Doa di Sidang MPR/DPR RI 16 Agustus 2016 yang Menggemparkan, Pidato Jokowi Seolah Tenggelam

5827
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) di sidang MPR/DPR 16 Agustus 2016 lebih banyak menunjukkan keberhasilan.

Sebagai contoh soal pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatan pada triwulan pertama 2016, tumbuh 4,91 persen.

Bahkan triwulan kedua tahun ini, naik menjadi 5,18 persen. Angka ini tercatat yang tertinggi di banding negara-negara Asia. Ditambah, berkurangnya angka pengangguran.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai apa yang disampaikan presiden, tidak menggambarkan realitas di masyarakat, yang merasakan kehidupan semakin susah secara ekonomi, serta sulitnya mencari pekerjaan.

“Saya agak bingung juga, kok bisa pidatonya semua sangat bagus. Angka pengangguran berkurang, pertumbuhan meningkat, realitasnya masyarakat sangat sulit,” kata Fadli di gedung DPR Jakarta, Selasa (16/8/2016).

DPR, lanjut Wakil Ketua Umum Gerindra itu, mendukung upaya pemerintah melakukan percepatan pembangunan. Tapi, ia meminta pembiayaannya tidak dipaksakan melalui utang. Sebab, anggarannya tidak ada.

“Pembangunan infrastrukur yang dibiayai utang membuat kita berdosa pada generasi yang akan datang. Sangat berbahaya dalam jangka panjang. Harusnya konsentrasi pemerintah digerakkan ke pertanian, nelayan,” pintanya.

Nah, terlepas dari pidato Jokowi yang bagus-bagus itu, ada yang menarik di sidang itu. Pembacaan Doa yang dipimpin oleh Muhammad Syafi’i dari Fraksi Gerindra. Doanya menggambarkan kondisi terkini masyarakat Indonesia dan penuh dengan kritikan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tak seindah pidato Jokowi.

Berikur Teks Lengkap Doanya dan simak juga videonya:

“Seperti mata pisau yang hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas sehingga mengusik rasa keadilan bangsa ini. Wahai Allah, memang semua penjara overcapacity tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan karena kejahatan seperti diorganisir, ya Allah,”

“Kami tahu pesan dari sahabat Nabi Nuh, bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat bukan karena penjahat yang hebat tapi karena orang-orang baik belum bersatu atau belum mempunyai kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu,”

“Biarlah kehidupan ekonomi kami, Bung Karno sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. tapi hari ini, sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami,”

“Ya rabbal aalamin. Kehidupan sosial budaya, seperti kami kehilangan jati diri bangsa ini, yang ramah, yang santun, yang saling percaya. Kami juga belum tahu bagaimana kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa ini kalau suatu ketika bangsa lain menyerang bangsa kami. Ya Rahman ya Rahim, tapi kami masih percaya kepada-Mu, bahwa kami masih menadahkan tangan kepada-Mu, artinya Engkau adalah Tuhan kami, engkau adalah Allah YME,”

“Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat,”

“Dimana rakyat digusur tanpa tahu kemana mereka harus pergi. dimana-mana rakyat kehilangan pekerjaan, Allah di negeri ini rakyat ini outsourcing, tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat. Hari ini di Kota Medan di Sumut, 5000 KK sengsara dengan perlakuan aparat negeri ini,”

“Allah, lindungilah rakyat ini, mereka banyak tidak tahu apa-apa. Mereka percayakan kendali negera dan pemerintahan kepada pemerintah. Allah, kalau ada mereka yang ingin bertaubat, terimalah taubat mereka ya Allah. Tapi kalau mereka tidak brtaubat dengan kesalahan yang dia perbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negeri ini Ya Allah,”

(jpnn/republika)

Respon Anda?

komentar