Murid Sekolah Misi Bagi Bangsa Rayakan Kemerdekaan dengan Menyikat Gigi

984
Pesona Indonesia
Murid Sekolah Misi Bagi Bangsa saat menyikat gigi. Foto: Chahaya Simanjuntak/ Batam Pos
Murid Sekolah Misi Bagi Bangsa saat menyikat gigi. Foto: Chahaya Simanjuntak/ Batam Pos

batampos.co.id – Bangunan dua lantai bercat putih dan beratap biru itu tampak megah dari kejauhan. Dari jalan raya Tanjunguncang, bangunan baru itu terlihat menyatu dengan ribuan rumah liar di sekitarnya. Siapa sangka, bangunan itu adalah tempat 473 murid kurang mampu di Sagulung untuk mengemban pendidikan. Namanya, Sekolah Misi Bagi Bangsa.

Lebih dari 600 tamu tampak duduk di kursi yang tersedia di bawah tenda putih yang terpasang di depan sekolah Misi Bagi Bangsa di kawasan Tunas Regency, Sagulung, Sabtu (13/8) kemarin. Dentingan musik keyboard yang melantunkan lagu-lagu nasional membuat suasana perayaan 17-an di sekolah itu semarak.

Yang membuat lucu dan meriah, saat para murid berlomba makan kerupuk. Para orangtua dan guru mereka tampak saling mendukung memberi semangat. Semakin riuh karena bukan hanya para murid SD sekolah itu yang turut serta dalam permainan tradisional itu, melainkan juga para anak Singapura. Dari raut wajah mereka, terlihat wajah sumringah dan bahagia.

“Come on, down the line, give the crackers to your mouth. Lagi-lagi.. iya, makan.. horeeeeee” teriak para orangtua sambil sesekali mengabadikan kegiatan tersebut lewat kamera ponsel.

Teriknya cuaca siang itu tak mereka hiraukan. Mereka membelah batas dua bangsa, menyatu bahagia bersama dalam satu lingkup sosial.

” Ini sesuai dengan misi yang kami emban, di mana semua anak memiliki hak mendapatkan pendidikan yang menghargai pribadi dan kemampuan mereka tanpa memandang suku, ras dan agama, dan tanpa melihat dari lapisan masyarakat mana mereka dilahirkan,” ujar Vice Chief Executive Yayasan Batavia Prosperindo (BP) Peduli yang menaungi Sekolah Misi Bagi Bangsa, Rukmawati Gunadi disela-sela acara kemarin.

Selain suguhan lagu-lagu nasional pembangkit semangat kebangsaan seperti Tanah Airku Tidak Kulupakan, Maju Tak Gentar, Garuda Pancasila dan bahkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, acara ini juga membuat kegiatan sikat gigi bagi seluruh murid. Ini menjadi kegiatan yang tak umum dilakukan saat memperingati hari kemerdekaan.

Mengapa ada kegiatan sikat gigi? Rukmawati atau yang akrab disapa Rukma itu mengatakan kegiatan ini merupakan kerjasama dari komunitas LOAF Singapura dimana sebagian anggotanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang kini bermukim di Singapura. Mereka kini melayani pendidikan anak lewat program anak asuh di dua negara, yakni Indonesia di Batam dan di Vietnam. “Ini bantuan ide dan kegiatan dari mereka untuk para murid kami disini,” ujar Rukma.

Para murid pun dibagi masing-masing satu sikat gigi dan pasta gigi ShoPlaq, produk Oral Kare Singapura. Lewat arahan dokter gigi dari negara tetangga tersebut, para murid melaksanakan kegiatan sikat atau menggosok gigi secara serentak.

“Beginilah suasana perayaan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 71 di sekolah kami. Selalu ceria dan penuh semarak dengan berbagai kegiatan baru karena tak hanya melibatkan para murid, melainkan juga para orangtua dan juga donatur,” ujar Rukma.

Membuat bangga lagi, dalam kegiatan tersebut, para murid SD dan SMP Singapura juga turut menyumbangkan kegiatan dalam semarak kemerdekaan ini, yaitu dengan menyanyikan lagu Garuda Pancasila dan suguhan biola dengan antusias.

Kepala Sekolah Misi Bagi Bangsa Jeugelin Sienly Kowaas mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari misi yayasan yang mereka kembangkan. Dimana, yayasan tersebut berkomitmen berpartisipasi membantu masyarakat yang kurang mampu membiayai pendidikan anak dalam mempersiapkan generasi muda Bangsa yang sehat, memiliki akhlak yang baik, pengetahuan yang luas, pandangan yang pragmatis terhadap kehidupan sehari-hari, memiliki jiwa besar, percaya diri, semangat dan entusiasme dalam menghadapi masa depan.

“Misi sosial ini kami terapkan di sekolah ini, dimana yang awalnya adalah kelompok belajar di rumah-rumah liar di kawasan Sagulung, hingga berdiri bangunan untuk menampung semua murid warga sekitar,” ujar Jeugelin.

Di yayasan yang mereka kembangkan ini, biaya sekolah hanya Rp 60 ribu per bulan mulai dari TK, SD, dan SMP yang saat ini baru tersedia kelas 1 SMP saja. “Kalau orangtua tak mampu, kami juga memperbolehkan dicicil, Cicilan Rp 1.000 pun kami terima. Atau kalau orangtua tak mampu, kami memberdayakan mereka dengan ikut menjadi bagian dari sekolah kami, misalkan membersihkan pekarangan sekolah, ruang kelas. Yang penting, anak bisa mengenyam pendidikan,” ujar Rukma.

Saat ini, di Batam, BP Peduli memfokuskan kegiatannya dengan menaungi Sekolah Misi Bagi Bangsa, yang terletak di Sei Binti, Tanjung Uncang. Mereka berkembang lewat bantuan para donatur. (cha)

Respon Anda?

komentar