Bayi Dianto Lahir, Satu Badan Dua Kepala

900
Pesona Indonesia
foto: guslan gumilang / jawa pos
foto: guslan gumilang / jawa pos

batampos.co.id – Pasangan Sri Wahyuni dan Dianto sepakat selama sembilan bulan kehamilan, tak sekali pun melakukan tes ultrasonografi (USG) pada kandungannya.

Anak pasangan asal Kelurahan Indro, Kebomas, Gresik, Jawa Timur itu lahir Selasa (9/8), di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ibnu Sina, Gresik.

Satu tubuh dua kepala.

Dianto terlihat sangat terpukul dengan kenyataan itu. Buruh pencari batu kerikil untuk bahan bangunan itu tidak kuat menahan air matanya. Lelaki 32 tahun tersebut terlihat shock.

Sri Wahyuni idem ditto. Perempuan 33 tahun tersebut adalah penjual jus buah di kawasan eks PKL bundaran Gresik Kota Baru (GKB). Tapi, selama kehamilan, ladang penghasilannya terganggu. Ada penggusuran. Karena itu, perempuan asal Sumatera tersebut tidak bisa berjualan lagi.

Kondisi ekonomi Dianto memang tergolong kurang mampu. Tapi, dia mengaku bahwa istrinya tidak pernah mengalami masalah selama kehamilan. Hanya penggusuran PKL di kawasan bundaran GKB yang membuatnya tertekan.

Selama sembilan bulan kehamilan, Sri Wahyuni tidak pernah memeriksakan kondisi kesehatan bayinya. Dia merasa tidak ada masalah pada janin yang sedang dikandungnya.

Penginnya juga menjadi kejutan untuk keluarga,” ungkapnya.

Nah, proses kelahiran itu berawal pada Senin malam (8/8). Sri Wahyuni merasakan perutnya sakit. Mereka lantas pergi ke puskesmas alun-alun. Dokter di puskesmas hanya menyatakan bahwa posisi si bayi sungsang. Lalu, Selasa dinihari pukul 04.30 Sri dirujuk ke RSUD Ibnu Sina.

Empat dokter spesialis langsung turun tangan. Mereka adalah dua dokter spesialis anestesi, satu dokter kebidanan dan kandungan (obstetri dan ginekologi), serta satu dokter anak.

Sri pun harus menjalani operasi pukul 08.00–09.00. Tim dokter sempat mengalami kendala saat proses persalinan.

”Sempat kesusahan saat mengeluarkan kepala bayi,” ujar dr Yulia Arisanti SpOG.

Dokter Santi, sapaannya, menuturkan bahwa kondisi tersebut seharusnya bisa diketahui sejak dini. Tujuannya, persiapan sebelum operasi bisa lebih matang.

”Karena itu, perlu skrining (USG, Red) secara berkala. Paling tidak mulai usia kandungan tiga bulan,” terangnya.

Berdasar analisis, bayi tersebut seharusnya lahir kembar. Namun, terjadi pemisahan yang tidak sempurna saat bayi berada di dalam kandungan. Penyebabnya belum bisa dipastikan.

Saat dilahirkan, bayi sempat menangis. Namun, hanya satu kepala di sisi kanan yang menangis. Sementara itu, kepala kiri hanya melihat ke atas. Bayi tersebut terlihat sehat.

Dianto langsung shock saat melihat kondisi anak keduanya itu. Air matanya tidak bisa ditahan lagi. Tubuhnya terlihat lemas. Pria berambut panjang tersebut berjalan ke luar ruangan dengan kondisi penuh duka.

Sementara itu, Sri masih dalam masa pemulihan pasca persalinan. Kondisinya tidak sadarkan diri hingga pukul 15.00. Setelah siuman, pihak keluarga belum menceritakan kondisi bayinya.

Untuk memastikan kondisi organ bayi, dilakukan foto rontgen. Hasilnya, jumlah organ dalam bayi hanya satu. Mulai jantung, paru-paru, lambung, hingga hati. (adi/dos/jpos)

Respon Anda?

komentar