Puisi Panjang itu Berjudul Batam Pos

744
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Semua bermula dari puisi. Keyakinan yang tak pernah berubah dari seorang Rida K Liamsi, budayawan Melayu sekaligus pendiri Batam Pos. Maka ketika masuk usia 18 tahun surat kabar harian yang digagasnya itu, Rida yakin seyakin-yakinnya bahwasanya sampai di usia ini juga adalah tabiat puisi.

“Kita semua adalah puisi. Kita tercipta dari puisi. Batam Pos pun puisi. Karena itu, jangan pernah menggusur puisi dari halaman Batam Pos,” ucap Rida sesaat sebelum potong tumpeng, pada malam puisi peringatan 18 tahun Batam Pos, di D’Patros Cafe, Harbour Bay, Batam, Kamis (18/8/2016).

Rida tidak sekadar berkata-kata. Tapi, ia juga melaksanakannya. Komitmen serta kesungguhan koran Batam Pos merawat, melestari, dan membangun budaya diwujudnyatakannya melalui kehadiran Jembia, suplemen budaya delapan halaman yang terbit setiap akhir pekannya.

Tak heran bila kemudian usia 18 tahun ini dirayakan dengan pesta kata-kata. Ada 18 penyair, 18 lukisan dan sejumlah musisi muda yang ambil bagian pada malam penuh bahagia Batam Pos dan seluruh jajarannya.

Dibuka oleh penampilan Nabila. Bocah gadis tujuh tahun yang mengentak gemerlap panggung lewat puisi Jebat gubahan Rida. Karena Batam Pos melaksanakan kata-kata melalui praktik jurnalismenya yang makin tahun makin berkilau, pesta malam puisi dibuka dengan sederet penyair yang punya latar belakang pewarta. Seturut-turut Abdul Kadir Ibrahim, Fatih Muftih, Yoan Sutrisna Nugaraha, Taufik Muntasir, dan Tarmizi Rumahitam menyajikan puisinya.

Agar menjaga antusiasme tetap menyala, ada Adi Lingkepin, musisi muda dari Tanjungpinang yang menunjukkan kepiawaiannya memainkan biola.

Rida K Liamsi foto: rezza herdiyanto / batampos
Rida K Liamsi
foto: rezza herdiyanto / batampos

Sederet-deret kemudian dilanjutkan puisi-puisi Zainal Anbiya, Barozi Alaika, Muhammad Febriyadi. Ketiganya adalah penyair muda dari Tanjungpinang yang tunak mengirim puisinya ke Batam Pos.

Giliran penyair kawakan yang unjuk kebolehan. Ada Ketua Dewan Kesenian Kepri Husnizar Hood, Ketua Dewan Kesenian Tanjungpinang Teja Alhabd, dan Heru Untung Leksono. Ketiganya bukan nama baru di jagat kepenyairan Tanjungpinang.

Buru-buru agar panggung tidak membisu, penampilan Rendra Setyadiharja, Al Mukhlis, dan Irwanto Rawi Al Mudin. Para penyair muda yang rela menyeberang dari Tanjungpinang untuk merayakan malam puisi Batam Pos. Dijeda pula aksi ciamik musik instrumen gubahan Rian Syahputra, Deni Okta Alfisyahri, dan Riski Maulana yang saling mengisi satu dengan yang lain.

Dan inilah penyair pamungkas. Penyair yang paling berbahagia di pesta kata-kata. Seorang penyair yang lebih dari sekadar ayah kebudayaan bagi penyair muda setelahnya. Tiada lain dan tiada dua adalah Rida.

Melalui pembacaan sepasang puisinya dalam judul Secangkir Kopi Sekanak dan Percakapan Gambus, Rida meyakinkan seluruh yang hadir di D’Patros Cafe, bahwa puisi tidak pernah mati dan senantiasa menyala. Tidak peduli seberapa banyak usia penyairnya. Tidak risau seberapa maju zamannya. Puisi tetap ada mengisi relung-relung jiwa.

Nilai semacam itu yang menguar selama Rida membacakan puisi bernuansakan sejarah Melayu melalui secangkir kopi dan gambusnya.

Sementara itu, tidak kalah turut berbahagia pada malam puisi kemarin adalah Ramon Damora. Ia adalah Direktur Yayasan Jembia Emas, sebuah lembaga nirlaba sayap usaha Batam Pos merawat budaya. Ramon menyatakan, keberadaan Jembia pada Batam Pos adalah bukti bahwa kata-kata adalah pondasi dari peradaban.

“Jika ingin melihat bangsa yang besar, lihat kepada bahasanya,” kata Ramon mengutip petikan Gurindam 12 Raja Ali Haji.

Besar harapan Ramon, 18 tahun ini hanyalah angka-angka dan akan selamanya terus bertambah sehingga Batam Pos terus hadir mewarnai segala dinamika Provinsi Kepulauan Riau sampai usia yang tak lagi berbilang dan tidak sekadar membangun arca.

“Kita semua di sini menolak sekaligus berharap tidak menjadi seperti apa yang Pak Rida tuliskan dalam puisinya, yang hanya menyaksikan waktu yang berhenti bertanya, sejarah yang berhenti ditulis, dan kita hanya membangun sebuah arca.” pungkas Ramon. (muf)

Respon Anda?

komentar