Fenomena Gantung Diri di Natuna Mengkhawatirkan

731
Pesona Indonesia
Ilustrasi gantung diri. Foto: istimewa
Ilustrasi gantung diri. Foto: istimewa

batampos.co.id – Pelajar stres lalu akhiri hidup dengan gantung diri, kini menjadi fenomena di Natuna. Sepertinya menjadi pilihan bagi mereka yang frustasi.

Dalam kurun waktu sejak bulan Juni lalu, sudah empat kasus bunuh diri di Natuna. Dua diantaranya adalah pelajar dan dua sudah dewasa. Bahkan sejak tahun 2015 lalu, tercatat sudah 10 korban bunuh diri, termasuk kalangan pelajar.

Kapolres Natuna AKBP Charles Panutu Sinaga mengaku heran dengan kejadian tersebut. Sejak menjabat di Natuna sudah empat korban bunuh diri ditanganinya.

Menurutnya, perlu tindakan serius elemen terkait dan masyarakat menyikapi kasus bunuh diri di Natuna. Apalagi secara umumnya hanya karena penyebab yang sepele.

Misalnya korban Kasim, kata Charles, penyebabnya diduga putus cinta. Namun kemungkinan bisa disebabkan permasalahan lain, seperti persoalan sekolah.

“Saya juga merasa aneh, kok bisa, pelajar bunuh diri. Kan masa depannya masih terbentang didepan mata. Kalau sudah dewasa bisa saja menjadi alasan himpitan ekonomi,” sebut Charles.

Menyikapi kejadian itu, sambung Charles, Polres akan membentuk tim terpadu, dan akan mengajak intansi pemerintah daerah, baik dinas pendidikan, badan pemberdayaan perempun dan Komisi I DPRD membidangi anak dan pendidikan.

Menurut Charles, frustasi anak khsusnya harus mendapat solusi. Diharapkan nanti, bersama instansi pemerintah daerah dapat menghasil solusi cemerlang terhadap permasalahan anak.

“Memang peran orang tua terhadap anak sangat pentig dan paling utama memahami psikologi anak, sebagai konselor terbaik bagi anak. Tapi lingkungan dan pemerintah juga punya solusi, kami aparat hukum akan memberikan pemahaman pencegahan, terutama ke sekolah sekolah,” jelas Charles.

Bahkan lanjut Charles, Polres Natuna sudah memilki konselor yang bisa membantu masyarakat. Dan siap membantu keluhan keluhan masyarakat termasuk kalangan pelajar.

“Polres bersama instansi pemerintah, perlu selidiki dan memberikan penyuluhan kepada sekolah. Mudah-mudahan nantinya ada solusi lebih cemerlang,” kata Charles.

Sementara pengamat pendidikan di Natuna yang juga Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, Umar Natuna menilai, tingginya kasus bunuh diri kalangan pelajar bisa disebabkan faktor lingkungan keluarga.

Umar Natuna menuliskan dalam statusnya di media sosial, menyatakan ambruknya pendidikan dalam keluarga telah melahirkan krisis peradaban dan kemanusian, seperti meningkatnya angka perceraian, perselingkuhan, narkoba, bunuh diri dan anak putus pendidikan.(arn/bpos)

Respon Anda?

komentar