Situasi Tanjungbalai, Sumatera Utara Sudah Terkendali

1029
Pesona Indonesia
Polri dan TNI kerja bakti membersihkan reruntuhan di lima vihara yang dibakar pada insiden intoleransi di Tanjungbalai, Sumut, tadi pagi. Foto: dokumen JPNN
Polri dan TNI kerja bakti membersihkan reruntuhan di lima vihara yang dibakar pada insiden intoleransi di Tanjungbalai, Sumut, tadi pagi. Foto: dokumen JPNN

batampos.co.id – Sehari pasca kesusuhan tersebut suasanna pusat pertokoan di Tanjungbalai, Sumatera Utara, tutup dan mengakibat perekonomian menjadi lumpuh.

Namun pada sore harinya baru terlihat satu persatu pemilik toko mulai membuka usahanya karena pihak unsur FKPD (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) beserta FKUB dan MUI sudah melakukan peryantaan sikap bersama mengantisipasi perstiwa itu dan menjamin situasi dalam keadaan kondusif.

Gubernur Sumatra Utara Tengku Erynuradi yang datang ke Tanjungbalai, tepatnya di pendopo Rumah Dinas Walikota Tanjungbalai, Minggu(31/7) mengimbau agar saling meminta maaf.

“Nabi Muhammad SAW memaafkan umatnya sesama manusia hendaknya saling memaafkan. Nabi pernah dilempari dan dihina tetapi dia sabar suatu ketika yang melempar itu sakit nabi datang melihat orang yang melemparnya itu,” ujar Tengku Erynuradi.

Sedangkan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut), Irjen Pol Raden Budi Winarso, Pandam I/BB Lodewyk Pusung bersama tokoh masyarakat H.Zulkifli Amsar Batu Bara juga meninjau vihara, klenteng dan rumah Yayasan Sosial Kemalangan yang dirusak massa saat terjadi kerusuhan di Kota Tanjungbalai.

“Semua masih dalam penyelidikan. Kita belum mendapat data konkret mengenai pemicu atau oknum yang memprovokasi terjadinya pembakaran dan perusakan. Jika terungkap dan terbukti melakukan ada yang provokasi, maka siapapun akan mendapat konsekwensi hukum sesuai peraturan dan undang-undang yang berlaku. Kami pasti mendalami dan mengusut kasus ini hingga tuntas,” ujarnya di sela-sela meninjau tempat kejadian perkara (TKP) kerusuhan massa.

Sebelumnya Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan Sik menyatakan bahwa situasi keamanan dan ketertiban di Tanjungbalai sudah aman dan terkendali pascakerusuhan berbau SARA .

Situasi sudah terkendali dan massa tidak lagi bergerombol, kendati demikian polisi dan tentara masih disiagakan di vihara dan klenteng di Tanjungbalai untuk pengamanan dan mencegah kerusuhan susulan.

”Kita ingin Tanjungbalai kondusif dan terkendali dan semua pihak diimbau untuk menahan diri.” imbaunya eperti diberitakan Sumut Pos (Jawa Pos Group), hari ini (1/8).

Wali Kota Tanjungbalai melalui Sekdakot Drs Abdi Nusa menyatakan, Pemko Tanjungbalai sudah melakukan kesepakatan bersama unsur FKPD, M UI maupun FKUB.

“Kita akan terus berupaya mengantisipasi agar persoalan itu tidak terulang kembali. Hal ini merupakan tanggungjawab bersama untuk menciptaan Tan jungbalai kembali terkendali dan kondusif,” ujar Sekdakot.

Sementara Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghua Indonesia(PSMTI) Andi Asamara alias Taifing di halaman Vihara Triratna, sangat menyesalkan peristiwa itu terjadi. Seharusnya tidak terjadi perbuatan anarkis merusak dan membakar Vihara. ”Saya berharap hal-hal seperti keyadian ini tidak terulang,” harapnya.

Seperti diketahui, sedikitnya sembilan rumah ibadah umat Buddha terdiri dari Vihara dan Kelenteng di Kota Tanjungbalai dirusak serta dibakar dalam kerusuhan amuk masa yang terjadi Jum’at (29/7) malam sekira pukul 23.00 wib dan berakhir sekitar pukul 04.00 wib pagi.

Tidak ada korban jiwa dalam peistiwa itu, bebera unit mobil, sepeda motor dan becak bermotor (betor) yang diparkir dijalaman Vihara Tri Ratna dan Yayasan Sosial kemalangan ikut dibakar dan dirusak, akan tetapi sebanyak tujuh orang pelaku penjarah berhasil diamankan di Mako Polres Tanjungbalai.

Sementara penyebab terjadinya kesusuhan yang bernuansa sara tersebut masih dalam penyelidikan aparat penegak hukum,

Adapun beberapa vihara dan Kelentang yang dirusak diantarany, Vihara Tri Ratna, Kelenteng Dewi Samudera, Kelenten Ki Ong Thua, Kelenteng Bhika Han Bihok berlokasi djalan Asahan persisnya dilokasi Water Front City ( WFC) pantai amor sungai Asahan.

Kemudian, Vihara Wat Chu Kang jalan Juanda, Kelenteng Hon Cun Chi Kung jalan Juanda ujung, serta beberapa kelenteng yang terdapat dijalan Karya, jalan Jenderal Sudirman serta jalan Gazali Tanjungbalai Selatan. Namun, hingga sore harinya sejumlah titik rumah ibadah dan vihara yang dirusak tersebut mendapatkan pengawalan yang cukup ketat dari TNI dan Polri beserta unsur petugas lainnya.

Kerusuhan bermula dari protes atau keberatan seorang warga etnis tionghoa dengan suara adzan dari Masjid Al- Makshun di Jalan Karya Kelurahan Tanjubgbalai Kota I Kecamatan Tanjungbalai Selatan. Kasus keberatan itu sebenarnya sudah dibicarakan di rumah etnis tionghoa tersebut dan suaminya sempat minta maaf terhadap seromongan warga.

Usai salat Isya dan dilanjutkan hingga ke kantor polsek setempat. Namun tanpa diduga dengan protes itu sejumlah massa melakukan aksi pembakaran dan pengrusakan vihara setelah gagal merusak rumah etnis tionghoa yang melayangkan protes tersebut.

Kelompok massa juga merusak Vihara Vimalakirty, Klenteng Hien Tien Siong, Klenteng Macho, Klenteng Lin Kioe Ing Tong Jalan A, Yani dan Klenteng Huat Cu Keng Jalan Juanda serta merusak gedung Yayasan Sosial Kemalangan dan Yayasan Putra Esa. Selain itu, enam kendaraan dibakar dan dirusak, termasuk tiga sepeda motor dan satu becak motor (betor).

Kemudian Polres Tanjungbalai mengamankan M dan tujuh remaja diduga terlibat penjarahan saat aksi perusakan berlangsung. Ketujuh remaja yang diamankan berikut barang bukti, diantaranya pelat mobil, tabung gas elpiji, tape, yakni FR (15), HK (18), AA (18), MAR (16), MRM (17), AJ (21) dan MIL (10).” tuturnya.(jpg)

Respon Anda?

komentar