Kisah Gadis 16 Tahun yang Menderita Sumbing Wajah: Berharap Sembuh karena Ingin Sekolah

1341
Pesona Indonesia
Tutik Handayani ketika hendak menjalani operasi di Rumah Sakit Universitas Airlangga kemarin. Foto kiri, beberapa angle foto rontgen wajah Tutik. Foto: Ahmad Khusain/jawapos
Tutik Handayani ketika hendak menjalani operasi di Rumah Sakit Universitas Airlangga kemarin. Foto kiri, beberapa angle foto rontgen wajah Tutik. Foto: Ahmad Khusain/jawapos

batampos.co.id -Bibir sumbing sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Kasusnya cukup banyak, namun penderitanya bisa pulih dengan cepat lewa operasi  penambalan bagian yang sumbing.

Tak hanya itu, rata-rata penderita bibir sumbing lebnih percaya diri tampil kembali ke publik karena setelah operasi, sumbing itu hilang. Bahkan, jika operasinya dilakukan profesional, tak tampak jika penderitanya pernah mengalami bibir sumbing.

Namun bagaimana kalau yang sumbing itu wajah atau dikenal juga dengan istilah facial cleft? Ini tergolong penyakit langka, namun ada penderitanya.

Mereka yang menderita sumbing wajah umumnya memilih tidak keluar rumah karena bisa menjadi ejekan orang lain atau bahkan menakutkan orang lain. Kalaupun keluar rumah, pasti akan menutupi wajahnya agar tak terlihat orang lain.

Ya, itulah yang dialami oleh Tutik Handayani, seorang gadis 16 tahun asal Umajang. Ia  tidak akan keluar rumah tanpa kerudung. Ia membutuhkan kerudung untuk menutupi wajah. Dia tidak ingin wajahnya yang mengalami facial cleft membuat orang takut.

Tutik mengalami kelainan wajah itu sejak lahir pada 5 November 1999 di Lumajang. Wajahnya mengalami sumbing wajah. Namun, facial cleft yang dialami Tutik tidak seperti kebanyakan kasus. Parah.

Rahang atas Tutik tidak terbentuk sempurna. Karena itu, semua bagian atas giginya terlihat. Tidak ada bibir yang menutupi.

Mata gadis berambut lurus itu juga tidak sempurna. Kelopak matanya terbuka. Namun, bola matanya tidak bisa terlihat karena ada semacam lapisan yang menutupi.

“Semua takut kepada saya, makanya saya tidak bisa bersekolah,” kata Tutik kepada Jawa Pos (grup batampos.co.id) menjelang operasi di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Kamis (18/8/2016).

Karena rahang atas Tutik yang tidak sempurna, dibutuhkan effort ekstra untuk mengerti apa yang dikatakannya. Bicara Tutik tidak jelas karena bibir atasnya hanya tersisa bagian kanan dan kiri. Itu pun hanya selebar sekitar satu sentimeter. Sementara bibir bawahnya tertarik ke kiri. Untuk sekadar menutup mulut saja, Tutik mengalami kesulitan.

Tutik lahir dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh kasar. Membantu ekonomi keluarga, ibunya, Fatmawati, berjualan makanan di SD Uranggantung, Kecamatan Sukodono, Lumajang.

Ketika Tutik berusia 2 tahun, ayahnya meninggal. Tutik pun tidak pernah mendapat perawatan medis meski wajahnya mengalami kelainan.

“Toh, dia tidak pernah merasakan sakit dengan wajahnya yang seperti itu, makanya tidak pernah dibawa ke dokter,” kata Fatmawati yang mendampingi Tutik di Rumah Saki Umum Airlangga (RSUA) kemarin.

Penglihatan Tutik juga tidak berfungsi dengan normal. Dia tidak bisa melihat. Dari pemeriksaan ultrasonografi (USG), hanya bola mata kiri Tutik yang ada, namun tidak bisa menangkap cahaya. Buta.

Kondisi seperti itu tidak membuat Tutik menjadi anak yang hanya bisa merepotkan. Dia tetap mampu membantu ibunya. Ketika ibunya berjualan, dia merawat adik tirinya yang berumur 2 tahun. Mulai memandikan, mengganti baju, sampai menyuapi.

“Kalau menyuapi makan, saya menjulurkan tangan. Nanti adik yang mengarahkan tangan saya ke mulutnya,” papar Tutik.

Kesibukan merawat adik dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sudah cukup bagi Tutik untuk mengisi hari-harinya. Sebab, tidak mungkin dia keluar rumah dengan wajahnya yang mengerikan.

Suatu saat, dia pernah keluar. Teman-temannya mengejek. “Bahkan, ketika bertemu dengan anak kecil, mereka takut, menangis,” ungkap Tutik yang gemar makan sup.

Selama 16 tahun Tutik menjalani hidup dalam keterbatasan. Meski begitu, Tutik tumbuh menjadi sosok yang tabah. Dia sangat tegar. Saat dipotret dan diwawancarai Jawa Pos menjelang operasi di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Kamis (18/8/2016), dia sangat percaya diri.

“Tutik ini pada dasarnya periang dan suka bercerita. Kalau ngobrol dengan orang yang dia rasa baik, akan banyak ngomongnya,” jelas Fatmawati, ibunda Tutik.

Secercah harapan bagi Tutik untuk memiliki wajah yang lebih baik muncul sebulan lalu. Yakni, saat dia bertemu dengan dr Indri Lakhsmi Putri SpBP-RE(KKF).

Spesialis bedah plastik RSUA itu meminta Fatmawati membawa Tutik ke Surabaya untuk menjalani operasi. Operasi tidak bisa dilakukan di Lumajang karena peralatan kurang lengkap.

“Kami pun mengurus BPJS untuk Tutik,” ucap Fatmawati.

Tepat pukul 12.00 WIB kemarin, Tuti masuk ruang operasi RSUA. Dia ditangani empat dokter spe­sialis untuk menjalani tahapan pertama operasi mata dan rahang atas.

Operasi yang berjalan tujuh jam itu dipimpin dr Magda H. SpBP-RE(KKF). Tiga dokter lainnya adalah dr Putri, dr Nurdin Z. SpM, serta dr Prihatma SpAn. “Operasi berjalan lancar. Tiga hari lagi dia bisa pulang,” kata dr Putri.

“Kalau sudah sembuh nanti, saya ingin bersekolah,” ujar Tutik sebelum menjalani operasi. (lyn/ang)

Respon Anda?

komentar