7 ABK TB Charles Terancam Dipenggal di Filipina, Batas Pemberian Tebusan Senin 15 Agustus

2112
Pesona Indonesia
Tugboat Charles yang dibajak militan Abu Sayyaf. Tujuug dari 13 ABK disandera. Foto: prokal
Tugboat Charles yang dibajak militan Abu Sayyaf. Tujuug dari 13 ABK disandera. Foto: prokal

batampos.co.id – Keluarga tujuh anak buah kapal (ABK) TB Charles milik PT Rusianto Bersaudara, makin cemas. Kelompok bersenjata asal Filipina yang menyandera keluarga mereka mengancam akan memengal mereka jika tebusan yang diminta tak diberikan.

Seperti diketahui, perompak menyandera 7 ABK itu sejak 1 Agustus 2016 lalu. mereka meminta uang tebusan paling lambat diserahkan 15 Agustus 2016.

Awalnya penyandera meminta 250 juta peso, lalu turun menjadi 150 juta peso, lkalu naik lagi menjadi 300 juta peso.

Sejauh ini, pihak keluarga yang sebelumnya selalu terbuka pada media, tampaknya mulai tertutup sejak kepulangan mereka dari Jakarta setelah menemui Kemenlu.

Bahkan sumber informasi keluarga yang biasanya berkomunikasi langsung dengan penyandera, yakni Dian Megawati Ahmad, istri Ismail, sampai mengganti nomor teleponnya.

Informasinya, agar upaya pembebasan dan komunikasi terhadap para penyandera langsung dilakukan oleh pemerintah di Krisis Center, yang kemudian menyampaikan pada perusahaan atau pihak keluarga.

“Kami tetap optimis, karena sejauh ini kami para keluarga sandera dan perusahaan berusaha mencari perkembangan terbaru, dan saya mengakui susahnya perkembangan tersebut kami terima,” kata salah seroang keluarga.

“Kemungkinan karena ketegangan yang terjadi antara Tentara Filipina, MNLF (Moro Nation Liberation Front, Kelompok Pembebasan Islam di Filipina), serta Kelompok Abu Sayyaf. Bahkan dikabarkan salah satu pimpinan Abu Sayyaf telah tewas karena penyerangan oleh MNLF dan Tentara Filipina,” jelasnya.

Terpisah, Humas PT Rusianto Bersaudara Taufiqurrahman menyampaikan bahwa perusahaan tetap menunggu sampai pada waktunya, “karena pemerintah sudah ada opsi lain untuk pembebasan,” Ujarnya.

Taufiq juga membenarkan mengenai kedatangan perwakilan Kemenlu semalam pukul 20.00 Wita (12/8/2016) lalu. Menurutnya, kedatangan pihak Kemenlu hanya untuk bersilaturahmi dan memberikan motivasi pada pihak keluarga.

“Mengenai perubahan tebusan, saya tidak yakin mengenai hal tersebut. Namun, kami mempercayai masalah tenggat waktu yang semakin menyempit,” tutupnya. (dq/yuz/JPG)

Respon Anda?

komentar