Ratusan Warga Blokir Jalan Truk Tambang

1392
Pesona Indonesia
TUTUP AKSES JALAN TRUK: Ibu-ibu warga Dusun Kampungbaru, Jorong Gando, Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjungsirih, Kabupaten Solok berunjuk rasa dengan menutup akses jalan utama perlintasan truk tambang galian C. Akibatnya, lalu lintas truk terhenti lebih dari 5 jam, kemarin, (8/8)--riki/padang ekspres
TUTUP AKSES JALAN TRUK: Ibu-ibu warga Dusun Kampungbaru, Jorong Gando, Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjungsirih, Kabupaten Solok berunjuk rasa dengan menutup akses jalan utama perlintasan truk tambang galian C. Akibatnya, lalu lintas truk terhenti lebih dari 5 jam, kemarin, (8/8). foto: riki/padang ekspres/jpg

batampos.co.id — Puluhan warga Dusun Kampungbaru, Jorong Gando, Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjungsirih, Kabupaten Solok, Sumbar, berunjuk rasa dengan menutup akses jalan utama perlintasan truk tambang galian C. Akibatnya, lalu lintas truk terhenti lebih dari lima jam, kemarin, (8/8).

Seperti diberitakan Padang Ekspress (Jawa Pos Group), hari ini (9/8), emosi masyarakat memuncak akibat dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan aktifitas lalulintas ratusan truk pengangkut hasil tambang galian C yang setiap hari melintas dikawasan tersebut. Tidak saja merusak jalan, namun abu yang ditimbulkan juga telah mengganggu kesehatan masyarakat.

Kemarin, (8/8), sekitar pukul 07.30 Wib, puluhan warga yang didominasi ibu-ibu rumahtangga turun untuk memblokir jalan di kawasan Dusun Kampungbaru, Jorong Gando, Nagari Paninggahan dengan membakar ban mobil. Serta membentangkan kayu-kayu ke tengah jalan untuk menghambat jalu truk pengangkut galian C.

Setidaknya, sekitar 500 meter jalan dikawasan tersebut rusak parah akibat lalu lintas truk tambang yang telah beroperasi sekitar 17 tahun lalu. “Kami dan anak-anak kami sakit akibat debu jalan yang disebabkan truk pengangkut pasir,” sebut Nurhayati, 51, perwakilan warga Dusun Kampungbaru, Jorong Gando, Nagari Paninggahan.

Wali Nagari Paninggahan, Yoserizal menyebutkan, tuntutan masyarakat tersebut adalah soal kerusakan jalan dan debu yang ditimbulkan. Sehingga, jika pihak tambang tidak mengindahkan, warga tidak akan membuka pemblokiran jalan.

“Mereka minta jalan di aspal, kalau belum di aspal, perusahaan harus menyiram lokasi jalan rusak agar tidak memunculkan debu,” kata Yoserizal yang mengaku tidak menyaksikan kejadian pemblokiran tersebut karena sedang dalam perjalanan.

Melihat situasi semakin memanas, Kapolsek Junjungsirih bersama pihak Nagari dan Kecamatan Junjungsirih mencoba menenangkan warga untuk melakukan mediasi di kantor Camat tersebut. Sekaligus mendatangkan perwakilan pengusaha tambang.

Kapolres Solok Kota AKBP Susmelawati melalui Kapolsek Junjungsirih AKP Basri menerangkan, warga bersama perwakilan pengusaha tambang berhasil dimediasi sekitar pukul 11.30 Wib dengan menuliskan beberapa kesepakatan yang ditanda tangani bersama dengan Camat Junjungsirih, Wali Nagari, Kapolsek, perwakilan masyarakat, dan pengusaha tambang itu sendiri.

Beberapa kesepakatan yang harus dipenuhi pihak tambang hasil pertemuan tersebut, antara lain, pihak tambang berjanji akan mengaspal jalan di kawasan dusun Kampungbaru, Jorong Gando. Kedua, sebelum pengaspalan berlangsung, pihak perusahaan tambang akan menyiram jalan berdebu sebanyak 6 kali sehari. Ketiga, untuk penyiraman jalan, pihak tambang akan menyediakan pompa air dilokasi jalan berdebu.

Kemudian, jika ada masyaraka yang menderita sakit akibat dampak debu jalan, pihak tambang bersedia membiayai pengobatan dan warga bersedia kembali membuka jalan setelah pihak tambang menyepakati hal tersebut.

“Aktifitas truk kembali berjalan sekitar pukul 12.00 Wib setelah didapati kata sepakat,” terang AKP Busri.

Kendati pemblokiran jalan telah dibuka, perwakilan warga setempat, Nurhayati mengaku sedikit kecewa dengan hasil kesepakatan bersama itu. Pasalnya, saat mediasi, pihak pengusaha tambang berjanji akan melakukan pencoran atau pengaspalan jalan paling lama sekitar 1,5 bulan lagi. Namun, janji tersebut tidak tertuang dalam berita acara pertemuan dan perdamaian di kantor Camat.

“Kapan waktu dicornya tidak jelas. Besok saya akan temui lagi pihak Kecamatan,” tegas Nurhayati.

Terkait hal ini, Padang Ekspres belum mendapatkan jawaban dari Camat Junjungsirih, Herman. Sebab, saat dihubungi, telepon selulernya tidak menyambung.

Seperti diketahui, pemblokiran jalan menuju lokasi tambang Paninggahan ini kerap terjadi. Sebelumnya, pada 10 September 2015 lalu, ratusan warga Nagari Saningbaka, Kecamatan X Koto Singkarak juga berunjuk rasa dengan menutup akses jalan menuju Nagari Paninggahan. Masyarakat Saningbaka kala itu juga menuntut hal yang sama tentang perbaikan jalan dan masalah debu jalan akibat aktifitas truk tambang.

Di Nagari Paninggahan, terdapat 4 perusahaan tambang galian C. Diantaranya, PT Mutiara Perdana, PT Tanah Kayo, PT Tanakai dan PT Epi Tan Kayo. (jpg)

Respon Anda?

komentar