolannya adalah tumor. Bukan gangguan kelenjar getah bening biasa.

Romdoni memberikan tip untuk membedakannya. Yakni, melalui perhitungan waktu muncul benjolan. Kalau benjol muncul dalam hitungan hari, kemungkinan infeksi. Namun, kalau awalnya muncul dalam ukuran kecil, kemudian dalam beberapa bulan terus membesar, waspadai sebagai tumor. Dokter akan menyarankan skrining kelenjar getah bening lain untuk memastikan persebarannya.

Romdoni mencontohkan, kalau benjolannya di leher, tetap direkomendasikan untuk skrining dada dan USG perut. ”Kalau mengganas, butuh penanganan lebih lanjut seperti kemoterapi, radiasi, baru benjolannya kempis,” jelas dokter yang menempuh pendidikan sarjana sampai doktoralnya di Unair tersebut.

Dia menambahkan, untuk mendukung fungsi kelenjar getah bening melawan infeksi, ada baiknya menjaga kesehatan tubuh. Caranya mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan berolahraga secara rutin. (jpnn)

Respon Anda?

komentar