Singapura Bakal Tertawakan Indonesia, Kok Bisa?

1648
Pesona Indonesia
Pemandangan properti di Teluk Jakarta. Sejumlah pulau buatan (reklamasi) dihentikan karena dinilai menganggu ekosistem. Sumber Foto: jawa Pos
Pemandangan properti di Teluk Jakarta. Sejumlah pulau buatan (reklamasi) dihentikan karena dinilai menganggu ekosistem. Sumber Foto: jawa Pos

batampos.co.id -Polemik reklamasi Teluk Jakarta mengundang perhatian pakar Teknologi Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Firdaus Ali. Ia menilai alasan penghentian reklamasi Teluk Jakarta karena akan merusak lingkungan hidup terlalu berlebihan.

“Kerusakan lingkungan adalah konsekuensi tak terhindarkan dari pembangunan. Tetapi kerusakan itu kan bersifat sementara dan kita bisa meminimalisasi kerusakan tersebut melalui mitigasi,” kata Firdaus, seperti dilansir JPNN (grup batampos.co.id) Rabu (10/8/2016).

Firdaus dengan tegas membantah jika reklamasi Pulau G diteruskan akan menghancurkan ekosistem di Teluk Jakarta, seperti laporan Tim Terpadu Proyek Reklamasi Teluk Jakarta yang dibentuk pemerintah.

“Sejak 60 tahun lalu banyak industri yang membuang limbahnya ke sungai-sungai yang ada dan semua limbah itu berakhir di Teluk Jakarta. Faktanya, sejak 15 tahun terakhir banyak ikan mati di Teluk Jakarta,” ungkapnya.

Melihat fakta tersebut, Firdaus justru optimistis dengan adanya reklamasi Teluk Jakarta akan kembali bersih.

Ia mencontohkan Marina Bay di Singapura. Saat ini airnya sangat bersih. Begitu juga di negara maju lainnya seperti Tokyo, Shanghai, Dubai, dan New York.

Mengenai alasan reklamasi akan mengganggu lalu lintas kapal nelayan juga tidak terlalu substantif. Masalah nelayan, kata dia, adalah persoalan sosial yang solusinya bisa dilakukan dengan dua cara.

Pertama, lingkungan sosial nelayan sangat kumuh dan kotor. Jika reklamasi dilakukan, para nelayan akan diprioritaskan untuk beralih profesi menjadi karyawan di sana.

Kedua, jika mereka tetap memilih menjadi nelayan, maka akan dibangun kampung nelayan di beberapa lokasi, entah di Kamal Muara, Cilincing atau Muara Angke.

Firdaus pun meminta Pemprov DKI Jakarta segera mengeluarkan rancangan pembangunan di Teluk Jakarta agar semua orang tahu.

“Kalau proyek ini dihentikan, yang tertawa adalah Singapura. Mereka tidak ingin Jakarta maju, karena kalau terjadi pembangunan di Teluk Jakarta maka otomatis tidak ada yang membeli properti mereka,” pungkasnya. (fas/jpnn)

Respon Anda?

komentar