Pak Menteri, Full Day School Tak Bisa Dipukul Rata

336
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Kini, giliran Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) buka suara menanggapi wacana full day school yang dilontarkan Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy.

Ketua KPAI Asrorun Ni’am Sholeh meminta wacana tersebut dikaji kembali sebelum diimplementasikan.

Banyak alasan yang mendasari permintaan kaji ulang tersebut. Pertama, tentunya soal kajian program full day school ini. Menurutnya, hingga kini belum ada kajian matang soal konsep pendidikan tersebut. Sehingga, bila langsung diterapkan dikhawatirkan justru merugikan anak.

Asrorun mengaku paham betul bila rencana kebijakan ini mencuat atas pertimbangan kondisi orang tua yang sibuk bekerja. Namun, menurutnya, hal itu tidak bisa dipukul rata atau digeneralisir hingga akhirnya harus mengubah jadwal aktivitas anak. Karena, pada kenyataannya tidak semua orang tua bekerja di luar rumah.

Selain itu, penerapan suatu program sejatinya harus diikuti dengan perbaikan yang memadai. Bukan hanya dengan mengandangkan anak di sekolah tanpa perbaikan sistem pendidikan, yang menjadikan lingkungan sekolah ramah anak. Bila tidak, kebijakan ini malah akan menyebabkan potensi timbulnya kekerasan di lingkungan sekolah.

”Karenanya kebijakan pendidikan apalagi yang bersifat nasional tidak bisa didasarkan pengalaman orang per orang. Tidak boleh hanya berdasar kepada pengalaman pribadi. Selain itu, setiap anak memiliki kondisi berbeda-beda yang tidak bisa disamaratakan,” ujarnya di Jakarta, kemarin (9/8).

foto: cecep mulyana / batampos
foto: cecep mulyana / batampos

Kedua, terkait interaksi sosial anak. Menurutnya, menghabiskan waktu dengan durasi panjang di sekolah bisa jadi malah mengganggu intensitas interaksi anak. Bahkan, dikhawatirkan bisa berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak. Pasalnya, anak yang butuh interaksi dengan lingkungan rumah dan keluarga justru berada lebih lama di sekolah.

”Kondisi anak tidak bisa disamaratakan. Dalam kondisi tertentu, anak jangan lama-lama di sekolah. Seperti anak kelas 1 SD, harus segera pulang agar cepat berinteraksi dengan orang tua,” ujarnya.

Diakui Asrorun, soal waktu belajar seharian di sekolah ini memang ada sisi positifnya. Pihaknya pun mendukung, asal ini tidak dipaksakan pada semua sekolah. Sehingga orang tua diberi keleluasaan untuk memilih.

”Intinya, untuk menjawab permasalahan anak, perbaikan kebijakan harus berporos pada anak,” tegasnya.

Pakar Pendidikan Nasional Arief Rachman menyatakan, gagasan full day school yang dilontarkan Mendikbud itu bagus. Saat ini, sudah banyak sekolah yang menerapkannya. Para siswa pun pulang pada sore hari. Hal itu lebih baik daripada anak pulang siang hari. Mereka tidak ada kegiatan di rumah. Orang tua pun masih bekerja.

Jadi, banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah full day. Mereka merasa tenang, karena anak mereka berada di sekolah. Para siswa bisa mendapatkan berbagai pelajaran. Mereka juga aman dalam pengawasan para guru. Berbeda jika mereka sudah di rumah. Ketika orang tua bekerja, tidak ada orang yang mengawasi mereka.

Namun, kata Arief, ada lima hal yang harus diperhatikan sebelum konsep pendidikan itu diterapkan secara nasional. Yang pertama harus dibuat kesepakatan antara sekolah, siswa, orang tua siswa, guru, dan dinas pendidikan. Apakah mereka sepakat untuk menyelenggarakan pendidikan full day. Kesepakatan itu penting agar mereka mempunyai komitmen bersama untuk melaksanakan sistem tersebut.

Kedua, terkait dengan manajemen sekolah. Menurutnya, sekolah harus menyusun kurikulum yang bervariasi. Pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. Banyak pilihan bagi siswa untuk belajar pelajaran yang mereka senangi.

“Kalau tidak bervariasi, siswa akan bosan,” terangnya, kemarin (9/8).

Sedangkan yang ketiga, fasilitas sekolah harus memadai. Seperti kantin, sehingga siswa dengan mudah mendapatkan makanan. Sekolah juga perlu menyiapkan tempat istirahat bagi siswa. Khususnya bagi siswa yang masih kelas 1 atau 2 sekolah dasar (SD).

“Mereka kan lama di sekolah,” paparnya.

Keempat, sekolah harus mempunyai tata kelola keuangan dengan baik. Banyak biaya yang dibutuhkan. Harus ada perhitungan secara matang untuk mencukupi semua kebutuhkan. Dan yang kelima, sekolah harus bisa memberikan pembelajaran yang menyenangkan, sehingga bisa mencapai tujuan pendidikan.  Yaitu, menyediakan pembelajaran dengan terencana yang bisa mengembangkan lima potensi. Potensi spiritual, emosional, intelektual, sosial, dan jasmani.

Arief mengatakan, sebelum diberlakukan, pemerintah perlu melakukan penelitian dan studi kelayakan. Daerah atau sekolah mana saja yang siap melaksanakan sistem full day school. Jadi, pemerintah tidak asal melaksanakannya.

“Harus betul-betul cermat,” ungkapnya.  Jika ada daerah yang belum siap dan belum membutuhkan, maka sistem itu tidak perlu dilaksanakan.

Pemerintah tidak boleh memaksakan sistem tersebut, karena tidak semua daerah siap melaksanaknnya. Membutuhkan fasilitas dan sarana yang lengkah untuk menyelenggarakan sistem full day. (wan/via/mia/lum)

Respon Anda?

komentar