Bendungan Kototuo Jebol, 1.034 Sawah Terancam Kekeringan

799
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id — Banjir yang melanda Padang Senin (1/8) mengakibatkan bendungan irigasi Kototuo di Baringin Balai Gadang Kecamatan Kototangah jebol. Akibatnya, 1.034 hektare sawah terancam kekeringan.

Pantauan Padang Ekspres, Selasa (2/7), terlihat tumpukan kayu yang hanyut dari hulu di sekitar bendungan. Sisi kanan bendungan tinggal 30 meter.

”Panjang bendungan ini lebih kurang 70 meter, yang jebol 40 meter, sisanya tinggal 30 meter,” kata Syafaria, 38, penjaga pintu air Irigasi Kototuo saat di temui di lokasi.

Bendungan ini jebol dihantam arus Sungai Airdingin yang naik drastis karena tingginya intensitas hujan Senin (1/8). Air sungai melimpah dan naik ke sebagian rumah warga yang berada di bantaran sungai.

”Air Airdingin meluap sekitar pukul 15.00. Akibat derasnya air sungai, sekitar pukul 16.30, bendungan ini jebol di sebelah kiri,” terangnya seperti diberitakan PAdang Ekspress (Jawa Pos Group), Selasa (2/8).

Bendungan ini mengairi areal persawahan dan kolam ikan warga sekitar 1.000 hektare. Jebolnya bendungan menyebabkan petani tidak bisa menggarap lahan persawahan dan budidaya tambak ikan. ”Sawah dan kolam ikan kering,” katanya.

Kelurahan yang dialiri bendungan irigasi Kototuo ini terdiri dari dua bagian, yaitu sebelah kanan dan sebelah kiri. Bendungan sebelah kanan mengairi kawasan Kotolua, Pulai, Batipuhpanjang, Ganting dan Batangkabung. Sedangkan sebelah kiri mengairi Kotopanjang, Ikurkoto dan Bungopasang. “Jika hujan lebat di hulu memang sering terjadi banjir di kawasan ini,” katanya.

Jon Suaidi, ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Irigasi Kototuo mengatakan, total lahan warga yang kekeringan 1.034 hektare. Sekitar 730,9 hektare lahan yang diairi irigasi sebelah kanan dan 303,1 hektare sebelah kiri. “Sebanyak 20.000 orang petani merasakan dampak jebolnya bendungan irigasi Kototuo ini,” ujarnya.

Kasi Konservasi Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar, Rahmad Yuhendra mengatakan, daerah cakupan irigasi bendungan Kototuo luasnya 1.000 hektare. Bendungan ini pernah diperbaiki pascabencana tahun 2010 lalu oleh Dinas PU Padang. “Tetapi secara kewenangan, ini merupakan daerah irigasi milik provinsi via Dinas PSDA,” ujarnya.

Dinas PSDA Sumbar telah melakukan upaya perbaikan irigasi karena masyarakat sangat bergantung pada irigasi ini. “Kita sudah mengukur di lapangan, minimal untuk memasukkan air dulu atau normalisasi yang sifatnya sementara dulu sehingga petani yang mengolah sawah tidak kekeringan,” katanya.

Lebar bendungan, kata dia, sekitar 70 meter. Kondisi bendungan memang sudah rusak parah karena itu pihaknya juga harus berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai.

”Tadi kita sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk penanganan yang permanen, biayanya lebih kurang Rp 15 miliar untuk bendungan sama jaringannya kanan dan kiri,” katanya.

Dia menambahkan, fungsi bendungan ini juga untuk mengamankan jembatan yang tidak jauh dari bendungan di Bypass, mengairi sawah dan menstabilkan dasar sungai. ”Kita lihat di sungai banyak warga yang menambang batu, namun saya tidak bisa menyalahkan karena itu sudah menjadi mata pencarian warga setempat,” katanya.

Dinas PSDA akan mengidentifikasi jumlah warga yang mengambil batu setiap hari, dan berapa sedimentasi sungai yang ditimbulkan penambangan tersebut. “Dampak jebolnya bendungan juga mengakibatkan sumur-sumur warga kering. Karena selain mangairi sawah, bendungan ini juga untuk mengairi sumur-sumur warga,” katanya.

Jebolnya bendungan Kototuo disebabkan hujan deras di hulu sungai selama 7 jam dengan debit air 400 meter kubik per detik. ”Intensitas hujan yang tinggi dan sungai yang berbatu memang rawan galodo sehingga infrastruktur seperti jembatan, cekdam perlu dipantau terus,” katanya.

Untuk antisipasi sementara, Dinas PSDA berupaya menormalisasi bendungan sebelah kanan. Sedangkan yang sebelah kiri tidak mungkin diperbaiki karena sudah rusak parah. ”Minimal sebelah kanan ini akan kita normalisasi minimal mengairi saja dulu,” pungkasnya.

Intake PDAM Jebol

Banjir juga menyebabkan intake PDAM di Guo Kuranji jebol. “Pipa transmisi di intake Latung Lubuk Minturun juga putus diterjang banjir,” ujar Humas PDAM Padang Richi dihubungi kemarin.

Pada banjir Maret 2016 lalu, keduanya juga jebol dihondoh galodo dan sudah diperbaiki. Akibatnya, sebagian pelanggan di kawasan Kuranji dan Kototangah mengalami krisis air bersih. (jpg)

Respon Anda?

komentar