Bupati Lingga Baca Puisi Bikin Merinding

895
Pesona Indonesia
Awe membacakan puisi. foto:hasbi/batampos
Awe membacakan puisi. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Bait puisi sang pujangga Chairil Anwar Kerawang-Bekasi menggelegar di Balai Agung Junjungan Negri, Bunda Tanah Melayu. Penggalan-penggalan puisi berisi tersebut memecah keheningan sambutan yang semula santai disampaikan Alias Wello, Bupati Lingga, pada malam kenegaraan tersebut, Rabu (17/8).

Kegiatan malam resepsi dan syukuran kemerdekaan RI ke 71 yang di gelar Pemkab Lingga tersebut, membuat merinding seluruh tetamu undangan yang hadir saat Awe panggilan akrab bupati Lingga beraksi dengan membaca puisi yang menggugah semangat kemerdekaan karya pujangga pejuang 45 tersebut. Dengan puisi, kata Awe, kemerdekaan dan perjuangan itu dapat digambarkan.

“Kami yang kini terbaring antara Kerawang-Bekasi Tidak Bisa teriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi. Kaulah lagi yang tentukan nilai tulangg-tulang berserakan Ataukah jiwa kami melayan untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan,” ucap Awe membacakan penggalan puisi CA yang sontak mendapat gemuruh tepukan tangan tetamu undangan yang hadir memberi apresiasi.

Untuk mendapat kemerdekaan, kata Awe, bukanlah sesuatu hal yang mudah. Keheningan detik-detik proklamasi, membuat semua jiwa merinding dalam hikmat.

“Kita melukiskan apa yang kita buat hari ini belum ada apa-apanya dibandingkan pejuang-pejuang kita merebut kemerdekaan. Mungkin bisa digambarkan dalam kalimat yang puitis sekali, bait puisin Kerawang Bekasi karya Chairil Anwar ini,” kata dia.

Isi dari penggalan puisi yang ia bacakan tersebut, memberi pesan dalam. “Bahwa perjuangan keras, keikhlasan, yang dipersembahkan ke NKRI ini hanya semangatlah yang dapat diwariskan kepada kita. Kita hanya mengisi dan terus mengisi dan berkarya nyata untuk kabupaten Lingga,” sambung Awe.

Jelang masa kerja 200 hari, Awe dalam kesempatan tersebut menyadari belum dapat melaksanakan amanah dan cita-cita kabupaten Lingga.

“Berbagai upaya dan baru sedikit yang kami sadar dapat kami persembahkan, tapi perjuan ini tentu membutuhkan kerja keras,” tukas Awe.

Dalam kegiatan tersebut, hadir juga Ismail Husein putra asli daerah Kabupaten Lingga, penerima penghargaan Kalpataru tahun 1992 dari Presiden Soeharto. Secara pribadi, Ismail Husein yang lebih dikenal dengan nama Ismail ‘Sungkai’ tersebut menyerahkan tropi Kalpatarunya kepada Pemkab Lingga untuk dipajang di Museum Lingga Cahaya, sebagai motivasi generasi muda agar terus berkarya dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Sebab, kesuksesan yang diraih Ismail juga tak lepas dari alam Lingga dalam bidang lingkungan hidup dan membudidaya Jeruk Jepara yang langka dan masih terdapat di Daik Lingga. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar