Disnaker Bilang Tak Ada TKA di KIP, Lah Itu yang Jalan-jalan ke Pasar Malam Siapa?

969
Pesona Indonesia
Ilustrasi saat Dirjen Imigrasi Ronny Sompie sidak TKA di Batam. Foto: dokumen JPNN
Ilustrasi sidak TKA di Batam. Foto: dokumen JPNN

batampos.co.id – Anggota DPRD Bangka Selatan, Hendri menyesalkan adanya tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di Kapal Isap Produksi (KIP) di perairan laut Rajik Permis, kecamatan Simpang Rimba (Simba), Bangka Selatan turun ke darat.

Padahal, dinas tenaga kerja (Disnaker) Pemkab setempat mengaku belum menerima adanya laporan TKA yang bekerja di KIP wilayah Kabupaten Basel.

“Kok bisa pekerja asing masuk serta turun ke darat yang tidak sesuai peruntukannya, sudah kita tanyakan keberadaan kapal isap produksi itu ke dinas tenaga kerja, dan tidak ada laporan tenaga kerja asing yang bekerja di kapal isap produksi,” ujar Hendri seperti dibertakan Babel Pos (Jawa Pos Group), Rabu (10/8).

Politisi Demokrat ini juga menyampaikan, selama 2 bulan terakhir tenaga kerja asing (TKA) itu menjadi sorotan dan perbincangan masyarakat Simpang Rimba. Karena tenaga kerja asing itu sering terlihat keberadaannya di pasar malam. Semestinya tenaga kerja asing itu melaporkan ke dinas tenaga kerja apalagi sampai turun ke darat, yakni ke pasar malam.

“Harus melaporkan ke dinas terkait, karena turun ke darat dan ke pasar malam, Pemkab kesannya lamban mengatasi keberadaan tenaga kerja asing tersebut. Laporan dari masyarakat, bahwa ada tenaga kerja asing yang kerja di kapal isap produksi sering turun ke darat setiap malam Senin ke pasar malam,” jelas Hendri menambahkan informasi dari masyarakat bahwa saat ini ada 2 unit kapal isap produksi beroperasi diperairan laut Rajik Permis Simpang Rimba.

“Nama-nama kapal isap produksi tersebut Parama dan Paramui. Orang asing yang masuk ke suatu negara sesuai Permendagri nomor 49 dan 50 tahun 2010 bahwa pemantauan orang asing, organisasi masyarakat asing, dan tenaga kerja asing dalam wilayah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah,” kata Hendri seraya menuturkan keberadaan tenaga kerja asing tersebut menghantui pikirannya dengan penyakit menular seksual apabila tenaga kerja asing itu melakukan hubungan seksual selama berada di daratan.

Oleh karena itu, pihaknya pun meminta supaya aturan terhadap warga negara asing (WNA) yang bekerja di kapal isap produksi agar lebih diperketatkan lagi terutama pemeriksaan kesehatan. Karena saat ini banyak orang asing yang menularkan virus penyakit berbahaya seperti penyakit Hiv dan Aids.

“Kami ingin aturan bagi orang warga negara asing diperketatkan lagi, turunnya tenaga kerja asing yang bekerja di kapal isap produksi itu ke darat dan ke pasar malam, dan itu jelas–jelas menyalahi aturan, tapi kok seolah-olahnya dibiarkan,” sesalnya.(jpg)

 

Respon Anda?

komentar