Pulau Kundur, Sentral Pertahanan Pangan

106
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten Karimun, masih komit untuk mengembangkan pertanian dan peternakan di Pulau Kundur. Di mana hasil penelitian dari tenaga ahli menyatakan, memang layak tanah dan geografis di pulau penghasil timah ini untuk dikembangkan perpaduan pertanian dan peternakan.

“Khusus di Pulau kundur nanti akan kita fokuskan sebagai pertahanan pangan. Dan sudah kami masukkan dalam RPJMD 2017 nanti,” jelas Plt Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Karimun, Muhammad Affan di Tanjungbalai Karimun, kemarin (14/8).

Dikatakan, untuk perkebunan nantinya akan dikembangkan jenis tanaman padi, jagung, kedelai, sayuran daun lebar untuk kebutuhan di Karimun. Selain itu potensi yang cukup menjanjikan 5 tahun kedepannya, yaitu perkebunan kakau dan kopi yang pangsa pasarnya sudah jelas. Ditambah, penampung hasil panen bisa dikirim langsung ke Batam.

Artinya, pemerintah ingin merubah menset para petani dari tradisional menjadi semi modern terutama bagi generasi muda. Dengan demikian, lahan ratusan hektar yang ngangur dapat di manfaatkan. Sesuai dengan visi dan misi Bupati Karimun bersama Wakil Bupati Karimun.

“Namun, semua itu harus bertahap dilakukan. Sekarang lahan sudah memenuhi persyaratan untuk kembangkan pertanian dan perkebunan. Sedangkan, peternakan saat ini sudah berjalan beberapa kelompok,” ucapnya.

Ditanya, bagaimana penyediaan pupuk subsidi. Dirinya mengungkapkan, permasalahan pupuk subsidi di Karimun adalah para petani harus membayar dimuka untuk mendapatkan pupuk subsidi melalui koperasi. Dan pihak Pemerintah, hingga saat ini belum mampu memberikan subsidi langsung ditambah terjadi defisit.

“Ya itu aturannya. Tapi, kita masih berusaha bagaimana untuk mendapatkan pupuk subsidi bagi petani di Karimun,” kilahnya.

Sementara salah satu petani cabai di desa Pongkar Bujang mengungkapkan, kendala hingga saat ini yaitu pupuk subsisi yang sangat sulit didapatkan. Sehingga, dirinya menggunakan pupuk non subsidi yang cukup mahal. Sedangkan, lahan yang digarapnya hanya 500 meter persegi.

“Setiap panen lumayan hasilnya. Tapi tidak pernah seimbang dengan biaya operasional, banyak nomboknya dari pada untung,” keluhnya. (tri)

Respon Anda?

komentar