Napi Pengendali Sabu 17 Kg Bebas dari Tuntutan Mati

1073
Pesona Indonesia
ilustrasi. Foto: Pixabay
ilustrasi. Foto: Pixabay

batampos.co.id – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan membebaskan Julianto alias Yan, seorang narapidana yang mengendalikan sabu 17 Kilogram dari tuntutan mati. Dia hanya dihukum seumur hidup, Jumat (12/8) siang.

Meski Yan berperan sebagai pengendali sabu seberat 17 Kilogram dari Lapas Kelas IA Tanjung Gusta Medan, tidak membuat majelis hakim yang diketuai Sabarulina Ginting menvonis dia dengan hukuman mati.

Sementara empat rekan Julianto yang terlibat kasus itu yakni Saiful Amri alias Amat, Sofyan Dalimunthe, Bambang Zulkarnaen Sauti dan Dedy Guntary Panjaitan, juga dijatuhi hukuman sama. “Menjatuhkan hukuman pidana penjara masing-masing seumur hidup,” tandas hakim Sabarulina di Ruang Cakra VI di PN Medan.

Adapun hal yang memberatkan, perbuatan kelima terdakwa meresahkan masyarakat, mempersulit persidangan dan tidak mengakui perbuatannya. “Hal yang meringankan, kelima terdakwa bersikap sopan dalam persidangan dan masih mempunyai tanggungan keluarga,” tandas majelis hakim.

Kelima terdakwa dianggap melanggar Pasal 112 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lamria Sianturi menuntut Julianto dengan hukuman mati. Sedangkan empat terdakwa lain dituntut hukuman penjara seumur hidup.

Usai mendengarkan putusan, JPU Lamria Sianturi menyampaikan masih pikir-pikir. JPU akan meminta petunjuk kepada pimpinan apakah akan mengajukan upaya hukum banding atau tidak. Tindakan yang sama juga dilakukan Amri SH selaku penasehat hukum kelima terdakwa. “Kami masih pikir-pikir,” ujar Amri. Menurut Amri, Julianto tidak terbukti sebagai otak pelaku sehingga wajar dijatuhi hukuman seumur hidup.

“Dalam dakwaan, Tohar yang sebenarnya memerintahkan kelima terdakwa ini. Tapi kenapa JPU tidak mau menghadirkan Tohar di persidangan? Barang (sabu) itukan dari si Tohar. Padahal dia (Tohar) juga ditahan di Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan,” pungkas Amri SH seperti dikutip dari Sumut Pos (Jawa Pos Group) hari ini (13/8).

Seperti diketahui, Dalam JPU Lamria dan Rahmat, pada Kamis tanggal 19 November 2015, terdakwa Bambang datang ke Rutan dan diberikan uang Rp 9 juta oleh Julianto.

“Selanjutnya, Julianto menghubungi Saiful dan memerintahkannya mengambil sabu seberat 8 Kg dan 7 Kg untuk menyerahkan barang haram itu kepada seseorang yang tidak dikenal di Jalan Gatot Subroto, Medan,” kata JPU dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh Sabarulina Ginting.

Saat pertemuan itu, Bambang membawa teman bernama Fery. Disitu, Saiful menyerahkan tas warna merah yang berisi sabu seberat 1 Kg, plastik klip, timbangan, sendok, gunting serta kertas warna coklat. “Setelah itu, Bambang pulang ke rumahnya untuk memecah sabu menjadi 10 bungkus dan menyerahkannya kepada 3 pria tak dikenal yang mengaku anak buah Julianto di Jalan Sukarame,” lanjut JPU.

?Beberapa hari kemudian, Julianto memberikan Saiful upah berupa uang Rp 40 juta yang dikirim melalui rekening. Julianto kembali menghubungi Saiful dan memerintahkannya untuk mengambil 1 karung goni plastik berisi 17,445 Kg sabu dari Dedy yang akan diserahkan ke Bambang. Setelah berhasil, Saiful mendapatkan upah sebesar Rp 40 juta dari Julianto.

Pada Jumat tanggal 18 Desember 2015, Dedy dan Sofyan tiba di Simpang Limun, Medan. “Setelah bertemu, Dedy dan Sofyan menyerahkan sabu seberat 17,445 Kg kepada Saiful. Rencananya, sabu belasan kilogram itu akan diserahkan ke Bambang untuk diedarkan atas perintah Julianto. Namun, mereka keburu diciduk oleh petugas BNN Pusat,” ungkap JPU.

Tak lama berselang, petugas BNN kembali menangkap Bambang di Jalan Datuk Kubu Pasar III Tembung Gang Silatuhrami No 32 Tembung Percut Seituan. Selanjutnya, pada tanggal 22 Januari 2016, petugas BNN melakukan penjemputan terhadap Julianto di Rutan Klas IA Tanjung Gusta Medan.(jpg)

Respon Anda?

komentar