Basarnas Tanjungpinang Akhirnya Temukan Jasad Nelayan Terapung

377
Pesona Indonesia
Anggota Basarnas, Polsek Bintim dan Petugas DKPP Bintan mengevakuasi jasad nelayan Kampung Tokojo dari Kapal Basarnas Tanjungpinang 01 nomor lambung RB 209 ke ambulan di Dermaga Pantai Indah, Jalan Barek Motor, Kijang Kecamatan Bintim, Kamis (28/7). foto:harry/batampos
Anggota Basarnas, Polsek Bintim dan Petugas DKPP Bintan mengevakuasi jasad nelayan Kampung Tokojo dari Kapal Basarnas Tanjungpinang 01 nomor lambung RB 209 ke ambulan di Dermaga Pantai Indah, Jalan Barek Motor, Kijang Kecamatan Bintim, Kamis (28/7). foto:harry/batampos

batampos.co.id – Nelayan Kampung Tokojo, Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur (Bintim), La Ode Makida alias Udin, 43, ditemukan tewas dalam kondisi terapung oleh Tim Basarnas Tanjungpinang di Perairan Pulau Rusa, Desa Mantang Besar, Kecamatan Mantang, Kamis (28/7) sekitar pukul 10.42 WIB. Jasad warga Jalan Beringin Indah Barat itu langsung dievakuasi menggunakan Kapal Basarnas Tanjungpinang 01 nomor lambung RB 209 ke Dermaga Pantai Indah selanjutnya dikebumikan di TPU Batu 25, Kijang.

“Korban dinyatakan hilang di tengah Perairan Pulau Rusa sejak Selasa (26/7) sekitar pukul 14.30 WIB. Selama itu pencarian terus dilakukan oleh nelayan setempat, jajaran Polsek Bintim dan Basarnas Tanjungpinang. Akhirnya, Kamis (28/7) jasad korban berhasil ditemukan dengan timbul sendiri ke permukaan,” ujar Kapolsek Bintim, Kompol Dandung Putut Wibowo saat dikonfirmasi, Kamis (28/7).

Dari laporan yang diterimanya, sebelum kejadian, Selasa (26/7) sekitar pukul 14.00 WIB korban sedang beraktivitas memasak bilis di bagian dapur kapal. Ketika sedang memasak, nakhoda kapal pukat bilis tempat korban bekerja, Kim Kui melihat korban memainkan kompresor tabung gas saat api di tungku kompor sedang menyala. Lantas Kim Kui melarangnya karena dikhawatirkan tungku kompor itu meledak akibat api tersulut tabung gas.

Setelah memberikan larangan kepada korban, lanjutnya, Kim Kui kembali ke ruangannya untuk memantau perairan di sekitar. Beberapa menit kemudian sekitar pukul 14.30 WIB, Kim Kui berperasangka tidak enak sehingga berinisiatif mengecek aktivitas korban. Saat itu juga korban sudah tidak terlihat lagi keberadaannya di dapur.

“Dari keterangan Kim Kui, korban tak berada di dapur setelah setengah jam ditegurnya. Diduga korban tercampak ke laut akibat ledakan kompor. Kim Kui sempat mengerahkan ABK untuk mencari korban. Tak berhasil, Kim Kui melaporkan kejadian ini ke polisi,” katanya.

Menindak lanjuti laporan itu, sambungnya, jajaran Polsek Bintim langsung terjun ke TKP untuk melakukan pencarian. Kemudian melakukan koordinasi dengan Tim Basarnas Tanjungpinang agar proses pencarian bisa dilakulan secara maksimal.

Pencarian yang melibatkan puluhan personil Basarnas Tanjungpinang dan Polsek Bintim itu belum membuahkan hasil hingga hari ketiga pencarian. Namun ketika sedang melakukan penyisiran, sekitar pukul 11.00 WIB Tim Basarnas Tanjungpinang melihat sosok benda terapung tak jauh dari TKP. Saat didekati dengan perahu sekoci karet, ternyata benda itu adalah jasad korban.

“Berhasil menemukan jasad korban Tim Basarnas mengevakuasinya ke kapal lalu membawanya ke Dermaga Pantai Indah. Sesampainya, Tim Medis Puskesmas Kijang melakukan visum luar di atas kapal selanjutnya jasad korban dimandikan dan dimakamkan di TPU Batu 25 Kijang,” jelasnya.

Nakhoda Kapal Basarnas Tanjungpinang 01, Capten Sigit mengakui jika jasad korban ditemukan dalam keadaan terapung sekitar 300 meter dari lokasi kapal pukat bilis yang ditumpangi. Lantas ia mengevakuasinya dari perahu sekoci karet ke Kapal Basarnas Tanjungpinang 01. Selanjutnya dibawa ke Dermaga Pantai Indah.

“Ketika jasad korban ditemukan, kita langsung koordinasikan ke polisi. Sesampainya di dermaga, polisi dan tim medis langsung lakukan visum dan membawanya ke mobil ambulan,” sebutnya.

Terpisah, Tim Medis Puskesmas Kijang, dr Iwan Mulyana mengatakan korban tewas murni akibat ledakan kompor dan tenggelam di laut. Sebab dari hasil visum luar didapati bagian wajah serta kedua tangannya mengalami luka bakar. Sedangkan yang menjurus ke tanda-tanda kekerasan tak ditemui. Namun wajah korban sangat sulit dikenali alias rusak dikarenakan sudah 72 jam berada di dasar laut.

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Mungkin dikarenakan ledakan kompor yang kuat dan lamanya di dalam air laut membuat wajah korban rusak dan mengeluarkan bau busuk,” katanya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar