Anggota DPRD Minta Pemko Batam Tolak Imigran

1204
Pesona Indonesia
Would-be immigrants are pictured in a dinghy after being rescued in the sea near Italy's southern island of Lampedusa on August 28, 2008. Seventy would-be illegal African immigrants to Europe perished when their boat sank in the Mediterranean Sea, according to eight companions rescued off Malta. AFP PHOTO/MAURO SEMINARA (Photo credit should read Mauro Seminara/AFP/Getty Images)
ilustrasi f.era muslim

batampos.co.id – Semakin hari, jumlah pencari suaka di Batam terus bertambah. Selain di hotel Kolekta Batam, Taman Aspirasi, dan depan gedung DPRD Batam menjadi lokasi tempat tinggal para imigran dari Timur Tengah, seperti yang dikutip dari koran Batam Pos.

Para imigran yang berada di Hotel Kolekta tergolong beruntung karena biaya dibiayai dan menjadi tanggung jawab UNHCR. Berbanding terbalik bagi mereka yang berada di taman Aspirasi, terkatung-katung dan tak jelas arah dan tujuannya.

Ironisnya lagi, International Organization for Migration atau Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang sebelumnya menjadi tanggung jawab mereka, lepas tangan dan melayangkan surat resmi kepada pihak DPRD kota Batam.

“IOM tak lagi memberikan biaya bagi mereka yang ada di Taman Aspirasi Batamcenter,” ujar ketua DPRD Batam, Nuryanto.

Menanggapi hal ini, politisi PDIP itu mengaku akan memberikan rekomendasi pada walikota agar bisa berkoordinasi dengan badan-badan di Muspida.

“IOM sudah tidak tanggung jawab lagi. Makanya Pemko harus ambil sikap tegas,” ucapnya. Alasannya, tak ada tempat untuk penempatan mereka.

Bila perlu Pemko harus menutup ruang ruang gerak bagi imigran ini. Pasalnya, apabila kita kasih harapan maka Kota Batam akan semakin diserbu para pencari suaka.

“Kalau perlu stop mereka, karena Batam bukan tempat mereka,” pungkasnya.

Pantauan Batam Pos (grup batampos.co.id), para imigran itu tinggal di Taman Aspirasu karena tidak mendapatkan tempat penampungan. Dalam kesehariannya, imigran ini tidur di taman dengan mendirikan tenda dengan beralaskan spanduk dan kardus.

Apabila usai Magrib, mereka pindah ke parkiran DPRD Batam. Lantai menjadi tempat peristirahatan mereka. Sebelum jam masuk pegawai dan anggota DPRD, mereka kembali pindah ke taman Aspirasi.(rng)

Respon Anda?

komentar