Petugas Ini Alami Patah Kaki Setelah Jatuh dari Hanggar Lion Air, Perusahaan Lepas Tangan

1455
Pesona Indonesia

Wagimun korban laka kerja di hanggar Lion Air. Eusebius1batampos.co.id – Wagimun warga perumahan Marina Garden blok K/21 RT06/RW12, kelurahan Tanjunguncang, Batuaji masih meringis kesakitan sampai saat ini.

Pria 46 tahun itu mengalami kecelakaan kerja saat bekerja mengecat salah satu hanggar milik Maskapai Penerbangan Lion Air di Bandara Hangnadim Batam pada tanggal 4 Juni lalu.

Kedua kaki Wagimun patah. Kaki sebelah kiri patah pada bagian betis dan sebelah kanan remuk pada bagian pergelangan. Tidak itu saja sekujur wajah bapak empat anak itu juga hancur karena terjatuh dari ketinggian sekitar 10 meter.

Meskipun tergolong kecelakaan kerja yang parah, namun kondisi Wagimun sudah mulai membaik sebab berkat perawatan salah satu klinik patah tulang di Nongsa selama dua bulan lebih, kedua kaki Wagimun kembali disambungkan dan saat ini dalam proses penyembuhan agar kembali berjalan normal.

Membaiknya kondisi kesehatannya itu tak membuat Wagimun begitu saja lega. Sebab saat ini dia dan keluarganya ternyata masih menunggak biaya pengobatan yang nilainya mencapai angka Rp 52 juta.

PT Mekar Abadi Sejati (MAS) yang mempekerjakan Wagimun untuk proyek pengerjaan salah satu hanggar milik maskapai Lion Air di Bandara Hang Nadim Batam lepas tangan begitu saja.

“Padahal saat awal kejadian kata mereka (Manajemen PT MAS) mau tanggung semua biaya pengobatan, tapi sampai sekarang tagihan biaya pengobatan itu belum juga dibayar. Saya jadi tak enak dengan orang klinik itu,” ujarnya.

Diceritakan Wagimun, kecelakaan kerja itu terjadi saat dia sedang melakukan pengecatan salah satu gedung Hanggar Lion Air. Karena lokasi yang dicat diatas ketinggian 10 meter, Wagiman lantas menggunakan alat bantu tangga beroda atau staging.

“Tak tahu kenapa saat lagi ngecat, roda staging itu bergeser sehingga staging tumbang dan sayapun ikut jatuh,” ujarnya.

Saat itu Wagimun memang tidak mengenakan alat pengaman (safety) sehingga kedua kakinya patah. “Muka saya juga hancur waktu itu. Pipih kanan bengkak parah,” ujarnya.

Oleh pihak PT MAS, Wagimun dibawa ke klinik pengobatan patah Tulang di daerah Nongsa. “Kata mereka awalnya semua biaya pengobatan akan ditanggung, tapi nyatanya sampai sekarang belum juga dibayar,” ujar Wagimun.

Dua bulan satu minggu menjalani pengobatan patah tulang itu, biaya pengobatan sudah mencapai angka Rp 52 jutaan.

“Untungnya orang klinik ini mengerti dan mau mengijinkan saya pulang meskipun belum bayar. Mereka tahu tagihan ke PT MAS memang tapi orang PT MAS nya ini yang tak ada niat baik. Berkali-kali ditelepon tak direspon. Saya tak tahu lagi harus berbuat apa sekarang. Jangankan uang sebanyak itu pak, makan minum keluarga saja sudah susah sekarang. Saya tak bisa bekerja lagi sekarang,” ujarnya.

Dengan adanya pemberitaan ini, Wagimun sangat berharap pihak PT MAS bertanggung jawab dengan kejadian itu. “Saya tak minta untuk keperluan keluarga saya pak, tapi tolong selesaikan biaya pengobatan itu. Karena dari awal mereka yang bilang akan menanggung semua biaya pengobatan itu,” ujarnya.

Di PT MAS sendiri Wagimun tercatat sebagai buruh harian lepas dan sebelum kecelalaan terjadi dia sudah bekerja sekitar tiga bulan.

Sementara pihak PT MAS sendiri belum bisa dikonfirmasi. Purnomo pimpinan di perusahaan tersebut seperti yang disampaikan oleh Wagimun belum bisa ditemui sebab sambungan via telepon tak direspon. (eja)

Respon Anda?

komentar