Inilah Kesamaan Kharakter 6 Terduga Teroris Ini Di Mata Masyarakat : Pendiam dan Pintar

3254
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Pendiam dan pintar, itulah yang diketahui oleh masyarakat tentang kepribadian keenam terduga teroris yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda ini.

Hadi Gusti Yanda, 20, warga Perumahan Taman Carina Blok 27 Nomor 19, satu dari enam orang terduga jaringan terorisme Bahrum Naim, dikenal merupakan sosok pendiam.

Baca juga:

Densus 88 Tangkap Terduga Jaringan Terorisme di Batam, 6 Orang Diamankan, Ini Data Lengkapnya

Jaringan Terduga Teroris yang Ditangkap di Batam Disebut Pernah Rencanakan Serangan ke Marina Bay Singapura

Hamidin orangtua Hadi saat ditemui mengatakan di rumah Hadi dikenal sebagai sosok yang pendiam. Dalam segi agama Hadi tergolong anak yang sangat taat dan rajin beribadah.

“Anak saya memang sering bawa tas dan Alquran kecil kalau sudah keluar rumah. Nggak curiga sama sekali, apalagi masalah agama kita larang nggak mungkin,” ungkap Hamidi.

Hamidin mengatakan setiap hari Hadi memiliki kesibukan sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan di Kawasan Bintang Industri, Tanjunguncang. “Sudah setahun dia bekerja di sana,” kata Hamidin.

Setiap hari Hadi selalu berangkat kerja pukul 07.30 WIB dan pulang pukul 17.00 WIB. “Di luar kita kan nggak tahu bagaimana Hadi,” ucap Hamidin.

Di luar jam kerja, diakuinya, Hadi memang ikut pengajian, namun ia tidak mengetahui kemana arahnya. “Hadi keluar rumah selalu habis salat Isya, kadang pulang malam jam 21.00 WIB kadang pukul 22.00 WIB,” kata Hamidin.

Hamidin merasa terkejut dan tidak mengetahui sama sekali apa yang terjadi kepada anaknya. Hamidin hanya mengetahui anaknya masih bekerja seperti biasa.

“Nggak tahu, saat ini (kemarin, red) Hadi masih kerja tadi pagi perginya, dan saya juga belum mendapat telepon dari siapapun,” ujar Hamidin.

Menelusuri sosok Gigih Rahmat Dewa, pria yang disebut sebagai kepala jaringan teroris di Batam yang telah diamankan pagi kemarin bersama lima terduga lainnya, dikenal cukup baik oleh masyarakat sekitarnya. Alumnus Politeknik Negeri Batam jurusan Teknik Informatika ini, merupakan angkatan tahun 2011 dan wisuda tahun 2014 lalu.

Melalui Tofaneo Dean, rekan kuliah yang satu letting dengan Gigih, dia mengatakan Gigih adalah sosok yang sama persis dengan namanya ‘Gigih’. “Dia (Gigih,red) punya semangat tinggi untuk belajar. Taat beribadah (dalam Islam),” ujar Tofaneo saat dihubungi kemarin (5/8).

Walaupun tidak berada satu kelas (Gigih kelas IF-A, Tofaneo IF-B), Tofaneo juga menceritakan kedekatannya dengan Gigih semasa di perkuliahan dulu. Sepengatahuannya, sebelum mengecap pendidikan di Politeknik Negeri Batam, Gigih sempat beberapa kali pindah universitas.

“Setau saya, sebelum ke Poltek (singkatan Politeknik) Batam dia dari universitas di Malaysia, tapi lupa dari kampus mana,” sebutnya.

Gigih kemudian pindah ke Batam lantaran ada urusan keluarga. “Kedua orang tuanya sudah meninggal, jadi dia harus mengurus adik-adiknya yang masih sekolah di Jawa. Supaya lebih mudah komunikasi, Gigih memilih ke Batam,” terang Tofaneo.

Saat kuliah di Poltek, Gigih cukup terpandang. Usianya yang terbilang cukup tua dibanding rekan satu letting-nya, lebih aktif mengikuti organisasi dalam bidang bahasa Inggris atau English Club. “Gigih itu jago bahasa Inggris dan menonjol dalam programming terutama web,” lanjut Tofaneo.

Tak heran, Gigih cukup akrab dengan salah satu dosen bidang programming, Riwinoto, yang kini sebagai kepala Program Studi (Kaprodi) Multimedia Politeknik Negeri Batam. “Gigih sering konsultasi sama pak Riwi. Gitu juga pak Riwi yang sering bagi ilmu ke Gigih. Mereka saling sharing,” tambahnya.

Hingga sampai ke masa tugas akhir (TA), Gigih sibuk mengurus pernikahannya dengan wanita cantik, senior Gigih di kampus. “Dia nikah jelang TA, tapi untung sama-sama wisuda dengan saya dan rekan se-letting lainnya,” ucap Tofaneo.

Setelah wisuda, Tofaneo maupun Gigih tidak lagi saling berkomunikasi. “Udah lose contact aja. Lagian, Gigih sudah berkeluarga. Jadi sudah sibuk sama urusan masing-masing,” ungkapnya.

Terkait penangkapan Gigih Rahmat Dewa bersama lima orang lainnya itu, Tofaneo mengaku terkejut. Ia tidak menyangka adanya keterlibatan Gigih dalam jaringan terorisme. “Jujur saya baru tahu setelah dihubungi (Batam Pos) ini. Terkejut, gak nyangka orang yang saya kenal sangat baik, ramah, dan asyik diajak bergaul, bisa terlibat terorisme. Semoga ini masih kabar angin,” harapnya.

Terduga teroris Trio Syafrido yang tinggal di Kompek Masyeba No 5A, Tiban Indah dikenal pendiam oleh warga sekitar. Pria yang berpenampilan agamis ini sehari-harinya bekerja di salah satu Bank syariah di daerah Baloi.

“Iya, dia memang kerja di Bank,” kata Ketua RT02 RW 07 Perumahan Masyeba Bukit Mas, Bambang, Jumat (5/8).

Pria kelahiran Tanjungpinang, 46 tahun silam ini, rajin beribadah. Dan sekali-sekali terlihat bergabung kegiatan warga. “Isterinya juga aktif,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang tetangga korban menuturkan, di rumah bercat abu-abu dan oranye itu, terduga tinggal bersama istri dan kedua anaknya. “Siang sepi karena istrinya juga bekerja,” kata lelaki asal Medan ini.

Menurutnya, sudah beberapa hari belakangan ini, terduga jarang terlihat. Terduga dinilai sangat tertutup dan jarang bergabung dengan warga sekitar.

“Biasanya keluar hanya bekerja, antar-jemput anak sekolah,” sebutnya.

Sementara itu, Lurah Tiban Indah, Yudi Suprapto yang ikut bersama Batam Pos menuturkan terduga sudah lama tinggal disana. “Sudah sejak 2004 silam, bearti beliau ini orang lama,” kata dia.

Hadi Gusti Yandi dan M Tegar dua adalah tamatan SMKN I Batam jurusan Mekatronika tahun 2015. Keduanya adalah karyawan di salah satu perusahaan perakitan Laptop di kawasan Bintang Industri, Batuaji.

Hadi Gusti Yanda adalah putra pertama dari pasangan Hamidin dan Darma di perumahan Taman Carina blok 27/19, Batuaji dan M Tegar juga putra pertama dari Desy yang tinggal di perumahan Taman Batuaji Indah 2 blok S nomor 15. Keduanya adalah sahabat baik sejak masih sekolah sampai kerja.

Mengenai kegiatan sehari-hari kedua pemuda itu pihak keluarga mengaku tak ada yang menonjol sehingga terindikasi sebagai pelaku teroris.

Keluarga Hamidin dan Darma saat ditemui wartawan di rumah kediaman mereka terlihat tenang. Mereka bahkan mengaku tak tahu dengan informasi penangkapan anaknya. “Anak saya kerja kok. Tadi pagi pergi kerja seperti biasa. Tak ada tuh polisi yang datang kasih tahu atau kabar dari anak saya kalau dia ditangkap,” ujar Hamidin.

Sampai sore kemarin, Hamidin yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di Pemko Batam belum mengetahui informasi tersebut. Mereka bahkan bersikeras bahwa Hadi masih berada di tempat kerjanya. “Tak mungkin anak saya ditangkap karena itu. Dia anak baik-baik kok,” ujar Darma.

Hamidin dan Darma memang belum berinisiatif untuk menghubingi Hadi, sebab kebiasaan sehari-hari saat Hadi kerja memang ponselnya tak bisa dihubungi. “Tunggu saja nanti dia pulang,” ujar Darma.

Dijelaskan Hamidin bahwa putra pertama dari tiga bersaduara itu memang dikenal pribadi yang pendiam dan tidak pernah berbuat onar layaknya anak muda lainnya. “Dia sangat tekun dalam beribadah,” ujar Hamidi.

Hampir setiap malam Hadi kata Hamidi memang rutin mengikuti kegiatan pengajian di Masjid sehingga dia beranggapan anaknya itu anak baik-baik dan tidak mungkin terlibat dalam kegiatan kriminal ataupun teroris.

“Apa salah dia rajin ngaji? Setahu saya tak ada yang salah selama ini dengan cara dia meyakini agamanya (Islam). Dia anak yang penurut,” tutur Hamidi.

Memang Hadi kata Hamidi terlihat agak menonjol dalam mendalami dan menjalani ajaran agamanya, namun sebagai orangtua Hamidi malah bersyukur karena anaknya seorang yang taat beribadah dan berbakti. “Dia memang selalu bawa Alqur’an dan buku-buku agama kalau keluar, tapi itukan hal yang wajar sebagai seorang Muslim,” ujarnya.

Aktifitas Hadi memang selalu dipantaunya, namun bagaimanapun Hamidi mengaku tak bisa setiap saat mengikuti atau mengawasi sang anak.

“Dia sudah dewasa, ya tak mungkin saya mau awasi setiap saat. Dia bergaul main biasa saja sama dengan anak muda lainnya. Cuman ya bedanya dia memang tetap tekun dan rajin beribadah,” ujar Hamidi.

Menanggapi informasi penangkapan Hadi, Hamidi tetap bersikeras bahwa anaknya itu tidak bersalah.”Dia anak yang baik, tamat dari SMKN I sudah langsung kerja bantu kami. Jadi saya sebagai orangtua tetap yakin anak kami tidak seperti itu,” ujarnya.

Senada diakui oleh beberapa tetangga Hamidi yang mengaku kaget dengan informasi tersebut. “Masa iya. Dia anak baik, sejak kapan dia ditangkap?,” ujar salah satu wanita tetangga Hamidi.
Wanita yang namanya tak ingin disebutkan itu, menuturkan memang tak ada yang menonjol dari pergaulan ataupun cara Hadi menjalankan agamanya. “Dia memang rajin sekali untuk urusan agama, ya menurut saya itu baik karena jarang anak muda yang seperti dia,” ujarnya.

Terpisah di rumah kediaman M Tegar juga terlihat sama. Desy ibu Tegar saat didatangi wartawan tampak biasa saja. Dia bahkan mengaku belum tahu informasi penangkapan anak pertamanya itu. “Masa iya?. Nggak tahu saya, soalnya tadi pagi masih pergi kerja dia dan sampai siang ini belum ada informasi apapun,” ujar Desy.

Selama ini kata Desy, Tegar dikenal anak yang baik dan berbakti. Meskipun aktif dalam kegiatan Masjid, Tegar tetap bergaul normal layaknya anak muda lainnya. “Kalau nggak ngaji atau nggak keluar main di luar, dia biasanya main Laptop saja di rumah,” ujar Desy menjelaskan aktifitas anaknya di luar jam kerja.

Tidak ada yang menonjol dengan aktifitas Tegar sehingga Desy yakin anaknya itu tak mungkin terlibat dalam kegiatan semacam itu. “Dia dan Hadi memang kawan sejak di SMKN I Batuaji jurusan Mekatronika. Mereka memang pandai dalam merakit alat elektronik. Tapi nggak mungkin mereka ikut merakit bom dan lain sebagainya seperti teroris itu,” tutur Desy.

Selama ini Hadi dan Tegar memang kerap bersama saat di luar jam kerja, namun sekali lagi Desy mengaku tak ada gelagat yang menonjol dari keduanya dalam hal terorisme. “Biasa saja mereka. Tak adapun di rumah mereka ngomong atau merakit sesuatu yang mencurigakan,” ujar Desy.

Untuk Desy berharap agar informasi penangkapan itu tidak benar. Dan jika memang penangkapan itu benar maka perlu dipertimbangkan lagi, sebab Hadi dan Tegar adalah anak yang baik dan taat beribadah. (batampos)

Respon Anda?

komentar