Polri Ajak Haris Azhar Gabung Tim, Telusuri Wasiat Panas Tereksekusi Mati Freddy Budiman

471
Pesona Indonesia
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar (kiri), bersama Koordinator KontraS, Haris Azhar (kanan) usai memberikan pernyataan menyikapi tindak lanjut tulisan Haris Azhar tentang kesaksian Fredi Budiman di Jakarta, Rabu (10/8/2016). FOTO: MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar (kiri), bersama Koordinator KontraS, Haris Azhar (kanan) usai memberikan pernyataan menyikapi tindak lanjut tulisan Haris Azhar tentang kesaksian Fredi Budiman di Jakarta, Rabu (10/8/2016). FOTO: MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

batampos.co.id -Keputusan Mabes Polri menghentikan sementara proses hukum dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan Koordinator Kontras Haris Azhar, yang di laporan Polri, TNI, dan BNN atas celotehannya terkait “wasiat panas” tereksekusi mati Ferddy Budiman dengan menyebut ada aliran dana puluhan miliar uang hasil narkoba ke oknum jenderal di tiga institusi itu, dinilai sangat tepat.

Apalagi Polri bertekad mengerahkan semua kemampuan untuk menguak dugaan permainan dalam kasus Freddy Budiman melalui Tim Independen.

”Apakah tuduhan Freddy ada anggota Polri menerima Rp 90 miliar itu benar atau tidak, itu dibuktikan dulu,” ujar Kadivhumas Polri Irjen Boy Rafli Amar.

Dengan begitu, Tim Independen yang telah dibentuk Polri bisa lebih fokus untuk bekerja. Keterlibatan sejumlah pihak eksternal ini diharapkan bisa mengungkap semua dengan obyektif. ”Fakta harus ditemukan dulu sebagai bukti permulaan,” terangnya.

Apakah penghentian kasus pencemaran nama baik yang melibatkan Haris ini dihentikan seterusnya? Boy menjawab bahwa kasus itu ditindak dulu. ”Dicari dulu perkaranya,” papar mantan Kapolda Banten tersebut.

Bila telah ditemukan perkaranya, nanti bisa diketahui apakah masuk dalam gratifikasi, penyuapan atau lainnya. Boy menjelaskan bahwa semua itu akan ditelaah perkara mana yang berkaitan dengan oknum di Polri. ”Tim Independen sedang bekerja,” jelasnya.

Bahkan, Polri bertindak begitu terbuka dengan menawari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) untuk bergabung dalam Tim Independen. ”Ini bisa menjadi investigasi bersama,” paparnya.

Selanjutnya, Tim Independen akan melakukan upaya konfirmasi terhadap sumber-sumber yang berhubungan dengan Freddu, kuasa hukum Freddy juga akan dimintai keterangan, berbagai berkas pledoi juga akan ditelisik dan juga petugas lapas.

”Tim ini juga akan menerima semua masukan,” jelasnya.

Sementara Koordinator Kontras Haris mengaku bahwa pernyataannya tersebut bukan untuk menyerang institusi negara, namun murni untuk memberikan kritik dan masukan.

Sehingga, bsia terdapat perbaikan untuk negara ini. ”Saya tidak ada kepentingan menyerang institusi, setiap negara membutuhkan kepolisian,” paparnya.

Justru dengan momentum ini, bisa diketahui bagaimana hulu hingga hilir dari dugaan permainan dalam kasus narkotika. Lalu, bagaimana ada kecurangan yang diduga dilakukan oknum. ”Ada dugaan abuse of power yang menyalahi institusi dan mandat jabatan,” ujarnya.

Menurutnya, di Polri, BNN dan TNI memiliki tim yang memeriksa dugaan tersebut, tentunya semuanya bisa saling berkoordinasi. Semua itu agar bisa saling memperbaiki.

”Ini juga bukti bahwa penegak hukum terbuka dengan masyarakat,” jelasnya.

Dia juga berharap Presiden Jokowi bisa turun tangan dalam dugaan permainan kasus narkotika tersebut.

”Dengan keterlibatan Presiden, tentunya semua bisa dipayungi dan lebih sinergi,” terangnya ditemui dalam konferensi pers di sebuah restoran di jalan Trunojoyo.

Tim Independen ini dibentuk Minggu (7/8/2016) dengan jumlah anggota 17 orang. Tim ini dipimpin Irwasum Polri Komjen Dwi Priyatno dengan anggota internal dan eksternal.

Di antaranya Bareskrim, Divpropam, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, Pengamat Komunikasi Politik Effendy Gazali dan Ketua Setara Institute Hendardi.

Nantinya, hasil investigasi Tim Independen ini akan diberikan pada Bareskrim, bila ditemukan adanya unsur pidana. Tim tersebut memiliki masa kerja selama tiga bulan. (idr/jpnn)

Respon Anda?

komentar