Doa di Sidang MPR/DPR RI 16 Agustus 2016 Penuh Kritik dan Sindiran ke Pemerintah, Ini Kata Pembaca Doa

3348
Pesona Indonesia
Presiden Joko Widodo usai berpidato di rapat paripurna MPR RI, Selasa (16/8/2016). Foto: dok jpnn
Presiden Joko Widodo usai berpidato di rapat paripurna MPR RI, Selasa (16/8/2016). Foto: dok jpnn

batampos.co.id – Muhammad Syafi’i, anggota DPR dari Fraksi Gerindra yang diberi kepercayaan membaca doa di sidang paripurna DPR RI, 16 Agustus 2016 siang membuat gempar. Pidato itu langsung viral karena isi doanya yang dibacakan setelah pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo itu dipenuhi kritik dan sindiran terhadap kinerja pemerintah.

Syafi’i, mengatakan doa itu spontan. Ia tak membuat teks. “Enggak pakai. Muncul saja,” ujarnya di kompleks Parlemen Jakarta, Selasa (16/8/2016).

Tapi memang beberapa hari sebelumnya, Syafi’i mengaku sempat dimintain teks oleh Setjen DPR.  “Tapi saya bilang saya tidak pernah pidato atau baca doa pakai teks, tapi tergantung pada yang saya dengar yang saya lihat,” katanya

Sebelum naik podium membaca doa dalam forum yang dihadiri Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla dan banyak orang penting di negeri ini, Setjen DPR sempat bertanya kembali soal teks doanya. Tapi karena memang tidak punya, Syafi’i tetap dipersilahkan menjalankan tugas itu.

“Alhamdulillah dikasih hidayah sama Allah SWT,” tukas anggota Komisi III itu.

Soal isi doanya terkesan menyindir pemerintah, Syafi’i berdalih bahwa itu hanya refleksi kemerdekaan. Dia mengklaim hanya menyampaikan suasana kebatinan yang sebenarnya sedang dirasakan oleh masyarakat.

Kalaupun doanya itu akan disikapi negatif oleh pendukung Jokowi, Syafi’i mengaku menerima apapun risikonya. Tapi ia menegaskan bahwa apa yang dia ucapkan dalam dalam doa di forum kenegaraan itu bukan pesanan Partai Gerindra.

“Sama sekali tidak ada. Ya kan setiap tindakan ada resikonya. Kita kan ingin memperbaiki. Kan itu juga ditutup dengan kalimat, kalau bertobat, ya bagus. Tapi kalau tidak tobat kan, kita ini sudah sengsara,” tutur anggota Dewan Penasehat DPP Gerindra.

Mantan anggota DPRD Kota Medan itu juga berharap dengan doanya ada perbaikan pada sikap aparatur pemerintah. Tidak seperti sekarang, aparat negara dibuat berhadap-hadapan dengan rakyat.

“Jadi pemerintah itu harus memberi manfaat. Jangan malah memanfaatkan rakyat. Gitu lho maksudnya,” ujar Syafi’i, yang mengaku setelah membaca doa itu dia menerima setidaknya 300 SMS dan 78 kali panggilan masuk. Semua merespon positif.

“(Doa) itu curahan isi hati. Dan saya semalam juga dapat telepon dari Medan, bahwa tanah sengketa dengan AURI itu sudah dimenangkan oleh rakyat di PN, PT, dan MA. Sudah inkracht. Tapi rakyat malah dipaksa untuk hengkang, karena mereka mau bangun perumahan yang lain,” pungkas politikus yang selalu mengenakan peci itu.(fat/jpnn)

Respon Anda?

komentar