Ilham dan Ayahnya BJ Habibie Rintis Pembuatan Pesawat R-80

449
Pesona Indonesia
BJ Habibie menjelaskan kepada Presiden RI Jokowi tentang Pesawat R-80 yang akan dikembangkan dan diproduksi perusahaan miliknya dan milik anak-anaknya. Foto: istimewa
BJ Habibie menjelaskan kepada Presiden RI Jokowi tentang Pesawat R-80 yang akan dikembangkan dan diproduksi perusahaan miliknya dan milik anak-anaknya. Foto: istimewa

batampos.co.id – Keinginan BJ Habibie unuk terus mengembangkan industri pesawat terbang nasional diteruskan oleh putra pertamanya, Ilham Akbar Habibie. Ia kini merintis idustri pesawat.

Melalui perusahaan investment-nya, PT Ilthabi Rekatama, Ilham menanamkan modal ke perusahaan pembuat pesawat terbang PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang didirikannya bersama ayahnya BJ Habibie.

Perusahaan tersebut tengah mengembangkan pesawat penumpang bermesin turboprop bernama R-80. Pesawat tersebut merupakan kelanjutan dari cita-cita BJ Habibie untuk mengambangkan pesawat sendiri di Indonesia.

Sebelumnya, di bawah Industri Pesawat Terbang Nurtanio, BJ Habibie pernah mengembangkan pesawat sejenis bernama N-250 atau yang dikenal juga dengan nama Gatot Kaca.

”R-80 ini adalah ide Bapak (BJ Habibie) yang merupakan terusan dari N-250,” kata Ilham kepada wartawan saat ditemui di sela event World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12 di Jakarta, Rabu (3/8/2016).

Menurut Ilham, BJ Habibie memang punya keinginan untuk mengembangkan pesawat itu karena ternyata Indonesia memang pasar terbesar untuk pesawat jenis baling-baling.

Sayangnya, tidak satu pun dari pesawat-pesawat itu merupakan karya anak bangsa. Semuanya merupakan pesawat impor yang sebetulnya bisa dibuat sendiri oleh para insinyur di Indonesia.

”Demand di kita, penumpang di kita, airline di kita, tapi produknya bukan dari kita. Padahal kita punya SDM dengan kualitas memadai. Sayang sekali kita tidak jadi tuan rumah di negeri sendiri,” papar Ilham.

Melalui R-80, Ilham optimis bisa mengambil alih pasar pesawat dalam negeri. Ilham makin optimis karena ternyata peminat R-80 tidak sedikit. Sekarang saja, sebanyak 155 unit pesawat sudah dipesan. Padahal, prototipenya saja belum ada.

”Baru akan kita buat prototipenya sebanyak 2-3 tahun depan dan mungkin akan beres pada 2019. Setelah itu flight test baru dikasih ke pelanggan pertama pada 2021,” ungkapnya.

Saat ini, lanjut Ilham, pesawat tersebut masih dalam tahap pemilihan komponen. Dia mengatakan, tidak ada satu pun perusahaan pembuat pesawat yang membuat semua komponen pesawat. Mesin, kokpit, sistem pengendali pesawat, dan kaki pesawat lazimnya dibuat oleh perusahaan lain.

Sementara itu, perusahaan pembuat pesawat akan memilih dan memesan ke perusahaan pembuat komponen.

”Sampai sekarang masih belum ada perusahaan Indonesia yang membuat komponen pesawat. Tapi, insya Allah nanti ada,” ucapnya.

Tidak hanya ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, Ilham juga mengincar pasar ASEAN. ASEAN jadi target utama karena secar aperaturan sudah harmonis dengan peraturan yang berlaku di Indonesia. Tarif ekspornya pun bisa minimal. Ilham juga mengincar negara-negara lain yang punya karakteristik sama dnegan Indonesia.

”Negara berkembang dengan infrastruktur terbatas. Itu peluang paling realistis,” ujarnya.

Bagaimana dengan Eropa dan Amerika? Ilham tidak sediiit pun melirik dua benua itu. Bukan karena secara industri Indonesia kalah. Tapi karena secara pasar, mereka tidak menjanjikan. Ilham mengatakan, du abenua itu sudah punya pesawat masing-masing. Infrastruktur lainnya pun bagus.

”Di Eropa, mereka biasa pakai kereta api. Di Amerika yang memiliki banyak jalan tol, mereka lebih suka berkendara dengan mobil. Itu sudah jadi budaya mereka,” jelas dia.

Selain diproyeksikan sebagai pesawat penumpang, R-80 juga ke depannya bisa dibuat lebih variatif. Baik secara ukuran maupun secara kegunaan. Untuk ukuran, Ilham mengatakan, bukan tidak mungkin nanti dibuat lebih panjang dengan kapasitas lebih besar yang diberi nama R-100.

Bisa juga R-80 difungsikan sebagai pesawat kargo atau pesawat pengintai laut. ”Tapi itu nanti. sekarang belum fokus ke sana. One by one,” katanya. (and/jpnn)

Respon Anda?

komentar