Bom Meledak di Rumah Sakit, 63 Orang Tewas, Mayoritas Pengacara dan Wartawan

388
Pesona Indonesia
Suasana pascaledakan bom bunuh diri di instalasi gawat darurat Civil Hospital, Kota Quetta, Provinsi Balochistan, Pakistan, Senin  (8/8/2016). Foto: AFP
Suasana pascaledakan bom bunuh diri di instalasi gawat darurat Civil Hospital, Kota Quetta, Provinsi Balochistan, Pakistan, Senin (8/8/2016). Foto: AFP

batampos.co.id -Bom bunuh diri kembali mengguncang Pakistan. Kali ini terjadi di instalasi gawat darurat Civil Hospital, Kota Quetta, Provinsi Balochistan, Pakistan, Senin (8/8/2016). Sedikitnya 63 nyawa melayang karena bom tersebut.

Bom tersebut menyasar lebih dari 100 pengacara yang berkerumun di IGD untuk memberikan penghormatan terakhir kepada rekannya yang sekaligus korban pembunuhan, Bilal Anwar Kasi. Namun naas, justeru para pengacara ini menjadi korban sasaran bom. mereka malah menjadi korban.

’’Serangan itu, tampaknya, sudah direncanakan dengan matang,’’ kata Anwar ul Haq Kakar, jubir pemerintahan provinsi.

Ledakan yang berasal dari pelaku bom bunuh diri tersebut, menurut dia, memang sengaja menyasar para pengacara. Apalagi, belakangan serangan menarget pengacara sedang marak di Pakistan. Serangan paling baru adalah yang menewaskan Kasi, ketua Asosiasi Pengacara Baluchistan.

Saat ledakan terjadi, puluhan pengacara memang berkumpul di rumah sakit milik pemerintah tersebut. Mereka bermaksud melihat jasad Kasi untuk kali terakhir. Di luar dugaan, ketika para pengacara itu menyampaikan belasungkawa, bom bunuh diri meledak.

Bukan hanya pengacara, ledakan itu juga merenggut nyawa sejumlah jurnalis yang meliput acara tersebut.

’’Ledakan itu juga mengakibatkan lebih dari 50 orang lainnya terluka,’’ jelas Abdul Rehman Miankhel, salah seorang staf senior di Civil Hospital.

Karena itu, dia yakin jumlah korban tewas akan bertambah. Paramedis sibuk mengevakuasi para korban dan memberikan pertolongan darurat. Lalu, polisi melakukan investigasi awal di lokasi kejadian. Motif dan pelaku ledakan masih misterius.

Pervez Masi, salah seorang korban yang terluka lantaran serpihan kaca jendela, menyatakan bahwa daya ledak bom tersebut sangat kuat. Dalam hitungan detik, puluhan mayat tergeletak dan darah menggenang di lantai rumah sakit.

’’Saking kerasnya suara ledakan, kami sampai tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Siapa pun pelakunya, saya yakin dia adalah binatang yang tidak punya rasa kemanusiaan sedikit pun,’’ ucapnya.

Kemarin stasiun televisi Pakistan menayangkan gambar kekacauan pasca ledakan. Genangan darah masih terlihat jelas di lokasi kejadian. Instalasi gawat darurat di rumah sakit itu juga porak-poranda.

Paramedis dan polisi tampak sibuk melakukan tugas masing-masing. Rekan dan kerabat para korban terlihat menangis sambil memukuli kepala mereka sebagai tanda berduka.

Nadeem Shah, pejabat kepolisian setempat, menuturkan bahwa pihaknya masih menyelidiki dugaan keterkaitan antara ledakan bom tersebut dan penembakan Kasi.

Pengacara senior Quetta itu ditembak mati dua pria tidak dikenal saat berangkat kerja kemarin pagi. Saat itu dia menuju kompleks pengadilan di pusat kota untuk menjalani rutinitas harian.

Kabarnya, Kasi sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong. Rekan-rekan sesama pengacara yang mendengar kabar itu lantas berdatangan ke rumah sakit. Ketika itulah pelaku meledakkan bom.

’’Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu perdamaian di provinsi tersebut. Kami akan memburu pelakunya sampai dapat dan memberikan hukuman setimpal,’’ tegas Perdana Menteri (PM) Pakistan Nawaz Sharif. (AFP/Reuters/BBC/hep/c14/any)

Respon Anda?

komentar