Mengenang Pahlawan yang Terlupakan; Yusuf Kahar (1920-1948)

739
Pesona Indonesia

Yusuf-Kaharbatampos.co.id – Pada sebuah meja di kedai kopi, Senin (1/8) siang. Dua orang pemuda sedang terlibat diskusi ringan. Ini bulan Agustus. Obrolan yang paling memikat tentu seputar perayaan hari ulang tahun proklamasi. Diskusi terus bergulir. Kini tiba tentang menyebutkan nama-nama pahlawan nasional.

Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji adalah sepasang nama yang niscaya tidak terlupa. Melalui Surat Keputusan Presiden, kakek dan cucu itu sudah ditabalkan sebagai pahlawan nasional. Baik Robi maupun Kiki sama-sama mengaku, definisi pahlawan sarat subjektivitas. Lain kata, terasa sumir batas-batasnya. Tapi ada satu indikator yang tak terbantahkan. “Pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa. Apa pun itu bentuknya,” kata Robi.

Karena itu, piagam pahlawan nasional dari negara bukan satu-satunya penegas kepahlawanan seseorang. Malah, sambung Kiki, seringkali yang terjadi ada sederet nama yang pantas mendapat tanda jasa pahlawan, karena telah berbuat, telah berkorban, buat kepentingan bangsanya. “Itu kan soal administrasi saja. Ada atau tidak yang mengajukannya,” timpal Kiki.

Ditemani secangkir kopi susu, diskusi keduanya semakin seru. Kendati keduanya mengaku tidak banyak tahu tentang sosok-sosok pahlawan dari Kepulauan Riau yang berjuang merebut maupun mempertahankan kemerdekaan republik ini, tapi keduanya sama-sama sepakat tentang satu fakta; pasti dahulu kala, ada puluhan, ratusan, dan bahkan ribuan nama yang menolak gentar, ikut melawan, berdarah-darah mempertahankan, agar Indonesia bisa benar-benar merdeka.

Keyakinan yang tak berlandaskan kepahaman ini bertemu jawaban. Sejarawan Kepulauan Riau, Aswandi Syahri membenarkan, bahwasanya ada banyak nama yang berjasa mempertahankan kibar merah-putih di Kepulauan Riau.

“Yusuf Kahar adalah satu dari sekian nama yang terlupa,” sebut Aswandi.

Ketika nama yang disebutkan Aswandi ini dilontarkan kepada Kiki dan Robi, dua pemuda ini hanya menggelengkan kepala. Seketika mereka meraih gawai di atas meja. Membuka google dan mengetikkan Yusuf Kahar Tanjungpinang di kolom pencarian.

“Yusuf Kahar itu nama jalan yang membentang dari simpang empat dekat Mesjid Raya dan berujung pada persimpangan antara Jalan Diponegoro dan Jalan S.M. Amin dekat Gedung Daerah ‘kan?” ucap Robi. Kiki mengangguk. Informasi yang didapatnya serupa.

Kalau sampai dijadikan sebuah nama ruas jalan, sambung Robi, pasti ada alasan besar di balik penetapannya. Tidak mungkin nama jalan dibuat sekenanya. Aswandi Syahri punya jawaban atas pertanyaan dua pemuda Tanjungpinang, yang tahu Yusuf Kahar sebagai nama sebuah jalan dan bukan pejuang yang mempertahankan kemerdekaan.

Tersebab Agresi Penuba
Dalam ejaan lama, nama batang tubuhnya ditulis Moehamad Joesoef Abdoel Kahar. Tersemat gelar Entjik di awalan namanya. Tidak ada bukti otentik tentang tanggal lahirnya. Yang tercatat hanya dinyatakan lahir tahun 1920. Belakang Daik adalah tempat tembuninya ditanam. Kini masuk dalam administrasi wilayah Kabupaten Lingga. Aswandi menjelaskan, Belakang Daik adalah nama atau penyebutan lain dari Pulau Senayang.

Bersama Raden Sunaryo yang namanya juga diabadikan sebagai nama ruas jalan di Tanjungpinang, Yusuf Kahar adalah salah satu tokoh yang erat kaitannya dengan sejarah mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan upaya-upaya mengibarkan merah putih di Kepulauan Riau.

Sunaryo dan kawan-kawan bergerak di Tanjungpinang, sedangkan Yusuf Kahar berjuang di Dabo Singkep dan sekitarnya. “Ia adalah bagian dari heroisme pemuda-pemuda republieken pendukung proklamsi kemerdekaan di Lingga, Senayang, Penuba, dan Dabo Singkep yang tersebar dalam berbagai organisi seperti; Komite Nasional Indonesia (KNI), Pemuda Republik Indonesia (PRI), dan Party Kaum Buruh Indonesia (PKBI) yang berpusat di Singapura,” terang Aswandi.

Sejak bulan November dan Desember 1945, sejumlah anggota organisasi pemuda republieken tersebut berafiliasi dengan pemimpin-pemimpin republik di Sumatra, terutama yang berada di Indragiri, dan mulai melakukan gerakan “di bawah tanah” untuk mengusir Belanda dari Pulau Singkep, Lingga, Senayang, dan Pulau Selayar atau Penuba.

Setelah itu, terutama sejak Mei 1946, situasi di Dabo Singkep dan Penuba yang merupakan pusat konsentrasi Belanda semakin memanas. Puncaknya adalah ketika 50 anggota kesatuan Tentara Kemanan Rakyat (TKR) dari Tembilahan yang dimpim oleh Sersan Major Andris Kilak sampai di Dabo Singkep dan menyerang pos militer Belanda di Penuba bersama pemuda-pemuda anggota arganisasi pro-republik di Dabo Singkep, Senayang, dan Penuba pada 12 Juni 1946.

Sebuah agresi terjadi. Adu tembak tak terelakkan hingga menewaskan sang komandan. Oleh Belanda, serangan bersenjata di Penuba itu terbilang mengejutkan. Akibatnya, dilakukan penggeledahan, penangkapan, dan berujung pada penahanan. Sejumlah dokumen organisasi pro-republik dirampas. Dari dokumenitu tersebut nama-nama yang terlibat. Yusuf Kahar bersama Said Abdullah, Sukarjo, Sukarwo, Encik Muhamad bin A. Kahar (abang Yusuf Kahar) dan Ja’afar Panggabean ditangkap di Dabo Singkep pada 21 Oktober 1946. Saat agresi Penuba, nama-nama yang termaktub dalam dokumen itu merupakan anggota Tentara Republik Indonesia (TRI).

Mereka kemudian digiring ke Tanjungpinang. Lalu dijebloskan di penjara Kampung Jawa. Setelah menjalani proses pengadilan militer, para tawanan perang dari Dabo Singkep itu harus menjalani 2,5 hingga 5 tahun kurungan di penjara yang sama.

“Namun tidak demikian halnya dengan Yusuf Kahar. Beliau telah lebih dahulu wafat sebelum seluruh proses pengadilannya selesai,” terang Aswandi.

Sebuah catatan yang dibingkai bersama tiga lembar foto tentang Yusuf Kahar dalam simpanan Museum Linggam Cahaya, di Daik-Lingga, menyebutkan Yusuf Kahar wafat di dalam penjara di Tanjungpinang pada pukul 07.15 pagi, tanggal 17 Januari 1948.

Aswandi menyatakan, fakta sejarah dalam catatan itu ada benar dan juga ada salahnya.
Khusus tentang tarikh wafatnya, informasi dalam catatan tersebut bersesuaian dengan arsip dua pucuk surat keluarga Yusuf Kahar yang Aswandi temukan dalam penelitian manuskrip dan bahan arsip di Daik-Lingga pada 23 Februari 2006 silam.

Akan tetapi, dua pucuk surat lain yang dapat dikategorikan sebagai sumber primer dalam kaidah penyelidikan sejarah, sebagai bahan sumber tangan pertama atau bahan sumber tetulis yang tercipta sejurus setelah wafat Yusuf Kahar, memberikan banyak informasi lain.

Dua surat itu mencatat bahwa Yusuf Kahar tidak wafat dalam penjara Belanda di Tanjungpinang pada pukul 07.15. “Tapi lebih banyak orang yang meyakini bahwa Yusuf Kahar meninggal di penjara,” ucap Aswandi.

Surat pertama bertarikh 17 Januari 1948. Dikirim langsung dari Tanjungpinang tepat pada hari wafat Yusuf Kahar. Sepucuk surat itu ditujukan kepada Dja’far Osman di Daik-Lingga. Sedangkan surat kedua, yang ditulis empat hari setelah penulisnya menerima kabar duka itu pada 18 Januari 1948 (atau bertarikh 22 Januari 1948) dilayangkan dari Senayang kepada Hadji Oesman bin Almarhoem Alhadji Md Joesoef Datoek Laksamana di Daik-Lingga.

Aswandi menjelaskan, dua pucuk surat itu sama-sama menjelaskan perihal wafatnya Yusuf Kahar di Tanjungpinang. Keduanya menyebutkan bahwa wafatnya Yusuf Kahar disebabkan oleh penyakit yang dideritanya selama dalam penjara, dan beliau wafat di rumah sakit Tanjungpinang pada pukul 9 atau 9.15 pagi, hari Sabtu tanggal 17 Januari 1948.

“Dari rumah sakit Tanjungpinang, jenazah Yusuf Kahar kemudian dibawa ke rumah keluarga di Kampoeng Tambak. Seperti halnya Raden Sunaryo yang lebih dahulu gugur pada tahun 1946, jenazahnya Yusuf Kahar pada mulanya dimakamkan di Kampoeng Boekit (kini TPU Taman Bahagia) pada pukul 4 petang hari itu juga,” terang Aswandi.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap pejuang republik dengan status tahanan Belanda yang wafat dalam usia 28 tahun, prosesi pemakaman Yusuf Kahar dihadiri oleh ketua Riouw Raad dan anggotanya, juga seluruh pemuda anggota organisasi pendukung proklamasi di Tanjungpinang.

Hampir tiga puluh tahun kemudian, penghormatan itu kian purna. Pada 1976, makam Yusuf Kahar di Taman Bahagia dipindah oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Riau ke Taman Makam Pahlawan Pusara Bakti di Tanjungpinang. “Pada nisan pusaranya hanya ditulis M.Y. Kahar 1948,” terang Aswandi.

Sejalan sebagai laku penghormatan atas jasa-jasa Yusuf Kahar, pemerintah daerah pun mengabadikan namanya pada seruas jalan di Tanjungpinang. Sekaligus mendampingi nama Sunaryo, rekan semasa seperjuangan mempertahankan kemerdekaan, yang juga ditetapkan sebagai nama jalan.

“Ironinya, sekarang anak muda lebih kenal Yusuf Kahar sebagai nama jalan, dan bukan keberaniannya angkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan,” pungkas Aswandi.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar