Heroik, Dua WNI Kabur dari Sekapan Militan Abu Sayyaf Sebelum Dipenggal

2010
Pesona Indonesia
Muhammad Sofyan (tengah) saat diamankan ke Kantor Kepolisian Provinsi Sulu setelah berhasil menyelamatkan diri. Rekannya, Ismail, juga berhasil kabur dan diamankan di kepolisian yang sama. Foto: reuters/stringer
Muhammad Sofyan (tengah) saat diamankan ke Kantor Kepolisian Provinsi Sulu setelah berhasil menyelamatkan diri. Rekannya, Ismail, juga berhasil kabur dan diamankan di kepolisian yang sama. Foto: reuters/stringer

batampos.co.id -Entah didorong semangat Kemerdekaan RI atau karena takut dipenggal, dua dari tujuh warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina berhasil meloloskan diri.

Mereka adalah Muhammad Sofyan dan Ismail. Keduanya anak buah kapal (ABK) tugboat Charles 00 yang dirompak di perairan Tawi-Tawi pada 20 Juni 2016 lalu

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengonfirmasi kebenaran berita tersebut.

Pihak Indonesia langsung berkoordinasi dengan pemerintah Filipina untuk penanganan lebih lanjut. “Menlu sudah memperoleh konfirmasi mengenai bebasnya sandera tersebut,” katanya.

Sofyan ditemukan warga pukul 07.30, Rabu (17/8/2016) tepat di hari perayaan Kemerdekaan RI. Dia berenang dari area mangrove di dekat markas para perompak. Sementara itu, Ismail memilih jalur berbeda. Dia lari lewat jalur darat sampai akhirnya diselamatkan warga.

Juru bicara militer Filipina Mayor Filemon Tan seperti dikutip dari Reuters mengatakan Sofyan pertama kali ditemukan mengambang di laut oleh warga Pulau Jojo. Dia lolos dari maut setelah kabur di tengah kegelapan.

“Kami diberitahu ia berhasil melarikan diri dengan berjalan dan berenang ke laut,” kata Tan.

Ia menambahkan, Sofyan dan Ismail berhasil melarikan diri karena hendak dieksekusi penggal oleh militan yang menawannya. Sebab hingga 15 Agustus  yang merupakan batas akhir permintaan pemberian tebusan yang mereka minta tak juga dibayarkan.

Militan ini memang meminta tebusan Rp 600 miliar untuk membebaskan 7 ABK Tb Charles tersebut dengan tenggat waktu hingga tanggal 15 Agustus lalu.

“Kami tidak memiliki informasi tentang para tawanan lain tetapi pasukan di daerah diperintahkan untuk menggunakan segala cara untuk mencari dan menyelamatkan para sandera,” tambah Tan

Kapal Charles disandera kelompok Abu Sayyaf dalam perjalanan pulang dari Cagayan de Oro menuju Samarinda. Mereka melewati jalur merah karena bahan bakar yang dijatah perusahaan minim.

Padahal, sejak meningkatnya kasus penculikan, Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda menyarankan kapal lewat jalur aman. Yakni, melintasi Selat Samboga di Pulau Basilan, Filipina.

Namun, hal itu tidak mudah. Kapal membutuhkan lebih banyak bahan bakar karena harus menambah perjalanan sampai 12 jam. Bermodal pengalaman sebelumnya yang selalu aman saat mengantar batu bara, kru Charles nekat melewati perairan Tawi-Tawi. Nah, di sanalah mereka disergap kelompok Abu Sayyaf. Tujuh ABK disandera. Enam lainnya dilepas.

Grafis: bagus/jawapos
Grafis: bagus/jawapos

Mereka disandera bersama tiga ABK kapal LLD113/5/F berbendera Malaysia yang ditawan sejak minggu pertama Juli. Kaburnya Sofyan dan Ismail membuat sandera dari awak kapal milik PT Rusianto Bersaudara itu menyisakan nakhoda Ferry Arifin, Mahbrur Dahri, Edi Suryono, M. Nasir, dan Robin Piter.

Juru Bicara Markas Komando Mindanao Barat Mayor Filemon Tan mengatakan, Sofyan dan Ismail melarikan diri karena di­ancam akan dipenggal. Penyandera meminta tebusan Rp 65 miliar dengan batas waktu 15 Agustus. Namun, hingga deadline berlalu, permintaan itu tak dipenuhi.

Sofyan dan Ismail kini diamankan di Kantor Kepolisian Provinsi Sulu. Keduanya telah dicek kesehatan dan dinyatakan sehat. Rencananya, tadi malam mereka diterbangkan ke Kota Zamboanga dengan helikopter. “Jika cuaca buruk, mungkin besok pagi,” kata Filemon. (bil/dim/byu/c6/ca/jpg) 

Respon Anda?

komentar