Tak Terbukti Terduga Jaringan Teroris, Tegar Dilepas Densus 88

1872
Pesona Indonesia
Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri dan Brimob Polda Kepri melakukan penggerbekan sebuah rumah terduga teroris di Perumahan Sakura Cluster  Batamcenter saat dilakukan penggeledahan, Jumat (5/8). dari penggeledahan tersebut polisi mengamankan sejumlah barang bukti.  F Cecep Mulyana/Batam Pos
Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri dan Brimob Polda Kepri menggeledah sebuah rumah terduga jaringan teroris di Perumahan Botania 1 Cluster Sakura Batamcenter, Jumat (5/8/2016).  Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Muhammad Tegar Sucianto, satu dari enam terduga jaringan teroris yang diamankan Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Batam, Jumat (5/8/2016) pagi, akhirnya dilepas.

Tegar tidak terbukti bagian dari terduga jaringan teroris Bahrum Naim sehingga dikembalikan ke orangtuanya di Perumahan Taman Batuaji Indah 2 blok S nomor 15, Sagulung, hari itu juga sekitar pukul 18.00 WIB.

Tegar dalam penangkapan terduga jaringan teroris itu hanya sebagai saksi. Saat penangkapkan, Tegar sedang membonceng HGY (20) dengan sepeda motornya. HGY adalah rekan kerja Tegar yang hingga saat ini masih ditahan Densus karena Densus 88 mengklaim HGY terindikasi bagian jaringan teroris.

Desy, ibu Tegar, saat ditemui wartawan di kediamannya, Sabtu (6/8/2016) menjelaskan, ikut ditangkapnya anaknya karena kebetulan saja. Densus sebenarnya manargetkan HGY, yang kebetulan satu motor dengan Tegar, sehingga Tegar ikut dibawa.

”Sudah dua hari Tegar memang selalu jemput HGY untuk sama-sama ke tempat kerja. Mungkin sepeda motor HGY lagi rusak,” ujar Desy, seperti dilansir koran Batam Pos, Minggu (7/8/2016).

Tegar yang berboncengan dengan HGY dibekuk di jalan raya depan perumahan mereka. ”Waktu itu polisi menanyakan Tegar itu siapanya HGY, Tegar Jawab teman dia sejak sekolah sampai kerja, makanya dibawa,” ujar Desy.

HGY akhirnya ikut dibawa polisi ke Mako Satbrimob Polda Kepri. Menurut penuturan Desy seperti yang disampaikan Tegar, di Mako Satbrimob Polda Kepri, Tegar ditahan di ruangan yang berbeda dengan HGY.

”Satu orang satu ruangan, jadi mereka tak lihat satu sama lain saat di sana,” ujar Desy.

Sementara menurut Tegar, nyaris tidak dipedulikan oleh petugas. Ia hanya beberapa kali ditanya terkait bagaimana hubungan pertemanannya dengan HGY serta tahu tidaknya aktifitas HGY selama ini.

”Saya juga ditanya sejak kapan kenal dengan HGY,” ujar Tegar kepada wartawan.

Kepada polisi, Tegar mengaku mengenal HGY sejak SMP. Lalu sama-sama sekolah di SMK Negeri 1 Batam. Bahkan, mereka juga bekerja di satu perusahaan di kawasan Bintang Industri Tanjunguncang.

Terkait perilaku HGY, Tegar melihat terjadi perubahan cukup signifikan dari sosok temannya itu sejak rajin salat dan aktif di kegiatan keagamaan. ”Saya juga salut karena sifatnya berubah,” ujarnya.

Perubahan itu terjadi saat keduanya duduk di kelas II SMK Negeri 1 Batam. Bahkan suatu ketika, HGY mengajak Tegar untuk ikut pengajian dengan teman-temannya.

Tegar sempat ikut sekali, namun kemudian memilih tidak melanjutkan karena menurutnya ada yang bertentangan dengan sikapnya.

”Hanya sekali itu saja saya ikut karena diajak. Sampai kini saya tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang dilakukan HGY dan teman-temannya,” ujarnya.

Sementara Desy mengaku sedikit menyesal dengan tindakan polisi yang tanpa pemberitahuan membawa anaknya, namun demikian dengan telah dipulangkannya sang anak, Desy mengaku lega.

”Seharian saya kuatir sekali. Ponselnya tak aktif mau tanya kabar. Rupanya saat ditangkap ponsel mereka langsung diambil polisi. Tapi Alhamdulillah, ternyata anak saya baik-baik saja dan sudah kembali,” tuturnya.

Desy yakin kalau Tegar tak terlibat dalam kegiatan kriminal ataupun kelompok radikal lainnya. Sebab selama ini putra pertamanya itu beribadah, bergaul dan menjalani hidup apa ada layaknya pemuda lain umumnya.

”Tak ada yang menonjol. Biasa saja dia. Salat ya salat, main ya main, kerja ya kerja. Makanya kaget juga saat tahu anak saya ditangkap kemarin,” tuturnya.

Pasca penangkapannya bersama HGY salah satu terduga teroris. Tegar memang terlihat sehat sebagaimana adanya. Orangtua Tegar yang semula cemas akhirnya kembali legah setelah polisi menyatakan anaknya tak terlibat dalam jaringan terorisme itu.

Meski demikian, Tegar tetap tertekan. Selain karena sempat ditahan, berita penangkapanya sebagai salah satu terduga teroris telah menyebar.

Tegar kata Desy khawatir jika informasi penangkapannya itu berimbas pada kerjanya. Sehingga ia berharap pihak kepolisian memberikan klarifikasi resmi agar nama baik anaknya kembali dipulihkan.

”Dia takut dikeluarin dari tempat kerjanya. Makanya kami minta polisi klarifikasi dan sampaikan secara resmi bahwa anak kami ini tidak bersalah apapun,” ujar Desy. (eja/cr14)

Respon Anda?

komentar