Melihat Sekolah yang Menerapkan Full Day School

991
Pesona Indonesia

Wacana full day school (FDS) atau sekolah sehari penuh yang dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi menyedot perhatian khalayak luas. Sesungguhnya, FDS bukanlah sesuatu yang baru. Sistem ini sudah berjalan di beberapa sekolah swasta, termasuk di Batam.

Rabu (10/8) pagi, Batam Pos mengunjungi Al Kahfi Islamic School (AIS) di The Capitol Imperium Blok A Nomor 42B-47 Jalan Jenderal Sudirman Batam. Sekolah ini sudah menerapkan full day school (FDS) sejak awal berdiri. Sepintas tidak ada perbedaan sekolah ini dengan sekolah pada umumnya. Ada guru, juga ada murid, suasana belajarnya pun demikian. Namun saat waktu salat Dzuhur tiba, tanpa komando berlebihan, anak-anak SD yang masih belia itu menggapai sajadah dan bergegas wudhu lalu siap-siap salat.

Itu bukan hal baru di sekolah ini. Kepala SD AIS, Yona Melinda mengungkapkan, walau masih belia, penanaman nilai keislaman dilakukan sejak dini.

Sejak angkatan pertama lima tahun lalu, sekolah ini telah menerapkan full day school dari pukul 08.00 hingga pukul 14.30 WIB. Yona mengatakan, penerapan FDS tidak memberatkan jika manajemen sekolah bagus.

“Malah ada anak-anak yang nggak pengen pulang, alhamdulillah,” kata Yona.

Sistem ini berhasil karena FDS tidak semata-mata mendengarkan guru mengajar. Suasana belajar dibuat semenarik mungkin tanpa membebani peserta didik. Tidak hanya itu, untuk kelas empat dan lima pada hari Rabu ada ekstrakurikuler yang dilakukan dari pukul 14.00 hingga pukul 15.00 WIB. Sementara Jumat pukul 14.00 WIB hingga 14.30 WIB. Ekskul-ekskul itu di antaranya pramuka, beladiri, tata boga, juga klub tanfidz.

“Kalau tidak begitu, kita yang besar saja bosan apalagi anak-anak,” ungkapnya.

foto: rezza herdiyanto / batam pos
foto: rezza herdiyanto / batam pos

Ia menilai FDS bagus. Dengan jam pelajaran yang lebih banyak anak diberikan kesempatan yang cukup untuk mengembangkan diri, termasuk di antaranya menghafal Alquran.

“Apalagi anak-anak usia ini mudah hafalnya. Sekarang ada yang hafal dua juz, tiga juz.  Bahkan ada yang enam juz anaknya kelas lima sekarang,” katanya.

Anak yang mengahafal enam juz Alquran itu adalah

Najib Rohimat,10, anak dari pasangan

Ias dengan Rohimat warga Legenda Malaka Batam Center. Najib mengungkapkan lama di sekolah tidak masalah buatnya.

“Belajarnya bagus. Salat sama teman-teman. Bagus hafal Alquran saja daripada ke warnet,” kata Najib malu-malu.

Sementara itu Ketua Tim Penjamin Mutu SD Muhammdiyah Kurnia Djaja Alam, Batam, Heny Kusdayanti mengatakan penerapan FDS tidak serta-merta mengurangi dunia bermain anak. Malah jika bermain di sekolah, selain ada pembimbing juga banyak teman.

“Di rumah mereka akan cari teman di luar.  Apalagi kalau orang tua tidak ada di rumah,” katanya.

Selain itu, karena waktu di sekolah dari pukul 07.20 hingga pukul pukul 15.00 WIB, anak-anak punya kesempatan untuk salat berjamaah, berbeda jika anak pulang sebelum waktu salat Dzuhur dan akhirnya tidak menutup kemungkinan akan melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat.

“Dengan FDS anak bisa mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat seperti main game atau warnet. Kalau di sekolah kan bermain dapat, disiplin dapat, nggak monoton belajar,” katanya.

Wali murid dari Yodha Krakatau Nusantara,8, Andriani mengatakan penerapan FDS tidak jadi masalah, namun yang penting adalah kesiapan guru.

“Sebenarnya yang paling penting itu adalah kualitas gurunya, sabar tidak dia (guru) mengajari anak-anak. Bisa tidak dia (guru) memberi pemahaman pelajaran ke anak-anak. Bukan masalah kurikulum atau full day sekolahnya,” katanya.

Meski begitu, sekolah sehari penuh, kata Andriani, ada positifnya. Karena sekolahnya mengutamakan pendidikan agama dan pembentukan karakter anak sejak dini.

“Ibarat jadi orang pintar itu bagus, tapi apa artinya kalau orang pintar namun tidak berakhlak,” kata ibu muda ini.

Kegiatannya dimulai dari pukul 7.20 sampai pukul 15.00 WIB. Selama di sekolah, anak-anak mengikuti beragam kegiatan, yaitu kegiatan agama, belajar, istirahat hingga beragam ekstrakurikuler untuk menyalurkan bakat anak-anak. Untuk murid SD, kegiatannya dimulai dengan membaca iqro, lalu shalat dhuha berjamaah.

“Saat salat dhuha berjamaah, anak-anak cowok mendapat giliran untuk menjadi imam. Dengan begitu biarpun anak saya masih murid kelas 3 SD, anak saya sudah terbiasa menjadi imam,” kata Andriani.

Selain itu, karena sekolahnya dari pagi sampai sore dan tidak ada kantin di SD Muhammadiyah Plus, para orang tua wajib membekali anak-anaknya snack untuk dimakan saat jam istirahat dan bekal makanan untuk makan siang.

“Anak-anak terbiasa bawa bekal ke sekolah dan dibiasakan untuk tidak jajan. Pernah waktu anak saya kelas 1 SD, selesai sekolah saya ajak jajan pao yang ada di depan sekolah. Besoknya saya dapat surat dari sekolah, para orang tua tidak boleh mengajak anaknya jajan di sekitar sekolah. Saya pikir ini hal bagus. Karena kalau anak sudah terbiasa jajan menghentikannya itu susahnya luar biasa,” katanya. (ADIANSYAH, Batam Pos)

Respon Anda?

komentar