Full Day School Cocok di Batam, Tapi Tidak Cocok di Pulau-Pulau

696
Pesona Indonesia
Ilustrasi dokumen jpnn
Ilustrasi dokumen jpnn

batampos.co.id – Satu per satu anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Riau yang membidangi pendidikan mulai angkat suara mengenai wacana kebijakan penerapan sistem full day school.

Maaz Ismail yang punya pengalaman menjabat di Dinas Pendidikan Batam ini menerangkan, penerapan sistem full day school di Kepri yang paling memungkinkan hanya di Batam saja. “Kalau untuk daerah pulau-pulau saya rasa belum cocok,” ungkap Maaz, Rabu (10/8).

Sepengamatan Maaz, masih ada banyak hal yang lebih dipentingkan dalam membangun pendidikan di pulau-pulau ketimbang memikirkan penerapan sistem sekolah sehari penuh ini.

Seperti yang utarakan anggota Komisi IV lainnya, dr Afrizal Dachlan. Menurutnya, penyiapan sumber daya manusia seperti tenaga pendidik dan kependidikan jauh lebih urgen dikedepankan. Belum lagi, sambung Afrizal, sarana dan prasarana sekolah yang ada.

“Padahal dari tinjauan Komisi IV selama ini, sekolah-sekolah di wilayah Kepri masih banyak yang merasakan minimnya sarana prasarana sekolah. Ini yang saya rasa mesti diperbaiki dulu daripada memikirkan full day school,” kata dia.

Senada dengan yang lain. Anggota Komisi IV Yusrizal juga punya pendapat serupa. Bahkan ketakcocokan penerapan full day school di Kepulauan Riau, kata dia, mesti dibuktikan sendiri oleh Menteri Pendidikan Muhadjir dengan meninjau langsung sekolah-sekolah yang ada di pulau-pulau.

“Menteri harusnya keliling ind dulu untuk tahu kondisi sekolah-sekolah di Indonesia. Kaji dulu dari infrastruktur sekolah. Memenuhi tidak ruang belajarnya. Sekarang saja masih ada sekolah yang dua shift. Kalau yang full day school harus gimana? Dan juga masih banyak sekolah yang belum memiliki perpustakaan, laboratorium dan majelis guru bahkan,” ungkapnya.

Bahkan hasil peninjauan Komisi IV beberapa waktu lalu di Karimun, masih ada sekolah yang belum punya majelis guru. Kendati sudah berulang kali dilakukan peningkatan kualitas sarana pendidikan, kata Yusrizal, masih ada banyak hal lain yang juga harus diselesaikan.

Ketersediaan guru juga kerap tidak sepadan dengan jumlah siswa. Bahkan di pulau-pulau, kata Yusrizal, masih ada sekolah dengan jumlah siswa yang begitu sedikit. “Kalau muridnya hanya lima orang, mau disuruh ngapain sampai sore gitu. Gaya hidup soal orang tua kerja sampai sore itu kan tidak berlaku di daerah. Makanya kembali lagi, kaji dululah. Sebagai seorang menteri seharusnya pola fikirnya bisa lebih baik dari kami yang ada di sini,” ujarnya. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar