Orang Rimba Mulai Khawatir

858
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Meninggalnya Merangkuan, 5, akibat komplikasi hepatitis, meninggo encepaletis dan anemia akut menimbulkan kekhawatiran bagi Orang Rimba lain.

Menurut Menti Gentar, salah satu pimpinan adat di kelompok Tumenggung Ngadap, sebagian Orang Rimba di Sako Tulang sudah pergi melangun.

Sako Tulang merupakan daerah asal Merangkuan, sedangkan Menti Gentar yang bermukim di Sako Nini Tulang sekitar 4 km dari Sako Tulang ikut merasakan ketakutan yang terjadi di kalangan Orang Rimba.

”Kami di rimba sering terjadi penyakit semacam ini, saat ini anggota kelompok kami banyak yang sakit demam dan batuk, ada yang kuning juga dan deman kuro (malaria, red),” sebut Menti, 30, seperti diberitakan Jmabi Independet (Jawa Pos Group).

Untuk itu, Menti sangat berharap ada tindakan dari pemerintah untuk melakukan penanganan terhadap penyakit yang menyerang Orang Rimba. ”Kami berharap ada petugas kesehatan yang datang ke tempat kami, melakukan pengobatan, dan juga memberi kami untuk tahan dengan penyakit itu,” sebut Gentar.

Dikatakan Gentar, Orang Rimba sudah mengetahui adanya hasil studi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman tentang penyakit hepatitis yang menyerang orang rimba.

”Kami sudah diberi tahu kalau kami sangat banyak yang kena penyakit hepatitis, waktu itu ada dokter yang memeriksa kami, kami takut mendengarkannnya waktu itu. Makanya kami juga sudah pergi ke dinas kesehatan, supaya ada tindakan dari pemerintah pada kami,” sebut bapak tiga anak ini.

Hanya saja, lanjut Gentar, hingga kini belum juga ada tindakan langsung ke Orang Rimba. ”Tolonglah kami ini, sakit kuning itu banyak pada kami, kami tidak tahu bagaimana mengatasi penyakit ini,” sebutnya.

Rusli Effendi Fasilitator Kesehatan WARSI menambahkan, sejauh ini banyak faktor yang menyebabkan Orang Rimba sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Penyebab utamanya belum adanya kekebalan Orang Rimba dalam melawan penyakit menular yang menyerang mereka.

”Idealnya ada imunisasi massal yang dilakukan pada Orang Rimba, sembari melakukan kampanye hidup bersih pada Orang Rimba,” sebut Rusli.

Rusli mencontohkan Merangkuan yang berusia 5 tahun mengidap hepatitis, sangat mungkin tertular dari orang dewasa di sekitarnya. Ketika daya tahan tubuhnya yang lemah karena juga menderita anemia sangat mungkin menyebabkan dia terserang virus meningo encepalitis atau peradangan pada otak,” sebutnya.

Kondisi kesehatan Orang Rimba yang dalam ancaman besar hepatitis dan malaria sudah terungkap melalui studi yang dilakukan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman bekerjasama dengan komunitas Konservasi Indonesia WARSI pada awal tahun kemarin.

Dari studi Eijkman yang melakukan studi di tiga kabupaten, yaitu Batanghari, Tebo, dan Sarolangun, diketahui prevalensi hepatitis B pada Orang Rimba sebesar 33.9 persen.

Hal ini menunjukkan empat dari 10 Orang Rimba atahu lebih dari sepertiga populasi Orang Rimba mengidap penyakit hepatitis B.

Penyakit yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB), anggota famili hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kasus dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Tidak hanya itu, penyakit malaria juga menjadi ancaman besar pada Orang Rimba dengan prevalensi mencapai 24,26 persen. (jpg)

Respon Anda?

komentar