Pembaca, Risma Tidak akan ke DKI Jakarta

647
Pesona Indonesia

rismabatampos.co.id – Wali Kota Tri Rismaharini memberi sambutan pelantikan pembina dan pengurus Kwartir Cabang Pramuka Surabaya di Graha Sawunggaling, Surabaya. Selama sekitar delapan menit, alumnus ITS Surabaya itu menceritakan pengalamannya mengikuti Pramuka sejak SD sampai SMA. Dia menyelingi ceritanya dengan guyonan-guyonan segar. Suasana pun menjadi ceria.

Namun, saat hendak pamit dan menutup pidato, ekspresi Risma tiba-tiba berubah.

”Kurang lebihnya saya minta maaf karena ada agenda lain. Saya minta maaf ini jangan dikira pamitan lho ya,” tegasnya, lalu turun dari podium. Peserta yang hadir pun bertepuk tangan menyambut perkataan Risma.

Setelah acara, Risma sempat meladeni pertanyaan seputar kegiatan Pramuka. Menurut dia, kegiatan Pramuka membantu generasi muda mendapatkan kedisiplinan, cinta Pancasila, dan menumbuhkan ketangkasan.

Saat ditanya soal pilkada DKI, seperti biasa, Risma menghindar. Dia hanya mengomentari aksi tanda tangan warga di Taman Bungkul saat car free day Minggu lalu (7/8). Aksi yang digagas komunitas Love Suroboyo itu berhasil mengumpulkan ribuan dukungan agar Risma tidak maju ke pilgub Jakarta.

”Nanti kita lihat lah ya,” ujarnya, lantas tersenyum sambil meninggalkan ruang.

Setelah menghadiri pelantikan itu, Risma menuju Jakarta. Namun, dia membantah kepergiannya terkait dengan pilgub DKI. Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu mengaku akan menghadiri undangan dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (BPN).

”Saya ini cepet-cepet. Soalnya, diminta Pak Menteri BPN datang,” ujar mantan kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya itu.

Pada bagian lain, gerakan menolak Risma ke Jakarta terus bergulir. Salah satu penggagasnya adalah komunitas Love Suroboyo. Shandy Setiawan, admin komunitas berbasis Instagram itu, mengungkapkan bahwa 27 ribu anggota komunitas sepakat tidak menyetujui Risma ke Jakarta. Alasannya, masih banyak PR yang belum diselesaikan wali kota perempuan pertama di Surabaya itu.

”Bu Risma yang punya masterplan pembangunan Surabaya sampai 2020. Kalau diganti orang lain, siapa yang bisa melanjutkan?” ujarnya.

Menurut Shandy, masterplan yang menjadi PR mendesak Risma, antara lain, revitalisasi eks Dolly. Bekas kawasan prostitusi itu belum berkembang sejak ditutup pemkot pada 2014. Risma berjanji untuk membentuk sentra UKM di lokasi tersebut. Tapi, hingga kini baru sentra sepatu di bekas Wisma Barbara yang berjalan dengan baik.

”Sampai sekarang masih banyak prostitusi ilegal di pinggir-pinggir jalan,” ucapnya.

Selain itu, megaproyek transportasi masal sama sekali belum terwujud. Mulai trem hingga monorel. Belum lagi masalah PKL, revitalisasi Kalimas, dan pembuatan taman-taman baru. Shandy mengungkapkan, kalau Risma ke Jakarta, bisa jadi ada dua kerugian.

Pertama, jika kalah bertarung, Risma tidak bisa kembali memimpin Surabaya.

Kedua, kalaupun menang, Risma bikin warga Surabaya kecewa.

”Karena amanah di Surabaya belum diselesaikan. Janjinya memimpin lima tahun, bukan cuma 6–7 bulan,” terangnya. (sal/nir/oni)

Respon Anda?

komentar