Keren dan Mewahnya Terminal 3 Ultimate Soeta

2116
Pesona Indonesia
Salah satu sudut terminal 3 ultimate Bandara Soetta. Sumber Foto: lapakfjbku.com
Salah satu sudut terminal 3 ultimate Bandara Soetta. Sumber Foto: lapakfjbku.com

KEREEENN. Membanggakan. Inilah “show window” Indonesia yang kita dambakan: Terminal 3 (T3) Ultimate di Bandara Soekarno Hatta (Soeta).

Catatan: Suhendro Boroma, Dirut Jawa Pos Grup

Resmi mulai dioperasikan pada penerbangan GA654 pukul 01.20 tujuan Jayapuya, 9 Agustus. Saya berkesempatan menikmati kemegahan bandara ini pada Rabu 10  Agustus, tepatnya Kamis 11 Agustus dinihari. Tujuan Ternate dengan GA648 pukul 01.40.

Menuju departure hall di lantai 2, mobil penumpang mendaki sejak di ujung Terminal 1 (T1). Mulus dan lancar. Mungkin masih baru dan hanya Garuda yang beroperasi di T3 Ultimate. Mungkin juga karena sudah pukul 23.30. Hanya penumpang tujuan ujung timur Indonesia: Jayapura, Ambon, Ternate yang butuh ke bandara di penghujung malam seperti itu.

Saya tiba dua jam sebelum boarding. Sengaja. Untuk bisa melihat dan merasakan bandara baru. Bandara yang sejak mulai dibangun ditekadkan terbesar di Indonesia. T1, T2, dan T3 digabung, masih kalah luas. Juga termegah. Mengalahkan terminal Bandara Kualanamu Medan, Sepinggan Balikpapan, dan Ngurah Rai Bali.

Padahal tiga bandara itu sudah lompatan besar bagi kemajuan Indonesia. Sudah setara Bandara Taipei, Guangzhou, atau Bandara Milan. Tiga bandara itu lebih mewah  dibandingkan Bandara Ninoi Manila, Bengalore (India), atau Phuket (Thailand). Bahkan jauh lebih megah dibandingkan bandara Muscat (Oman) dan  King Abdulaziz International Airport Jeddah.

Benar saja. T3 Ultimate tidak lagi sebatas “bandara”. Sejak turun dari mobil, penumpang disambut keleluasaan dan kelapangan yang belum pernah dimiliki bandara manapun di Indonesia. Selasarnya luas dan lebar.

Di pintu utamanya dipajang sedan tiger antik. Ada tentara yang jaga. Sang prajurit duduk  sambil memainkan smart phonenya. Wajahnya biasa, masih lebih “sangar” satpam. Acapkai dia senyum. Sumringah. Mungkin dia sedang gembira menikmati bandara baru.

“Boleh tolong foto Pak,” pinta saya. Seketika dia bangkit. Dengan tetap tersenyum. “Maklum, bandara baru. Rugi kalau tak mengambil foto,” kata saya. Dia terkekeh.

Masuk ke chek in hall, lebih lapang lagi. Petugas bandara terus menebar senyum. “Sudah larut begini masih segar.” Saya melanjutkan candaan, “Kalau di bandara lama, selarut ini sudah lelah.”

Penataan lay out check in hall seperti di Bandara Changi Singapura (SIN) dan John F Kennedy (JFK) New York. Tetapi lebih lapang. Antrian panjang dan tumpukan barang tak mengurangi keleluasaan lalu-lalang penumpang.

Usai chek in, boleh memilih duduk di area santai. Tempat duduknya dari kayu, dengan desain minimalis. Cafe dan restoran berbagai brand internasional “menyapa” dengan layanan aneka selera.

Batik Keris dan sejumlah gerai yang menjajakan produk kreasi asli dalam negeri    sudah beroperasi.

Setelah memasuki boarding area, suasana makin lapang dan melegakan. Di sana sini masih sedang perampungan. Gerai-gerai jualan masih  persiapan. Kecuali Garuda Lounge yang megah dan mewah. Lounge ini seperti “raja” setelah melewati x-ray pemeriksaan.

Garuda Lounge punya ruang lapang dan panjang. Tempat duduk empuk dipadu lampu temaran. Bernuansa romantis di malam hari. Lengkap dengan aneka fasilitas: VIP Room,  Nursery Room, Teater Room, Difable Room, dan Musholah. Tapi ada juga yang tak baik: smoking room. Fasilitas mahal untuk menyemai penyakit.

Boarding lounge memukau. Tinggi lotengnya sekira 80% dari tinggi bangunan terminal yang mencapai 50 meter itu. Amat lapang. Tempat duduknya berbeda di setiap gate. Mulai dari warna ‘dingin’ hingga mencolok. Dengan desain simpel. Memanjakan mata. Semua empuk. Nyaman untuk tiduran. Mengalahkan tempat duduk di boarding lounge Bandara Frankfurt Jerman, Schiphol Amsterdam, dan Changi Singapura.

Dinihari kemarin tujuan Ternate boarding di gate 13. Pas di tengah terminal. T3 Ultimate punya 28 gate, untuk domistik 18 gate dan 10 gate untuk penerbangan internasional. Sudah dilengkapi garbarata ganda khusus untuk pesawat raksasa jelajah antar benua A380 dan B777. Hanya saja, meski sudah parkir di depan garbarata, penumpang turun tangga menuju pesawat.

Panjang 1 km, luas 422.804 meter persegi. Bangunan terminal 331.101 meter persegi, parkir 85.578 meter persegi dan VVIP mencakup 6.124 meter persegi. Lima lantai, lantai 1 kedatangan, lantai 2 keberangkatan. Lantai 3, 4 dan lantai 5 untuk kantor dan disewakan. Komersial area mencakup 30% dari total luas bandara ini.

Penataan T3 Ultimate berkiblat ke Incheon Airport (ICN), Korea Selatan. Bandara terbaik di dunia pilihan Airport Council International, terbersih, dan The Best International Transit Airport versi SkyTrax.

Konsep dekorasi T3 Ultimate bertema “art and culture”. Menampilkan karya dan produksi industri kreatif Indonesia dan kreasi kerajinan heritage Nusantara. Bandara terluas di tanah air ini jadi “show window” aneka produk “made in Indonesia”.

T3 Ultimate didisain ramah lingkungan, menggunakan lampu LED dan solar cell.
Paling canggih penanganan bagasinya. Tak lagi lalod seperti di T1 dan T2. Menggunakan teknologi canggih, bagasi cepat dan menjamin keamanan barang. Jika bagasi tertinggal atau orangnya salah mengambil, kamera secara otomatis memindai dan memberi petunjuk jelas keberadaan barang.

Terminal yang dibangun sejak masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dirampungkan di masa Presiden Joko Widodo ini mampu melayani 25 juta penumpang pertahun. Ditargetkan memikat 1 juta turis sebagai pintu masuk Indonesia. Setelah renovasi T 1 dan T2, juga integrasi T3 lama dengan T3 Ultimate, Bandara Soeta mampu melayani secara nyaman 65 juta penumpang.

Jutaan penumpang itu berbaur dengan puluhan ribu petugas bandara, pekerja, pilot, pramugari, petugas keamanan, penjaja aneka jualan, dan karyawan hotel yang beroperasi di bandara itu.

Pada hari pertama di 9 Agustus lalu, penumpang yang menggunakan terminal ini mencapai 60ribu orang. Saat semuanya beroperasi, ratusan ribu orang tiap hari bersilaweran di bandara ini. Jadilah T3 Ultimate sebagai “Aerotropolis Airport”, kota udara termegah dan tersibuk di Indonesia. Mungkin bakal masuk 10 besar dunia.

Bandara ini dijadwalkan rampung total pada Maret 2017. Saat itu, T3 lama sudah selesai direvitalisasi dan terintegrasi dengan T3 Ultimate. People mover (airtrain) seperti di Changi Airport dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA) beranggaran Rp1,1 triliun menghubungkan antar terminal setiap 4 menit, sudah mengangkut 100-200 penumpang per trip. Monorail ini terkoneksi dengan kereta dari Stasiun Manggarai.

Pergerakan pesawat yang baru mencapai 72 per jam, akan ditingkatkan menjadi 80 hingga 90 per jam.  Seperti London Heathrow Airport (LHR) dan Dubai Airport (DBX) yang punya dua runway mampu melalukan 90-100 pergerakan pesawat per jam. Bandara Soekarno Hatta yang juga punya dua runway belum mencapai tahapan itu.

Airnav sedang meningkatkan kapasitas Advance Sevice Movement Guidance and Control System (ASM-GCS) dari level 1 ke level 2. Pada level 1 semua pergerakan pesawat di udara tertangkap di radar. Di level 2 tidak perlu lagi transponder untuk mendeteksi  pergerakan semua pesawat di udara.

Bersamaan dengan itu,  exit rapid taxiway dibenani. Dan, runway ketiga sepanjang 3.660 meter, lebar 60 meter dijadwalkan rampung pada 2018. Saat semua itu tuntas, bandara Soekarno Hatta leluasa melayani 100 pergerakan pesawat per jam. Ini solusi meningkatkan layanan dan efesisensi di bandara yang terletak di Cengkareng (CGK), Banten itu.
Tanpa peningkatan pergerakan pesawat, kemegahan T1, T2 dan T3 Ultimate tidak maksimal manfaatnya. ***

Respon Anda?

komentar