Menilik Perpustakaan Apung dan Keliling di Bintan

544
Pesona Indonesia
Anak-anak pulau membaca di atas Perpustakaan Apung Pemkab Bintan. foto:fatih muftih/batampos
Anak-anak pulau membaca di atas Perpustakaan Apung Pemkab Bintan. foto:fatih mufti/batampos

batampos.co.id – Keberadaan perpustakaan umum di suatu daerah tetap saja belum 100 persen belum menjamin mampu menarik minat baca lebih tinggi penduduk daerah tersebut. Bukan lantaran inovasi maupun kreasi yang ditaja perpustakaan kurang memikat. Seratus persen bukan tentang itu. Namun, hal ini mengenai jarak tempuh ke perpustakaan yang terbilang jauh bagi beberapa masyarakat.

Dalam kondisi semacam ini, perpustakaan tak boleh menjadi Filippo Inzaghi yang sekadar menunggu sodoran bola sebelum menceploskannya ke gawang lawan. Perpustakaan harus menjadi Lionel Messi yang urusannya bukan cuma membuat gol saja, tapi turut turun ke lini belakang, belari mengejar dan menjemput bola.

Ihwal menjemput bola ke lini pertahanan, Perpustakaan Kabupaten Bintan adalah juaranya. Kepala Perpustakaan Daerah Bintan, Dahlia Zulfah menyadari peta wilayah Kabupaten Bintan yang empat kali lebih luas dari Tanjungpinang dan terdiri dari banyak pulau, memerlukan daya jelajah lebih tinggi dalam upaya menjemput bola.

Selayaknya Lionel Messi yang dalam permainannya bersama Barcelona kerap menjelajah setiap jengkal lapangan, begitu pula Perpustakaan Kabupaten Bintan. Kendati gedung perpustakannya tak semegah Perpustakaan Tanjungpinang dan Provinsi Kepri, amunisi jemput bola milik Perpustakaan Bintan adalah yang paling lengkap.

Tercatat, ada dua mobil baca keliling yang siaga menyisir daerah pelosok di seluruh penjuru Kabupaten Bintan. Bisa saja yang satu di sebelah utara Bintan, yang satu lagi menjemput minat baca di sebelah timur. “Kalau ada yang rusak, jadi bisa gantian mobilnya. Tak ada yang namanya terbengkalai,” ungkap Dahlia.

Belum lagi, Perpustakaan Bintan juga turut dilengkapi amunisi untuk menjemput minat baca di pulau-pulau. Ada perpustakaan apung bernama lambung KM Pustaka 3 yang menyisir sekolah-sekolah di pulau Numbing, Mantang, Kelong, Air Gelubi, Dendun, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. KM Pustaka 3 merupakan hibah dari Perpustakaan Nasional RI tahun 2013 silam. Dahlia mengakui keberadaan KM Pustaka 3 sangat membantu dalam rangka meningkatkan baca anak-anak Bintan.

“Kendalanya hanya satu. Kalau cuaca sedang tak bersahabat, kami tak mungkin memaksakan KM Pustaka 3 berangkat,” ungkapnya.

Fakta lebih menariknya, anak-anak pulau rupanya punya minat baca yang lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini dilihat dari antusiasme mereka mana kala KM Pustaka 3 bersandar di dermaga dekat sekolah mereka. “Itu yang membuat kami selalu semangat berkeliling ke pulau-pulau mengkampanyekan minat baca kepada anak-anak,” kata Dahlia. Lelah penat di atas kapal dan merapikan 200 lebih judul buku seakan sirna melihat antusiasme anak-anak pulau membaca.

Tapi Dahlia menyadari KM Pustaka 3 juga memiliki keterbatasan. Umumnya bukan hanya menyangkut kondisi alam saja, tapi juga biaya operasional. Tapi keterbatasan ini tak lantas memadamkan semangat menjemput bola. Lionel Messi tetap punya sejuta gocekan untuk berkelit dari kepungan pemain bertahan. Pun Perpustakaan Bintan.

Bangun Perpustakaan di Pulau-pulau

Tidak bisa setiap hari atau setiap waktu anak-anak pulau membaca buku. Jangkauan kondisi geografis Kabupaten Bintan yang terdiri dari gugusan pulau-pulau adalah tantangan yang mesti dicarikan jalan pintasan. Tidak mungkin pula saban hari mobil baca keliling dan KM Pustaka 3 beredar dari satu tempat ke tempat lain. Tapi tidak ada tantangan yang tiada berdampingan dengan jalan keluar.

Satu yang paling memungkinkan adalah dengan menitipkan buku-buku itu agar terjangkau. Cara paling sederhana adalah dengan mendirikan perpustakaan di masing-masing desa. Kalau belum mampu merata, setidaknya satu perpustakaan untuk satu pulau.

Setelah berkoordinasi dengan beberapa camat di Kabupaten Bintan, Dahlia melihat peluang itu terbuka lebar. Kecamatan Bintan Pesisir di Pulau Kelong dan Kecamatan Mantang, misalnya. Di dua pulau tersebut rencananya akan dibangun perpusatkaan. Tidak perlu besar, asalkan ada.

“Kami sudah kaji dan ajukan program pembangunan perpustakaan di Bintan Pesisir dan Mantang untuk tahun 2017 mendatang,” ungkap Dahlia. Rencana ini bahkan sudah sejak jauh-jauh hari turut disampaikan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) awal tahun lalu.

Sebenarnya, ini bukan kerja baru. Sejak dua tahun lalu, tercatat pendirian perpustakaan di kantor-kantor desa/kelurahan dan kecamatan sudah dilaksanakan. Semisal di Desa Toapaya, Desa Bintan Buyu, Kelurahan Tembeling, Kelurahan Kijang Kota dan Desa Toapaya Utara. Karena itu, Dahlia amat yakin pendirian dua perpustakaan di Bintan Pesisir dan Mantang bisa digesa tahun mendatang.

Ketika sebuah bangunan yang dimaksudkan sebagai gedung perpustakaan sudah berdiri, bukan berarti kerja Perpustakaan Daerah selesai. Alokasi ratusan dan bahkan ribuan koleksi buku bacaan jadi tanggung jawab mereka. Kalau perlu sejumlah bantuan peningkatan kualitas pelayanan seperti kursi-meja baca atau rak buku juga akan dipenuhinya.

Tapi ada satu hal lain yang lebih penting dari itu semua. “Pembinaan pustakawan ini juga jadi agenda rutin tahunan. Apa artinya kalau ada perpustakaan tapi tidak bisa mengundang anak-anak atau orang dewasa untuk membaca. Hal-hal semacam itu tentu ada siasatnya,” kata Dahlia.

Malah, selain melakukan pembinaan rutin, sebagai apresiasi kepada pustakawan sekolah, desa, kelurahan, dan kecamatan, Perpustakaan Daerah Bintan turut melakukan penilaian. Mana-mana tempat yang paling kreatif dan inovatif dalam menyusun program peningkatan minat baca akan diberi hadiah dan ditetapkan sebagai perpustakaan terbaik dalam kurun satu tahun kerja. “Pak Bupati, Pak Wabup, dan Pak Sekda sangat apresiatif dengan program semacam ini. Mereka bahkan mau menyerahkan hadiahnya secara langsung,” ujar Dahlia.

Di tempat terpisah, Camat Mantang, Nafriyon mengaku amat mendukung dengan rencana pembangunan perpustakaan di wilayah kerjanya. Ia tak memungkiri, keberadaan tempat baca bakal amat membantu dan bisa menjadi alternatif bagi perpustakaan sekolah yang ada di sana. “Apalagi kan di Mantang ini ada SMP dan SMA Negeri. Pastinya kalau dibangun satu perpustakaan lagi di kecamatan akan sangat berguna,” ungkapnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar