Rahma-Rahmi Saling Berpegangan Tangan Sebelum Masuk Meja Operasi

1078
Pesona Indonesia
Rahmi (kiri) sedang terlelap di ruang PICU, sedangkan Rahma sedang diperiksa kondisi jantungnya oleh dokter spesialis jantung, setelah operasi  pemisahan di RSAB Batam, Minggu (14/8/2016). Foto: Nany/batampos koran
Rahmi (kiri) sedang terlelap di ruang PICU, sedangkan Rahma sedang diperiksa kondisi jantungnya oleh dokter spesialis jantung, setelah operasi pemisahan di RSAB Batam, Minggu (14/8/2016). Foto: Nany/batampos koran

batampos.co.id -Ada pemandangan menarik dan tak biasa sera mengharukan yang terhjadi pada Rahma-Rahmi, si kembar siam dari Batam sebelum naik meja operasi. Keduanya selalu berpegangan erat satu sama lainnya.

Bisa jadi mereka tahu bakal dipisahkan di meja operasi. Kondisi itu berlangsung sejak Sabtu (13/8/2016) lalu hingga tiba di ruang operasi, Minggu (14/8/2016) pagi.

Selain  berpegangan erat, saat tiba di ruang operasi, bayi yang lahir 29 Maret lalu itu juga menangis bersama. Ayahnya, Junaidi, berusaha menenangkan keduanya dengan mengipasi. Sementara sang ibu, Warmin Bahruddin, membelai-belai keduanya.

“Saya tidak tahu kenapa dia nangis terus seperti itu,” kata Warmin.

Kedua anak pertamanya itu menjalani puasa sebelum operasi dilakukan. Mulai pukul 04.00 WIB, keduanya tak lagi minum susu.

“(Tangisnya) ditenangkan cuma dengan dielus-elus saja. Tapi itu tak meredakannya,” kata wanita berusia 32 tahun itu.

Warmin dan Junaidi sudah tiba di RS Awal Bros (RSAB) Batam sejak pukul 05.30 WIB. Mereka membawa serta sejumlah kerabat. Warmin mengaku cemas. Semalam sebelumnya, tidurnya tak nyenyak.  Ia sering terbangun tanpa sebab.

“Saya khawatir dengan keselamatan mereka,” ujarnya.

Namun kekhawatiran itu lambat laun mulai hilang setelah melihat banyaknya dukungan yang mengalir untuknya, untuk kedua anaknya. Seluruh tim medis bekerja keras mempersiapkan alat.

Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana, dan Kepala Dinas Kesehatan Batam Candra Rizal juga ikut hadir. Belakangan, Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad juga hadir untuk memberikan dukungan.

“Selow (santai) aja, Bu,” kata Amsakar.

Amsakar paham Warmin dan Junaidi cemas hari itu. Sebab, menurutnya, ia pun juga merasa cemas. Begitu juga masyarakat Kepulauan Riau lainnya.

“Kondisi ini pasti menggetarkan siapa saja yang mendengarnya,” tuturnya.

Amsakar tidak lama berada di ruangan itu. Ketika itu, tim dokter masih melakukan sejumlah persiapan di kamar operasi. Amsakar pamit pulang lantaran harus mengikuti Rapat Pembahasan Penataan Struktur Organisasi dan Tata Kelola (SOTK). Rapat ini penting, katanya.

Di dalam ruangan itu, tertinggal sejumlah komunitas dan lembaga yang telah menyalurkan uangnya untuk membantu jalannya operasi itu. Ada Komunitas Tabungan Akhirat, Komunitas Gowes Zeru, Lembaga Amal Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam, juga Yayasan Buddha Tzu Chi. Mereka datang untuk ikut menyaksikan jalannya operasi.

“Kami akan memantau perkembangan dari orang yang Buddha Tzu Chi bantu. Ini pertanggung-jawaban ke donatur yang telah mempercayakan uangnya untuk kami kelola,” kata Relawan Buddha Tzu Chi.

Begitu pula dengan LAZ Masjid Raya Batam. Direktur LAZ Masjid Raya Batam, Syarifuddin, mengatakan telah menyumbang dana sebesar Rp 20 juta, sepekan lalu. Dana itu diambil dari dana infak yang dikelola LAZ Masjid Raya.

“Terima kasih RSAB, telah memberi kesempatan pada kami untuk ikut berbuat dan berpartisipasi dalam operasi ini. Sedikit sekali yang kami berikan. Tapi doa, insyallah Allah memberikan hasil yang terbaik dalam operasi ini,” ujar Syarifuddin.

Sumbangan dana juga diberikan Komunitas Gowes Zeru. Komunitas para pesepeda gunung itu mengetahui kondisi Rahma-Rahmi dari seorang anggotanya. Anggota itu, nyatanya, suami dr Sarita Miguna, SpA – dokter anak yang sedari awal menangani Rahma-Rahmi.

“Kami berterima-kasih sudah diberi kesempatan untuk bersilaturahmi di sini,” ujar Anggota Komunitas Gowes Zeru, Fajar.

Selain bantuan dana, bantuan dalam bentuk lain juga diberikan oleh penyedia alat kesehatan GI. Mereka meminjamkan tiga alat kesehatan untuk operasi pemisahan si kembar. Yakni peralatan monitoring anastesi terbaru, peralatan monitoring gas, ventilator, serta penghangat tubuh, yang diletakkan di bawah meja operasi, dan selimut hangat untuk mencegah hipotermia dan hipertermia.

“Yang kami ingat itu pesan dokter dari Surabaya. Bahwa untuk bayi ini itu yang diperlukan adalah safety accuration atau tepat sesuai kebutuhan mereka,” kata Marketing GI, Beta.

Beta mengatakan, sejak awal pihaknya memang tergerak untuk memberikan bantuan. Ia kemudian melihat fasilitas serta peralatan yang dimiliki RSAB. Mereka sepakat untuk membantu ‘memperbaiki’ ruang operasi dan ruang perawatan dengan teknologi yang mereka miliki.

“Kami support dengan teknologi yang kami punya,” ujar Beta.

Gerakan bantuan dan dukungan dari sejumlah relawan ini menyalurkan energi positif bagi Warmin dan Junaidi. Mereka merasa tidak lagi sendiri. Junaidi merasa sangat berterima-kasih.

“Terima kasih atas doa dan dukungan masyarakat Kepri hingga prosesnya berjalan dengan baik,” ujar Junaidi.

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengapresiasi gerakan dukungan tersebut. Menurutnya, kejadian Rahma-Rahmi ini membuktikan bahwa sensitivitas masyarakat Kepri, khususnya Batam, masih cukup tinggi. Tidak peduli golongan, suku, dan agama masih mau membantu saudara yang kesusahan.

“Memang (jumlahnya) terbatas. Tapi di dalamnya ada komunitas yang beragam,” ujar Amsakar.

Menurutnya, kondisi ini dapat menjadi modal dasar untuk mendesain Batam ke depannya. “Kalau semua (masyarakat) bisa berkontribusi, kerja pemerintah bisa lebih ringan,” tuturnya.

Dokter Bedah Anak RSUD dr Soetomo, Dr Poerwadi, SpBA(K), juga merasa terharu dengan semangat masyarakat Kepri dalam operasi pemisahan bayi kembar siam ini. Ia salut dengan sikap gotong-royong masyarakat Kepri.

“Di sini gotong-royongnya bagus. Itu yang paling penting,” katanya. (ceu/koran bp)

Respon Anda?

komentar