Pengakuan Kalapas, Penghuni Lapas Meninggal Karena Sakit, Bukan Dianiaya

503
Pesona Indonesia
Lapas Tanjungpinang.
Lapas Tanjungpinang.

batampos.co.id – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II A Tanjungpinang, Djoko Pratito mengaku kalau Muarlis tewas bukan diduga karena dianiaya melainkan murni karena sakit yang dialaminya. Sakit yang diderita guru agama pasantren dan imam masjid lapas itu awalnya tidak mau makan dan demam tinggi sehingga tim medis lapas memberikan obat demam dan penambah nafsu makan. Namun dikarenakan kondisi bersangkutan tidak menunjukan perubahan, tim medis merawatnya di Poliklinik Lapas.

“Muarlis dilaporkan sakit pada 6 Juli sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu sempat diberikan obat, namun keesokan harinya Muarlis tak mengalami perubahan malahan tetap tidak mau makan bahkan tak bisa tidur dan selalu mengigau. Jadi dirawat di Poliklinik Lapas untuk penanganan lebih lanjut,” ujarnya, kemarin.

Mengingat kondisi bersangkutan itu drop atau badannya bertambah lemah, lanjutnya, pihak tim medis lapas langsung merujuknya ke RSUD Kota Tanjungpinang sekitar pukul 17.00 WIB. Namun baru sehari mendapatkan penanganan medis bersangkutan dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit tersebut 8 Juli 2016 sekitar pukul 10.00 WIB.

“Jadi Muarlis ini meninggal di RSUD Kota Tanjungpinang karena sakit bukannya diduga akibat dianiaya. Bersangkutan dikenal baik karena belum pernah melakukan pelanggaran disiplin apalagi sampai di sel,” akunya.

Begitu juga dengan Ricky. Warga binaan lapas yang dinyatakan sakit itu bukan dikarenakan dugaan penganiayaan yang dilakukan petugas lapas melainkan sakit stroke yang dideritanya sejak 21 Juni. Saat itu juga bersangkutan mendapatkan penanganan medis oleh dokter lapas namun beberapa pekan kemudian, 5 Juli, bersangkutan terjatuh di depan Poliklinik Lapas kondisinya menunjukan kegelisahaan yang berlebihan. Bahkan ketika buang air di kamar mandi, bersangkutan berbuat perilaku aneh dengan memainkan kotorannya sendiri dan menempelkannya ke dinding poliklinik.

“Ketika didapati salah satu kaki Ricky tak dapat digerakan (gejala stroke-red) kita langsung merujuknya ke RSUP Kepri. Saat rujukan itu, tangannya kita borgol dan dipegang oleh petugas lapas karena Ricky meronta-ronta,” katanya.

Selama mendapatkan penanganan medis di RSUP Kepri, lanjutnya, bersangkutan diberikan obat penenang atau bius oleh tenaga medis. Hal ini dilakukan sebagai bentuk proses pengobatannya. Sebab jika dalam keadaan sadar, bersangkutan akan mengalami kegelisahan yang berlebihan atau meronta-ronta.

“Dari konfirmasi antara pihak lapas dengan pihak RSUP Kepri ternyata Ricky tak mengalami luka sedikitpun. Bahkan Ricky tidak koma melainkan dibius agar tidak meronta-ronta,” ungkapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar