Dieng Culture Festival 2015, Jazz di Atas Awan

779
Pesona Indonesia
foto: sitiket.com
foto: sitiket.com

Menpar Arief Yahya merekomendasikan bagi Anda pecinat jazz untu menyaksikan Dieng Culture Festival (DCF) 2016 yang bisa dinikmati 5-7 Agustus 2016. Acaranya, keren-keren. Dari penampilan Cak Nun dengan Kiai Kanjeng, Jazz Atas Awan, pesta kembang api, hingga jamasan, pencukuran rambut dan pelarungan rambut anak gimbal khas Dieng. Semua ada di festival ini.

“Ada perpaduan seni tradisi, budaya dan musik modern yang membuat festival ini lebih berkelas. Anak muda masuk, orang paruh baya pun juga masuk. Ada wayang, juga pentas lengger yang khas daratan tinggi Dieng yang memiliki ketinggian kisaran 2000 m dari permukaan laut,” ungkap Hari Untoro Drajad, Staf Ahli Menpar Bidang Multikultural.

Menurut Hari, di dataran tinggi sebelah barat gunung Sindoro dan Sumbing ini ada Bukti Arkeologis yang muncul di permukaan bumi. Ada Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Gatotkaca, petirtaan Jalatunda yang konon airnya berkhasiat.

“Air suci ini diambil dan digunakan untuk upacara tertentu di Bali. Ini membuktikan peradaban yg berasal dari abad 9-10 M. Hingga abad 12, ritual ini masih terjadi di dataran tinggi Dieng. Sekarang tradisi pemotongan atau pencukuran rambut gimbal,” jelasnya.

Upacara selamatan ini menarik, menurut Hari, dilakukan di area candi di komplek Candi Arjuna. Banyak wisatawan Eropa yang suka dengan alam dan tradisi di sana. “Dieng juga tempat yang indah untuk melihat matahari terbit,” kata Hari Untoro Drajad.

Beragam kemeriahan ini membuat agenda DCF tak pernah sepi dari pengunjung. Tahun lalu, DCF dibanjiri sekitar 20 ribu pengunjung.

Salah satu keunikan dari Dieng Culture Festival adalah festival ini selalu diadakan pada waktu musim kemarau, biasanya Juli – Agustus.

Saat festival digelar, suhu di dataran tinggi dieng ini bisa mencapai minus 2 derajat.

Jangan buru-buru takut kedinginan. Karena di Dieng, ada banyak homestay yang punya banyak keunikan tersendiri. Hadi Supeno, Wakil Bupati Banjarnegara sudah menginstruksikan pemilik homestay untuk membuat surang. Inilah  tungku perapian khas masyarakat setempat yang tidak bisa dijumpai di wilayah lain di Indonesia.

“Kalau air hangat, dan selimut itu hal biasa. Banyak ditemukan di tempat lain. Namun tungku perapian itu hanya ada di Dieng. Tidak ada ditemukan di tempat lain karena itu nilainya beda dan pengalaman baru bagi wisatawan.

Keunikan seperti ini memiliki daya jual dalam industri pariwisata,” pungkasnya. Jumat (5/8).

Atraksinya? Sangat beragam. Salah satu yang paling ditunggu dari Event Dieng Culture ini, terutama bagi para pecinta musik jazz adalah acara Jazz Atas Awan. Biasanya, acara jazz dinikmati di cafe-café. Tapi kalau di DCF 2016, Anda bisa ngejazz tepat di depan Candi Arjuna Dieng. Menikmati musik di ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut. Atraksi alamnya, gunung yang menjulang tinggi.

Selain itu, ada juga acara seribu lampion. Lampion diterbangkan secara ramai-ramai, membuat langit Dieng bertaburan lampion yang bersanding dengan kerlap kerlip bintang. “Dijamin memorable buat Anda yang datang ke Dieng Culture Festival ini,” tambah Hadi Supeno, Wakil Bupati Banjarnegara.

Selain pesona budaya dan keindahan alamnya, di Dieng juga ada makanan khas yang sangat saying Anda lewatkan. Namanya Mie Ongklok.

“Dijamin maknyuss kalau kata Pak Bondan,” ucap Hadi.

Nah, agenda utama dari Dieng Culture Festival ini lagi-lagi ritual cukur rambut gimbal. Bagi Anda yang belum tahu, anak-anak di kawasan dieng ini lazimnya memiliki rambut gimbal sebagian. Anak-anak ini akan dicukur rambutnya dalam sebuah ritual adat. Si anak berhak meminta imbalan untuk kesediaannya dicukur rambut gimbalnya tersebut. Nah, ritual adat ini setahun sekali dilakukan pada saat Dieng Culture Festival.

“Ini sangat menarik. Selain karena dilakukan di area candi-candi di kompleks Candi Arjuna, upacara adat ini menjadi even yang sangat menarik bagi wisatawan mancanegara. Terutama untuk pasar Eropa dan Australia. Jangan lupa, nilai adat dan tradisi menjadi kebanggaan bangsa. Semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,” sambung Hari Untoro Drajat.

Soal persiapan, Hari mengaku 100% siap. Acara pembukaan Dieng Cultural Festival 2016 dipastikan akan dimeriahkan oleh penampilan musik dari Kiai Kanjeng berserta Cak Nun yang akan berlangsung hingga sore hari. Setelah itu, pengunjung dapat menikmati matahari terbenam di Bukit Skuter yang dapat ditempuh hanya 15 menit dari Desa Dieng Kulon.

Usai menikmati matahari terbenam, pengunjung akan diajak bersiap-siap menyaksikan pertunjukan Jazz Atas Awan. Pertunjukan musik jazz yang digelar di panggung utama, di sebelah timur Kompleks Candi Arjuna. Pertunjukan musik tersebut akan dilangsungkan di tengah suhu 2,5 derajat Celcius.

Keesokan harinya, 6 Agustus 2016, pengunjung bisa menikmati Matahari terbit di berbagai puncak Dataran Tinggi Dieng. Mulai Puncak Sikunir, Prau, Pakuwaja hingga Pangonan. Pengunjung disarankan untuk memulai pendakian pukul 02.00-04.00 waktu setempat agar tidak terjebak macet pada saat mendaki.

Setelah melihat matahari terbit, pengunjung diajak mengikuti acara “Jalan Kaki Keliling Kampung” di Dataran Tinggi Dieng, diakhiri penerbangan ribuan balon gas dan minum purwaceng, minuman khas Dieng. Panitia akan menyediakan sejumlah doorprize untuk peserta jalan kaki keliling kampung. Titik start dan finish adalah Kompleks Gedung Soeharto-Withlam, Dieng.

Masih di hari yang sama yakni 6 Agustus 2016, pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni yang tersebar di berbagai lokasi, baik di
panggung utama maupun panggung khusus budaya. Lokasinya tersebar di Telaga Warna, Kawah Sikidang, maupun lokasi wisata alam lainnya. Malam harinya digelar pertunjukan musik akustik, stand up comedy dan penerbangan sekitar 5000 lampion, serta permainan kembang api.
Diperkirakan 15 ribu letusan kembang api akan menghiasi langit Dieng setelah penerbangan lampion usai.

Acara puncak yaitu rangkaian ruwat rambut gimbal akan dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 2016.Khusus acara kirab budaya, panitia hanya membuka kesempatan bagi 80 orang pengunjung saja untuk terlibat. Jika tertarik Anda harus melakukan pendaftaran lebih dahulu ke pihak panitia.

Setelah kirab budaya keliling Dieng, rangkaian ritual potong rambut dilanjutkan dengan Dharmasala. Sejumlah anak berambut gimbal akan dicukur rambutnya oleh sejumlah tokoh yang ditunjuk oleh panitia penyelenggara untuk mencukur. Acara ini dipandu pemimpin spiritual suku Dieng, Mbah Naryono.
(*)

Agenda DCF 2016
5 Agustus
13.30-14.00 Pembukaan DCF 7
14.00- 17.00 Cak Nun dan Kiayi Kanjeng
17.00- 19.00 break ishoma dll
19.00- 23.45 JAZZ ATAS AWAN dan Bakar Kentang bareng
23.45- 00.00 Pesta Kembang Api

6 Agustus 2016

08.00- 09.30 Jalan sehat
09.30- 10.00 Minum Purwaceng bareng
10.00- 12.00 Pentas Seni Tradisional sesi 1
12.00- 13.00 Break
13.00- 17.00 Pentas Seni tradisional sesi 2
17.00- 19.00 Break
19.00- 23.00 Pagelaran Wayang kulit, pagelaran musik dan Pesta lampion

7 Agustus
08.00- 09.30 Kirab budaya
09.30- 10.30 Jamasan Anak Gembel/gimbal
10.30-12.00 Pencukuran Rambut anak Gembel/gimbal
12.00- 12.30 Break
12.30- 13.30 Pelarungan Rambut Anak Gembel/gimbal dan Penutup.

Respon Anda?

komentar