Apapun Paspornya, Archandra Tahar Tetap Orang Minang

3072
Pesona Indonesia
Mantan Menteri ESDM Archandra Tahar. Foto: RAKA DENNY/JAWAPOS
Mantan Menteri ESDM Archandra Tahar. Foto: RAKA DENNY/JAWAPOS

batampos.co.id – Orang pintar Indonesia yang begitu dihormati di negara maju sekelas Amerika Serikat Archandra Tahar rela meninggalkan gaji miliaran demi kembali ke Indonesia membangun tanah kelahirannya.

Namun, status dwi kewarganegaraan yang sejatinya bisa diselesaikan dengan mudah, namun ternyata diselesaikan dengan cara mencopot pria kelahiran Minangkabau Sumatera Barat itu, setelah 20 hari menduduki kursi Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Bagaimana rekasi masyarakat Sumatera Barat, khususnya masyarakat Minang

Jengkel, marah, dan kecewa. Itulah yang dirasakan masyarakat Minang. Pasalnya mereka melihat kehadiran tokoh minang itu di Indonesia semata-mata untuk mengabdi pada negeri sendiri dan meninggalkan apa yang dimiliki selama ini.

Memang sejak informasi pencopotan Arcandra dari kursi Menteri ESDM, publik Indonesia, termasuk kalangan tokoh Sumbar terkejut. Pencopotannya langsung menjadi viral di dunia maya.

“Sebagai orang Minangkabau, kami sangat kecewa dengan perlakuan Presiden Jokowi terhadap Arcandra Tahar,” ungkap tokoh muda Minangkabau, Andre Rosiade di Jakarta, Selasa (16/8/2016).

Lebih jauh Andre mengatakan, komitmen Arcandra yang merupakan putra Minang sejak awal seharusnya tidak perlu diragukan.

Dengan kemampuannya yang luar biasa, putra kelahiran Balai Nareh, Pariaman itu meninggalkan segala yang diraihnya di Amerika Serikat (AS).

Arcandra bersedia dipanggil Presiden Jokowi untuk menduduki kursi menteri ESDM. Akan tetapi, setelah beberapa hari menjabat Arcandra justru dikorbankan.

Diterangkan Andre, dalam kurun waktu 20 hari menjabat menteri ESDM, Arcandra sudah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan Indonesia yang pro republik, pro NKRI, yakni dengan melakukan efisiensi dalam pengembangan Blok Masela.

Tidak tanggung-tanggung, efisiensi dari kesepakatan investasi untuk Masela mencapai sekitar 5 juta dolar AS atau berkisar Rp 65 triliun.

Selain Masela melalui onshore, Arcandra juga mempunyai berkomitmen untuk pengembangan di Blok Mahakam dan Indonesia Deepwater Development (IDD) berikut kelistrikan dan mineral serta pertambangan.

“Publik juga tahu bagaimana pada awal menjabat sebagai Menteri ESDM, Archandra menyambangi Komisi Pemberantasan Korupsi untuk pembenahan internal ESDM,” imbuhnya.

Putra Minangkabau yang menghabiskan 20 tahun usianya di AS itu berkeinginan menutup setiap celah kemungkinan terjadinya tindak korupsi di sektor ESDM.

Profil Archandra tahar. Sumber Grafis: jawapos
Profil Archandra tahar. Sumber Grafis: jawapos

Semua itu, menurut Andre, dilakukan Arcandra semata-mata untuk membantu Presiden Joko Widodo dalam membangun Indonesia ke depan yang lebih baik. “Pengorbanan besar Archandra serasa menyakitkan bagi orang Minang ketika kemudian digugurkan Presiden Jokowi,” sesalnya.

Presiden Jokowi harus mencari langkah dan solusi ke depannya bagi Archandra berkontribusi bagi pembangunan Indonesia ke depan. Bukan menelantarkannya sehingga diambil dan dimanfaatkan kembali oleh negara lain.

Presiden juga, sambung dia, harus menjawab sendiri perihal pengangkatan dan pemberhentian Arcandra, bukan buang badan dan menyerahkan penjelasan pemberhentian Archandra kepada Mensesneg.

“Bagi kami orang Minangkabau, mau berpaspor manapun, orang Minang tetap orang Minang. Identitas Minangkabau tidak dibatasi dengan anda memegang paspor apa. Akan tetapi anda leluhur dan suku apa. bagi kami, Archandra tetap putra Minangkabau apapun parpornya,” tegas Andre yang juga politisi Gerindra. (rmol/iil/JPG)

Respon Anda?

komentar