Waspadai Serangan Jantung dengan Mengenali Detaknya

721
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Meski serangan jantung sering dianggap terjadi secara mendadak, namun sebetulnya tanda-tandanya bisa dikenali sebelumnya.

Biasanya, jantung menunjukkan sinyal mengalami masalah melalui detaknya yang tidak beraturan.

“Gangguan pada irama jantung itu dikenal sebagai aritmia,” ujar dokter spesialis jantung RS BDH Surabaya dr Wenni Erwindia SpJP FIHA dalam acara Indonesia Atrial Fibrillation Campaign 2016 kemarin.

Menurut dia, aritmia mampu membuat jantung menyerah untuk memompa darah. Akibat terburuknya adalah kematian. Ada beberapa jenis aritmia. Yang berdetak cepat sampai lebih dari 100 kali per menit disebut takikardi.

Yang berdetak terlalu lambat juga tidak boleh disepelekan. Namanya bradikardi. Idealnya, jantung berdetak kurang dari 60 kali per menit.

Jenis yang paling berbahaya adalah fibrilasi ventrikel. Yakni, ventrikel dan bilik jantung bergerak terlalu cepat. “Yang begini menyebabkan kehilangan kesadaran atau kematian mendadak,” ucap Wenni.

Alumnus Unair itu mengungkapkan, fibrilasi ventrikel membuat jantung hanya bergetar, tetapi aliran darah tidak mengalir. Kondisi itu muncul karena beberapa penyebab.

Misalnya, struktur jantung yang membengkak sehingga arus listriknya terganggu. Ada juga karena penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes.

Menurut Wenni, kasus aritmia tidak boleh disepelekan. Dia menyebut bisa jadi penderita kejang. Ketika diraba, nadinya sudah tidak ada. Akibatnya adalah gagal jantung dan kematian mendadak.

Karena itu, dia menyebut penting mengetahui gejala penyakit jantung. Tanda itu adalah jantung sering terasa berdebar-debar. Padahal, tidak ada yang bikin kaget.

Dia mencontohkan, wajar saja ada orang yang berdebar saat mendengar pintu dibanting atau mendengar sound system kelewat kencang. Tapi, jika tidak ada pemicu jantung berdebar lalu nadi berdetak cepat saat diraba, itu adalah tanda penyakit aritmia.

Selain itu, orang dengan penyakit jantung sering merasa pusing atau nggliyeng. Sebab, begitu cepat detak jantung sampai aliran darah tidak bisa mencukupi ke otak. Tidak jarang, juga muncul keluhan napas pendek, lemas, dan mudah capek.

“Kalau dibiarkan, bisa sampai pingsan. Segera temui dokter jika tiba-tiba atau sering merasakan gejala ini,” kata Wenni.

Dia menyebutkan, gangguan irama jantung tetap bisa diobati. Yakni, memakai obat anti gangguan irama. Ada pula pemberian pengencer darah untuk menghindari gumpalan darah yang menjadi sumber stroke. Bisa juga kateterisasi dan penanaman implan alat pacu jantung langsung ke dada.

“Alat mengejut sendiri ke jantung kalau ada gangguan. Otomatis,” ucapnya.

Wenni menyebut tidak semua penyakit jantung perlu diobati. Jika munculnya sekali-kali, yang paling penting adalah mengubah pola hidup. (nir/c6/git/JPG)

Respon Anda?

komentar