Kostum Peserta Lomba Gerak Jalan Trijuang Tidak Boleh Vulgar

1235
Pesona Indonesia
Peserta gerak jalan 17 km melintas di jalan Wiratno Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. F.Yusnadi/Batam Pos
Peserta gerak jalan 17 km melintas di jalan Wiratno Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Dinas Pemuda dan Olahraga Tanjungpinang memastikan kembali menggelar Lomba Gerak Jalan Trijuang. Kegiatan ini selalu dinanti masyarakat kota dari tahun ke tahun. Tapi bukan tanpa polemik yang terulang dan terus terngiang. Umumnya perihal kostum yang dikenakan.

Menyudahi polemik ini perlu langkah cergas lagi tergas. Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) I Kota Tanjungpinang, Ade Angga sepakat, polemik kostum ini harus disudahi sejak gelaran tahun ini.

“Saya masih dan akan selalu yakin, kreativitas yang menghibur itu tidak harus cabul,” ungkap Angga, Rabu (10/8).

Politisi muda Partai Golkar ini berpendapat, langkah cergas itu bisa dimulai dengan sosialisasi dini sejak dini. Kalau perlu, kata dia, sejak hari ini. Sehingga dalam waktu yang tersisa ini, ratusan atau bahkan ribuan peserta bisa lekas putar kepala, beradu kreativitas mengenai kostum yang digunakan.

Kalau sudah begini, Angga menilai, referensi tentu menjadi pijakan dasar agar adu kreativitas bisa terlaksana. Tidak perlu repot. Ia mencontohkan, para peserta bisa saja mengambil atau menggali inspirasi dari tema gelaran ini.

“Trijuang itu mencerminkan semangat 1945. Ini sudah ide. Lalu diperluas. Mau membuat seragam pejuang kala itu, atau pejuang di kerajaan Melayu. Belum lagi warnanya bisa dimainkan. Merah putih dibuat semarak dan dominan,” kata dia. “Jadi kreativitas itu memang tidak mengenal batas.”

Cergas saja tidak cukup. Angga menilai perlu langkah tegas dari panitia penyelenggara. Pemerintah Kota Tanjungpinang, kata Angga, perlu membuat aturan main yang tegas. Peserta-peserta yang kedapatan melanggar batas norma kostum yang dikenakan, bisa saja dihentikan sebelum penyelenggaraan atau membubarkannya di tengah jalan.

Tapi bagaimana mengikat komitmen itu semua? Angga menjawab, gampang saja. “Tiap peserta ketika mendaftar harus ikut menandatangani komitmennya tentang aturan kostum yang dikenakan,” ujarnya.

Sebagai anak jati Tanjungpinang, Angga mengharapkan hal semacam ini bisa terwujud. Karena ini berkenaan langsung dengan tata krama dan citra penduduk kota. “Warga Tanjungpinang ini berada di titik yang pernah jadi episentrum kebudayaan Melayu. Hal ini mesti tercermin hingga kini dalam laku hidup sehari-hari,” katanya.

Bila tidak ada halangan dan sebagaimana yang sudah diagendakan, Lomba Gerak Jalan Trijuang dihelat selama tiga hari pada 23, 25, 27 Agustus mendatang. Pendaftaran peserta juga sudah dibuka sejak seminggu lalu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Lomba Gerak Jalan Trijuang dibagi dalam tiga kelas. Yakni, jarak 17 kilometer, delapan kilometer, dan 45 kilometer. “Untuk pendaftaran 17 kilometer hingga 22 Agustus, delapan kilometer sampai 24 Agustus, lalu 45 kilometer sampai 26 Agustus,” terang Ketua Panitia Pelaksana Gerak Jalan Trijuang, Zulkarnain. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar