Tenaga Kerja Teh Celup Ini Merasa Ditipu Pihak Perusahaan

1177
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Para pencari kerja di Kota Tapis Berseri harus lebih hati-hati sebelum memutuskan melamar pekerjaan. Salah-salah, bukannya meraih untung, malah mendapat buntung.

Seperti yang terjadi pada DN, mantan mitra kerja PT Hadena Indonesia cabang Lampung, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan produk herbal kesehatan.

DN awalnya merasa tertarik dengan iklan pada sebuah brosur perusahaan tersebut. Isinya, perusahaan itu membutuhkan mitra freelance untuk jasa pengeleman kantong atau benang teh celup herbal.

’’Dalam brosur itu pula diimingi, jika kita kerja mengelem satu kotak, mendapatkan upah Rp60 ribu,” kata DN kepada Radar Lampung (Jawa Pos Group), hari ini (10/8).

Namun faktanya, setelah mendatangi kantor tersebut, dia malah harus membayar Rp275 ribu. Belum cukup, dia masih harus mengajak orang untuk mendaftar, baru mendapatkan komisi Rp4 ribu per orang.

Beberapa waktu lalu, kasus ini memang sempat mencuat. Bahkan hingga menimpa seluruh lapisan masyarakat dari kalangan pelajar sampai ibu rumah tangga.

’’Semula kami tertarik dengan iklan selebaran yang menjanjikan penghasilan Rp60 ribu setelah mengelem satu kotak teh. Tetapi setelah bergabung, kami malah kecewa,” ungkap HN, salah seorang warga.

Dia mengungkapkan, beberapa pekan lalu bergabung dengan perusahaan ini sesuai selebaran yang diterima. Yakni pengeleman kantong teh. Pada saat itu, datang juga rekannya diminta wawancara layaknya melamar kerja dengan membayar Rp10 ribu.

Karena tertarik, dia kemudian ikut bergabung menjadi member dengan membayar pendaftaran Rp10 ribu dan mengambil kartu anggota dengan membayar Rp275 ribu.

Kekecewaan muncul ketika uang Rp60 ribu sebagaimana yang dijanjikan ternyata tidak dia terima. Bahkan uang pengganti pengeleman satu kotak teh itu diganti dengan barang berupa minuman teh herbal sebanyak satu kotak.

“Awalnya saya mengetahui ini dari selembaran brosur. Saya tertarik karena setelah pengeleman satu kotak teh digantikan Rp60 ribu, lima kotak Rp300 ribu, dan 10 kotak Rp600 ribu sesuai yang ada di brosur. Ketika selesai mengelem satu kotak teh, saya ingin mengambil uang Rp60 ribu namun malah diganti dengan minuman,” ucapnya.

Saat dikonfirmasi, Manajer PT Hadena Indonesia Dani membantah jika perusahaannya disebut melakukan penipuan. Dia menjelaskan, sejak awal pihaknya mencari mitra kerja atau freelance. Namun hal itu rupanya disalahartikan.

’’Kami bukan MLM (multi level marketing), tapi sistemnya yang hampir sama. Ini masalah pemahaman sistem kerja, yang banyak disalahartikan,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Dani membenarkan jika pihaknya memberikan persyaratan regitrasi keanggotaan sebesar Rp 275 ribu. Namun itu hanya dilakukan sekali sebagai biaya keanggotaan, pembinaan, sistem, dan produk.

’’Nantinya mereka mendapatkan satu kotak berisi 50 lembar untuk mereka lem dan brosur. Nah brosur itulah yang nantinya menjadi alat. Jika mereka berhasil membawa orang, tentu ada komisi,” katanya.

Untuk setiap orang baru yang mendaftar, ada komisi Rp4 ribu. Dan apabila orang baru yang diajak juga membayar registrasi keanggotaan Rp 275 ribu, maka akan kembali mendapat hak pengeleman satu kotak Rp60 ribu.

’’Contoh jika ada 200 brosur disebar, 10 orang yang datang, maka sudah berhak dengan komisi Rp40 ribu. Dari 10 orang itu jika ada yang registrasi tiga orang, maka komisi hak pengeleman Rp60 ribu dikali tiga yakni Rp180 ribu. Komisi bisa terus bertambah, jika informasi terus disebar,” pungkasnya. (jpg)

Respon Anda?

komentar