Vaksin Palsu yang Disita BBPOM Riau Ternyata Serum

1062
Pesona Indonesia
Ilustrasi. Foto: pixabay
Ilustrasi. Foto: pixabay

batampos.co.id – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Pekanbaru dan pihak kepolisian, Juni 2016 lalu menemukan beberapa botol yang diduga kuat adalah vaksin palsu.

Namun setelah melakukan berbagai penyelidikan, diketahui bahwa barang-barang yang ditemukan itu bukan vaksin palsu, melainkan serum.

Terkait temuan Anti Tetanus Serum (ATS) dan Anti Bisa Ular (ABU) Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Pekanbaru bekerjasama dengan Polresta Pekanbaru berhasil mengungkap jaringan peredaran kedua serum tersebut.

Bahkan pihak Polresta Pekanbaru sendiri telah mengakui menahan dua orang tersangka terkait peredaran serum palsu tersebut.

Berdasarkan informasi yang dirangkum oleh Riau Pos, awal mula pengungkapan jaringan tersebut ketika BBPOM Pekanbaru melakukan sidak ke sejumlah Faskes (Fasilitas Kesehatan) dan Apotik di Pekanbaru. Dari sidak tersebut didapatkan ATS palsu diklinik NRT di Rumbai. Informasi berkembang, Klinik NRT mendapatkan ATS palsu tersebut dari seorang sales obat-obatan berinisial PS (yang sudah ditetapkan menjadi tersangka).

Tim dari BBPOM Pekanbaru dan Polsek Rumbai lalu melakukan undercover buy untuk membeli serum ATS (merek Biosat) tadi sebanyak 10 box/10 ampul. Harga satu ampulnya Rp70.000,-.

Setelah mendapatkan barang dari sales dengan Inisial PS. BBPOM Pekanbaru dan pihak kepolisiam kemudian mengembangkan informasi tersebut. Ternyata serum palsu juga dimiliki sales dengan Inisial S (sudah ditetapkan jadi tersangka). Dari tangan S polisi dan BBPOM menyita ATS dengan merek Biosat 1,5 sebanyak 10 box. Sementara di tangan sales berinisial PS ini, petugas menyita sebanyak 10 box. Berdasarkan pengakuan PS, serum palsu tersebut didapatkan dari seseorang dengan Inisial F.

F sendiri belakangan diketahui sedang menjalani masa penahanan di Polresta Pekanbaru dalam kasus penggelapan obat-obatan golongan psikotropika di RS Petala Bumi Pekanbaru.

Kepala Balai POM Pekanbaru, Indra Ginting ketika dikonfirmasi Riau Pos tidak membantah kabar kalau vaksin yang diduga palsu adalah serum yang palsu. Dia mengakui memang ada kerjasama dengan pihak kepolisian terkait pengungkapan peredaran serum palsu itu. Namun Ia enggan menjelaskan detai kronologisnya dengan alasan proses penyedikanya berada dibawah wewenang Polresta Pekanbaru.

“BBPOM memang sejak awal yang membongkar praktik peredaran serum palsu tersebut. Kemudian kita koordinasi dengan kepolisian (Polresta Pekanbaru,red), untuk proses selanjutnya ada disana. Kita tidak memiliki kewenangan untuk membeberkan proses penyidikan,” kata Indra Ginting, kepada Riau Pos (Jawa Pos Group), Selasa (2/8).

BBPOM, kata Indra Ginting hanya membantu proses pengungkapan peredaran serum palsu tersebut. Selain itu BBPOM juga dilibatkan sebagai saksi Ahli. “Kita bantu ungkap, proses selanjutnya disana. Kita sudah lakukan uji laboratorium, hasilnya memang positif palsu,” tegas Ginting.

Sementara itu terkait beredarnya serum tersebut disalah satu klinik di Rumbai, Ginting tidak membantahnya. Namun Ia enggan menyebut nama klinik tersebut.

“Memang kita dapatkan barang itu dari salah satu klinik di Pekanbaru.Sejak awal dulu kan saya sudah katakan bahwa serum palsu itu kita dapatkan disalah satu faskes. Untuk namanya silahkan ditanya ke (Polresta, red) ini sudah masuk dalam ranah penyidikan,” ujar Indra Ginting.

Klinik NRT sendiri berdasarkan keterangan tersangka PS sudah memesan produk serum palsu tersebut sebanyak lima kali. Setiap kali pemesanan sebanyak 1 Box/ 10 ampul.

Terkait temuan tersebut Indra Ginting menyebut bahwa peredaran serum palsu sangat berahaya. Karena fungsi serum sama dengan obat. “Jelas berbahaya, karena serum ini fungsinya mengobati. Jadi misal ada orang kena tetanus, terus disuntik itu, kalau barangnya palsu kan tidak menjadi obat,” urai Ginting.

Ginting memastikan bahwa BBPOM Pekanbaru terus mengintensifkan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang. Untuk itu masyarakat tidak perlu cemas, karena peredaran serum palsu ini berada faskes kecil.(jpg)

Respon Anda?

komentar