Orang-Orang Hebat Indonesia Ditendang dari Negerinya, Disambut Hangat di Negeri Orang

53655
Pesona Indonesia
Archandra Tahar, Presiden Direktur Petroneering Houston Texas yang dipilih Jokowi Jadi Menteri ESDM. Foto: istimewa
Archandra Tahar, Presiden Direktur Petroneering Houston Texas yang dipilih Jokowi Jadi Menteri ESDM, kemudian dicopot setelah 20 hari hanya karena persoalan pernah berpaspor AS. Foto: istimewa

batampos.co.id -Indonesia selalu melahirkan orang-orang hebat. Namun, orang-orang hebat ini tak diberi tempat di negerinya sendiri.

Bahkan saat mendapat tempat, berbagai upaya dilakukan berbagai pihak yang berkepentingan terancam.

Di sisi lain, orang-orang hebat Indonesia ini dibukakan karpet merah di negeri orang karena melihat keahliannya. Lihatlah di Industri Air Bus, Boing, dan industri pesawat lainnya. Ada orang-orang pintar Indonesia di sana.

Lihatlah juga Jepang, ada orang Indonesia penemu teknologi 4G. Juga ada Riki Elson, orang Padang yang jago motor listrik. Tak sedikit karyanya dipatenkan di sana. Namun ia tak mendapat tempat berkarya di negerinya. Karya hebatnya, mobil listrik tak mendapat dukungan. Namun Jepang dan beberapa negara lainnya merindukannya.

Ada ribuan, bahkan bisa jadi jutaan orang-orang pintar Indonesia yang berkarya di negeri orang lain karena tak mendapat tempat di negerinya atau karyanya tidak bisa mendapat tempat di negerinya sendiri.

Yang terbaru dan masih hangat adalah Archndra Tahar. Tidak ada yang meragukan keahlian dan kemampuan pria kelahiran Padang, Sumatera Barat ini. Masih muda, punya pengalaman yang banyak di berbagai perusahaan migas di luar negeri, bahkan sebelum menjadi Menteri ESDM, ia menjabat Presiden Direktur Petroneering Houston di Texas, Amerika Serikat. Ia telah tinggal di negara Paman Sam selama lebih dari 20 tahun.

Ia punya gagasan hebat untuk pengelolaan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) di negeri ini. Program dan gagasannya itu telah ia sampaikan ke Presiden Jokowi. Sang Presiden yakin, hingga ia ditarik jadi menteri ESDM. Ia dilantik 20 hari lalu.

Namun, kewarganegaraan Tahar kemudian disorot dan dipersoalakan. Bahkan, terkesan dipolitisir oleh orang-orang yang terganggu dengan kehadiran Arcandra di Kementerian tersebut.

Celakanya, berbagai kalangan ikut bersuara. Nadanya sama: “Taher Melanggar Aturan”, sehingga harus didepak dari Kementerian ESDM.

Hanya segelintir orang yang melihat dari sudut pandang lain: “Indonesia Butuh Archandra Tahar”. Amerika yang sudah maju saja membutuhkan sosok Tahar.

Namun, Presiden lebih memilih takut terjadi gaduh politik, Archandra Tahar pun dicopot, tepat 20 hari setelah dilantik jadi menteri ESDM.

Mereka yang tak suka dengan Archandra Tahar pun tepuk tangan. Bisnis aman. Bisnis tak bakalan diotak-atik oleh program-program Tahar di kementerian ESDM. Siapa yang rugi?

Jawabannya tentu Indonesia. Lagi-lagi negeri tercinta ini mendepak orang-orang pintarnya. Membiarkan dia keluar dari negerinya.

Padahal ada pilihan, apakah mau tetap jadi WNI atau WN AS? Kita yakin kalau pilihan ini ditanyakan ke Archandra, dia akan tetap memilih Indonesia.

Tapi nasi telah basi. Tahar telah didepak. Namun, bukan akhir bagi Tahar. perusahaan-perusahaan hebat di Amerika dan berbagai negara lainnya siap menantinya.Mereka menyiapkan karpet merah untuk Tahar.

Bahkan, bukan hanya karpet merah, tawaran naturalisasi tentu mau mereka berikan karena mereka tahu kapasitas Archandra Tahar.

Tokoh Muda Rusli Halim menyangkan semua hal yang akhirnya membuat Archandra terlempar dari Kementerian ESDM.

“Ini hanya isu yang didorong pihak yang memang punya kepentingan di sektor ESDM. (Isu ini) sama sekali jauh dari isu nasionalisme, mungkin takut bisnisnya terganggu saja,” ujar tokoh muda Rusli Halim, Senin (15/8/2016) seperti dilansir pojoksatu.com.

Wakil Sekjen DPP PAN ini menambahkan, jumlah diaspora orang Indonesia yang tersebar di luar negeri berjumlah 7-8 juta. Ragam keahlian bidang tertentu yang membuat diaspora itu menetap, bahkan menjadi warga negara negeri setempat.

“Harusnya kita bangga dong dengan warga diaspora Indonesia di luar negeri. Artinya bangsa kita bangsa kompetitif,” ungkapnya.

Menurut Mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang sempat mengeyam pendidikan singkat di Philadelphia dan Seattle Amerika Serikat ini menilai nasionalisme dan kebanggaan warga diaspora justru lebih tinggi dan memiliki ikatan lebih kuat.

“Waktu saya ke Philadelphia dan tinggal di sana, kebetulan diaspora Indonesia di Philadelphia selatan itu yang terbesar di Amerika, momen 17 Agustusan itu lebih meriah dari kampung saya di Indonesia. Bahkan sebagian ada yang menangis karena begitu cinta kepada Indonesia,” ujar Rusli Halim.

Arcandra yang sebelum menjadi Menteri ESDM menjabat Presiden Direktur Petroneering Houston di Texas, Amerika Serikat ini sudah tinggal di negara Paman Sam tersebut selama 20 tahun. (nur/zul/sta/ps)

Respon Anda?

komentar