Pekerjaan Fly Over Terganjal Kabel dan Pipa, Target Kontraktor Meleset

1396
Pesona Indonesia
Gambaran jalan layang Simpang Jam.
Gambaran jalan layang Simpang Jam.

batampos.co.id – Anggota Komisi III DPRD Kepri, Irwansyah mengatakan pekerjaan fly over, Simpang Jam, Batam, terganjal kabel optik milik Telkom, kabel listrik milik PLN, serta pipa Adya Tirta Batam (ATB).

“Berdasarkan pemaparan pihak kontraktor, Jumat (29/7) lalu, di Komisi III DPRD Kepri, ada deviasi atau keterlambatan target 1,4 persen. Seharusnya progresnya sudah 10,6 persen,” ujar Irwanysah, Senin (1/8) di Tanjungpinang.

Legislator daerah pemilihan (Dapil) Kota Batam tersebut juga mengatakan, penyebab inilah yang masih dicarikan solusinya. Masih kata Irwansyah, dari penegasan yang disampaikan kontraktor fly over Simpang Jam, mengaku akan segera menyelesaikan persoalan tersebut.

Ditegaskan Irwansyah, apabila tidak adanya kerjasama PLN, Telkom maupun ATB, pihaknya berharap kontraktor cepat-cepat membuat laporan kepada DPRD Kepri. Apalagi instasi-instansi tersebut, sering berdalih, tidak punya anggaran untuk pekerjaan-pekerjaan seperti yang terjadi sekarang ini.

“Mereka sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Baik itu Telkom, PLN maupun ATB,” papar Irwansyah

Politisi senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Kepri itu juga mengatakan, terkait deviasi yang terjadi, pihak kontraktor sudah berkomitmen untuk mengejar ketertinggal tersebut di bulan Agustus dan September. Ia berharap, mega proyek tersebut selesai tepat waktu. Yakni pada November 2017 mendatang.

Masih kata Irwansyah, hal yang harus diperhatikan kontraktor maupun pengawas adalah kekuatan konstruksi bangunan tersebut. Apalagi, proyek senilai Rp180 miliar itu menggunakan sistem Balance Cantilever dan traveller cantilever.

“Titik krusial tentunya pada tahap pengecoran konstruksi. Tentu semua hal harus diperhatikan secara detail,” jelasnya.

Menurut Irwansyah, sistem kerja tersebut sama seperti pengerjaan Jembatan I Dompak, Tanjungpinang. Ambruknya, jembatan terjadi pada saat pengecoran. Sehingga pada waktu pengecoran menjadi titik yang sangat krusial.

“Langkah ini, merupakan tindakan antisipatif. Artinya menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun microcrack, tetap saja berpotensi menggangu keselamatan pengguna jalan itu nanti,” tutup Irwansyah.(jpg/bpos)

Respon Anda?

komentar