Gempa Darat Guncang Bukittinggi

1239
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id — Gempa darat kembali terjadi di Kota Bukittinggi. Kali ini gempa mengguncang dengan kekuatan 3,3 skala Richter (SR) pada Kamis Subuh (4/8) subuh di lokasi berjarak sekitar lima kilometer Timur laut Gunung Marapi.

Sebelumnya, gempa 2,8 SR mengguncang Bukittinggi dan sekitarnya pada Jumat sore (29/7) sekitar pukul 17.51. Gempa tersebut berpusat di 12 KM timur laut Bukittinggi atau di lokasi 0.29 LS, 100.47 BT, dengan kedalaman 3,2 kilometer. Pusat gempa tersebut tergolong sangat dangkal juga dirasakan di Baso, Agam dengan skala intensitas II hingga III MMI.

Menurut Hatta Rizal, salah seorang warga Jorong Cangkiang, Nagari Batutaba, Kecamatan IV Angek, Agam saat gempa kemarin, terasa goncangan yang cukup kuat yang menyebabkan dia terbangun dari tidur.

“Saat gempa saya sedang tidur dan terasa ada goncangan. Saat itu juga, saya langsung bangun melihat situasi di sekeliling rumah. Namun, goncangan itu tidak berlangsung lama, sehingga saya dan keluarga tidak merasa begitu panik,” ujarnya seperti dikutip dari Padang Ekspress (Jawa Pos Group), hari ini (4/8).

Meski gempa tersebut dirasakan warga, namun gempa ini diprediksi tidak mempengaruhi aktivitas Gunung Marapi. ”Gempa tersebut tidak mempengaruhi aktivitas Marapi. Hingga saat ini status gunung itu masih waspada,” ujar salah seorang Staf Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi Sumbar, Hartanto , kemarin.

Ia menjelaskan, gempa yang terjadi tersebut termasuk gempa tektonik jauh karena lokasi pusat gempa berjarak cukup jauh dari lokasi sensor. ”Lokasi sensor yang kami punya letaknya lebih dari 10 kilometer. Selain itu, peningkatan aktivitas Marapi dipicu oleh gempa vulkanik, bukan tektonik,” sebutnya.

Sepanjang 2016, ia menjelaskan, aktivitas Marapi masih fluktuatif. Selama Agustus 2016, gempa yang terjadi didominasi oleh gempa tektonik jauh dan tidak menimbulkan pengaruh bagi aktvitas Marapi.

Ia menyebutkan, pihaknya rutin menyampaikan imbauan dan bekerja sama dengan Wali Nagari Koto Baru dan polsek setempat agar masyarakat menghindari aktivitas radius tiga kilometer dari puncak gunung.

”Biasanya pada perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, banyak dimanfaatkan masyarakat untuk mendaki gunung tersebut. Namun, kami imbau agar tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak gunung karena status waspada,” jelasnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padangpanjang merilis gempa magnitudo 3,3 SR terjadi di koordinat 0,36 lintang Selatan dan 100,52 bujur Timur atau lima kilometer timur laut Gunung Marapi dengan kedalaman hiposenter 10 kilometer pada Kamis (4/8) pukul 5.19.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padangpanjang, Rahmat Triyono menjelaskan, kedalaman hiposenter yang dangkal itu mencirikan aktivitas sesar Sumatera khususnya segmen Sianok. ”Segmen Sianok ini memanjang dari sisi Timur Danau Singkarak melewati sisi Barat Gunung Marapi hingga Ngarai Sianok,” jelasnya.

Ia mengimbau warga agar tidak panik dan selalu meningkatkan kewaspadaan karena gempa dapat terjadi sewaktu-waktu. Berdasarkan catatan BMKG, gempa terbesar pernah tercatat pada tanggal 4 Agustus 1926 dengan pusat hancuran antara Bukittinggi dan Danau Singkarak, data terbaru mencatat bahwa 6 Maret 2007 terjadi dua kali gempa bumi dengan magnitudo 6.4 dan 6.3 dan juga gempa bumi merusak pada segmen ini yang mengakibatkan kerusakan di Batusangkar, Padangpanjang dan Solok.

BMKG juga mengimbau kepada masyarakat khususnya di sekitar Padangpanjang dan Bukittinggi, agar tetap tenang dan selalu meningkatkan kewaspadaan bahwa gempa bumi dapat terjadi setiap saat.

Terpisah, pakar kegempaan dari Universitas Andalas (Unand) Badrul Mustafa menyebut, meskipun gempa-gempa kecil banyak terjadi di segmen Sianok, tapi bisa saja gempa besar muncul di segmen di atasnya, atau bahkan di Solok Selatan. ”Mudah-mudahan saja tidak terjadi,” tuturnya singkat saat dikonfirmasi via telepon genggam.

Peneliti gempa lainnya yang juga tenaga pengajar di jurusan teknik sipil Unand, Daz Edwiza mengatakan, Bukittinggi berada di segmen sesar aktif sianok ,dan bagian dari sesar besar semangka yang memanjang dari utara Pulau Sumatera hingga selatan. Aktivitasnya bolek dikatakan sangat periodik dengan frekuensi kejadian atau periode ulang pendek rata-rata di bawah 10 tahunan.

”Tahun 2007 terjadi gempa di segmen ini yang boleh dikatakan cukup besar magnitudonya, sehingga banyak menimbulkan korban dan longsoran di sepanjang Ngarai Sianok. Ke depan, sangat mungkin gempa dengan intensitas yang lebih besar, karena pesatnya pembangunan infrastruktur dan semakin padatnya jumlah penduduk Bukittinggi,” paparnya. (jpg)

Respon Anda?

komentar