100 Kepala Sekolah Kota Pendidikan Belajar ke SMP 9 Bintan

682
Pesona Indonesia
Rombongan Kepsek se Jogja yang belajar untuk meniru keberhasilan sekolah melibatkan lingkungan sekitar memajukan pendidikan di SMPN 9 Kabupaten Bintan, Kampung Harapan, Sei Kecil, Kecamatan Teluk Sebong, Sabtu (6/8). foto:harry/batampos
Rombongan Kepsek se Jogja yang belajar untuk meniru keberhasilan sekolah melibatkan lingkungan sekitar memajukan pendidikan di SMPN 9 Kabupaten Bintan, Kampung Harapan, Sei Kecil, Kecamatan Teluk Sebong, Sabtu (6/8). foto:harry/batampos

batampos.co.id – Seratus Kepala Sekolah (Kepsek) SMP Muhamadiyah se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belajar ke SMPN 9 Kabupaten Bintan, Kampung Harapan, Sei Kecil, Kecamatan Teluk Sebong, Sabtu (6/8). Kepsek SMP yang tergabung dalam Badan Kerjasama Sekolah (BKS) di Jawa Tengah (Jateng) itu ingin meniru keberhasilan sistem yang diterapkan pihak SMPN 9 dalam mengajak masyarakat sekitar berperan serta mendukung dunia pendidikan.

Ketua rombongan SMP se DIY, Zaenal Fanani, mengatakan sangat kagum dengan sistem yang diterapkan oleh SMPN 9 Bintan dalam mengajak masayarakat untuk ikut berpartisipasi sukseskan pendidikan. Padahal, lokasi sekolahnya di kawasan pedalaman dan terpencil. Namun murid-muridnya sangat terampil bahkan bisa bermitra dengan pelaku usaha pariwisata berkelas dunia.

“Ini sangat takjub. Sekolahnya berada di pulau namun mampu membangun kemitraan dengan lingkungan sekitar, baik masyarakat maupun dunia bisnis perhotelan pariwisata. Bahkan mitranya hotel-hotel berbintang lima di Lagoi,” ujarnya.

Diceritakannya, Kota Yogyakarta itu dikenal sebagai kota pelajar di Indonesia. Karena dari sisi latar belakang pendidikan, Kepsek SMP Muhamadiyah di daerahnya berpendidikan maksimal doktor (S3) dan minimal berpendidikan S2 manajemen pendidikan. Kemudian sistem pendidikan yang diterapkannya dengan memberikan keleluasaan kepada murid-murid untuk berkarya. Seperti memiliki majalah sekolah sendiri yang terbit setiap bulan, memfasilitasi penerbitan buku-buku fiksi maupun non fiksi karya murid-murid.

Namun semua itu, lanjut Kepsek lulusan strata 3 (S3) ini, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sistem yang diterapkan oleh SMPN 9. Karena dengan kondisi sekolah yang berlokasi di pulau bahkan pelosok kampung, SMPN 9 mampu dan bisa melibatkan serta mengayomi masyarakat dan lingkungan sekitar untuk ikut mendukung kesuksesan dunia pendidikan. Ini sebuah bukti nyata, pendidikan di pulau terpencil mampu bersaing dengan sekolah yang berasal dari kota yang maju.

“Persepsi kita selama ini pendidikan di pulau selalu tertinggal, dan jauh dari prestasi, serta keterbatasan fasilitas. Ternyata SMPN 9 Bintan bisa bersaing dengan kami-kami yang berasal dari kota pelajar. Bahkan dalam melibatkan masyarakat sekitar, SMPN 9 Bintan jauh lebih maju,” katanya.

“Malu rasanya melihat kenyataan ini. Kami semuanya tak ada yang lulusan S1. Namun sistem yang dibuat masih kalah dengan SMPN 9 Bintan,” akunya.

Kepsek SMPN 9 Bintan, Sudaromi mengatakan sistem yang diterapkannya di sekolahan dengan mengutamakan pendidikan karakter. Jadi setiap individu muridnya diajarkan bisa menjadi contoh bagi lingkungan sosial sekitar.

“Khususnya para guru terlebih dahulu. Sebagai pendidik harus menjadi teladan bagi anak didik dan lingkungan sosial sekitar. Dengan begitu anak didik juga akan mencontohinya,” ucapnya.

Selain itu, Kata Sudaromi, ia selalu melibatkan masyarakat sekitar dalam mengawali tahun ajaran baru. Seperti menggelar dialog dengan Ketua RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh pemuda maupun tokoh agama. Kemudian, ketika melaksanakan rapat evaluasi kemajuan sekolah ia juga melibatkan perusahaan sekitar. Ini gunanya untuk meminta masukan-masukan dan saran demi memajukan sekolah.

Dengan memberikan ruang agar lingkungan sekitar ikut terlibat, sambubgnya, ia mendapatkan dukungan semua pihak untuk memajukan dunia pendidikan.

“Bahkan setiap 6 bulan sekali kami mendatangkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) untuk berdialog dengan wali murid. Gunanya untuk memberikan pemahaman kepada wali murid dan murid terkait perlindungan perempuan dan perlindungan anak,” ungkapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar